Menuju Musda HIPMI Kalbar, Ekosistem Kolaboratif Jadi Solusi Pengusaha Muda - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
LAZISMU Masjid At-Tanwir Santuni Fakir Miskin dan Salurkan Subsidi Sembako Murah Hari Kedua Pencarian, Tim SAR Gabungan Temukan Korban Sampan Motor Terbalik di Teluk Pakedai PC IPNU Kubu Raya Mulai Resah, Desak Kepastian Kongres IPNU Tim SAR Gabungan Cari Korban Hilang Akibat Sampan Terbalik Saat Memancing di Sungai Laut Tanjung Bunga Demokrasi di Tengah Bayang-Bayang Transaksi Politik Polresta Pontianak Ungkap Peredaran 1.562 Butir Ekstasi, Satu Tersangka Diamankan

Berita Kalbar

Menuju Musda HIPMI Kalbar, Ekosistem Kolaboratif Jadi Solusi Pengusaha Muda

badge-check


Menuju Musda HIPMI Kalbar, Ekosistem Kolaboratif Jadi Solusi Pengusaha Muda Perbesar

Gagasankalbar.com – Menuju Musyawarah Daerah (MUSDA) Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalimantan Barat (Kalbar) ke XVI Tahun 2025, Calon Ketua Umum, Ridho Adyt Setiawan menggagas Ekosistem Kolaboratif solusi pengusaha muda.

“Ekosistem Kolaboratif merupakan solusi pengusaha muda di Kalbar saat ini,” ucapnya pasca mengisi kuliah umum Menuju MUSDA BPD HIPMI KALBAR ke XVI Tahun 2025 di Gedung Confernce UNTAN Pontianak, Rabu 14 Mei 2025.

Ridho menjelaskan potensi pengusaha muda di Kalbar sangat besar, namun masih dibayangi oleh sejumlah kendala krusial. Di antaranya adalah terbatasnya akses permodalan.

Banyak pelaku usaha pemula kesulitan mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan karena kurangnya agunan dan rendahnya literasi keuangan dan Skema pembiayaan yang ada dinilai belum ramah bagi usaha kecil.

Tak hanya itu, minimnya literasi bisnis juga menjadi hambatan serius. Sebagian besar pengusaha muda belum memahami aspek penting seperti manajemen, pemasaran digital, pembukuan, hingga strategi produk.

“Tantangan lain juga datang dari sisi pemasaran. Masalah pengemasan dan branding yang kurang sesuai dengan selera pasar luar daerah juga turut mempengaruhi daya saing,” ungkapnya.

Ridho yang merupakan pengusaha muda di bidang properti dan periklanan ini juga menyoroti lemahnya budaya kolaborasi antar pengusaha muda.

Banyak pelaku usaha berjalan sendiri tanpa bergabung dalam komunitas bisnis seperti HIPMI atau inkubator digital.

Selain itu, keterbatasan infrastruktur digital, terutama di desa-desa yang belum terjangkau internet (sekitar 180 desa per 2024), semakin menghambat pemanfaatan e-commerce dan teknologi digital lainnya.

Persaingan dengan produk luar daerah, khususnya dari Pulau Jawa, juga menjadi sorotan.

Produk luar kerap unggul dari segi harga dan kualitas, sedangkan produk lokal bergantung pada bahan baku dari luar yang menambah biaya produksi.

“Tak kalah penting, masih banyak pelaku usaha yang belum mendapatkan informasi atau akses terhadap program bantuan pemerintah akibat birokrasi yang rumit,” pungkasnya.

Menjawab berbagai tantangan tersebut, Ridho menawarkan gagasan membangun ekosistem kolaboratif di Kalbar.

Menurutnya, ekosistem ini merupakan sinergi antara pengusaha, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat yang saling mendukung satu sama lain.

Tujuan utamanya adalah menciptakan peluang usaha bersama dan memberikan manfaat kolektif.

lanjut Ridho, Kalbar memiliki kekayaan alam dan potensi pasar yang besar, khususnya di sektor agribisnis, pariwisata, dan industri kreatif.

Namun semua potensi itu harus didukung oleh sistem yang kondusif dan berkelanjutan.

Ridho menekankan pentingnya peran pemerintah provinsi dalam memberikan kebijakan yang pro-pengusaha muda.

Misalnya, melalui pelatihan UMKM, insentif pajak, serta penyediaan fasilitas pendukung usaha.

“HIPMI Kalbar sendiri akan menjadi wadah yang aktif mempertemukan pengusaha muda dengan mentor, investor, dan jejaring bisnis lainnya melalui seminar dan pelatihan rutin,” tuturnya.

Beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan diantaranya melakukan Pelatihan dan Mentoring dengan memberikan pelatihan berkala di bidang digital marketing, keuangan, dan pengembangan produk.

Selain itu, menghadirkan mentor bisnis yang siap membimbing pengusaha muda.

Kemudian mendorong penggunaan platform digital untuk promosi dan efisiensi operasional usaha.

“Membangun jaringan kolaborasi yang melibatkan pelaku usaha dari beragam latar belakang agar tercipta sinergi yang kuat dan beragam peluang pasar,” katanya.

Terakhir ia menegaskan pengusaha muda memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi daerah.

Oleh karena itu, diperlukan inovasi berkelanjutan serta semangat kolaboratif untuk menciptakan ekosistem usaha yang sehat, saling menguntungkan, dan berkelanjutan di Kalimantan Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LAZISMU Masjid At-Tanwir Santuni Fakir Miskin dan Salurkan Subsidi Sembako Murah

31 Mei 2026 - 09:24 WIB

Tim SAR Gabungan Cari Korban Hilang Akibat Sampan Terbalik Saat Memancing di Sungai Laut Tanjung Bunga

30 Mei 2026 - 08:31 WIB

Rayakan Harlah ke-76, Umi Marzuqoh: Fatayat NU Kalbar Harus Memberdayakan Perempuan hingga ke Pelosok Desa

24 Mei 2026 - 02:09 WIB

Cornelis Dorong Internasionalisasi Dayak Lewat Kongres Literasi dan Dayak Book Fair 2026

14 Mei 2026 - 21:50 WIB

PWA Kalbar Soroti Pentingnya Budaya Sekolah Anti Kekerasan

14 Mei 2026 - 09:27 WIB

Trending di Berita Kalbar