80 Tahun Merdeka, Mandor Masih Sunyi - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Klarifikasi Terus, Kebijakannya Kapan Diperbaiki? Wilmar Kalimantan Barat Luncurkan “Cantigi Coffee”, Kopi Robusta Petani Pahauman, di Rakor Forum TSLP/CSR Kabupaten Landak Konflik Pertanahan dan Tata Kelola Agraria di Kalimantan Barat Peringati Hari Anak Nasional 2026, Wali Kota Pontianak Jamin Bantuan Medis dan Biaya Rujukan Bagi Anak Penyintas Kanker Perumda Aneka Usaha Menanjak Bahagia Promosikan Produk UMKM Kubu Raya di Borneo International Halal Showcase 2026 FIKPSI UM Pontianak dan LPKA Sungai Raya Teken Kerja Sama Pendampingan Anak Binaan di Hari Anak Nasional

Opini, Gagasan dan Analisis

80 Tahun Merdeka, Mandor Masih Sunyi

badge-check


80 Tahun Merdeka, Mandor Masih Sunyi Perbesar

GAGASANKALBAD.COM – Indonesia telah merdeka selama 80 tahun. Namun di Mandor, Kalimantan Barat, suara-suara yang hilang masih tertimbun sunyi. Di tanah itu, antara 1942 hingga 1944, lebih dari 21.037 jiwa – guru, ulama, dokter, bangsawan, hingga pemuka adat – dibantai oleh tentara Jepang. Mereka dihabisi tanpa pengadilan, tanpa nisan, tanpa suara.

Sebagaimana dampak pertama yang telah dituliskan di atas, kaum cerdik pandai yang dihilangkan Jepang sepanjang tahun 1943-1944 telah membuat daerah ini kehilangan generasi orang-orang terpelajar dan berpengaruh. Dari kalangan tenaga kesehatan antara lain: dr. Roebini dan dr. R.M Agoesdjam (Kepala dan Pegawai RS Umum Pontianak), dr. Soenarjo Martowardjojo (Kepala RS Jiwa Pontianak), dr. Luhulima (RS Umum Singkawang), dr. Raden Mas Achmad Diponegoro dan dr. R. Sunarjo Martowardoyo (Kepala dan Pegawai RS Umum Putussibau). Selain tenaga kesehatan, Jepang juga membunuh beberapa tokoh yang dikenal sebagai ahli/pekerja professional seperti Raden Sukrisno dan Sawon Wongso Oetomo (Jaksa), Raden Mas Soedijono (Operator Radio), Oeray Abdul Hamid (Pengawas Sekolah), dan Lim Bak Hwat (Kepala Sekolah Tionghoa). Sebenarnya masih banyak lagi orang-orang terpelajar seperti di atas yang dibunuh Jepang, terutama dari kalangan guru, tokoh-tokoh politik seperti Notosoedjono, Panangian Harahap, J.E Pattiasina, tokoh-tokoh Tionghoa, dan pemuka masyarakat lainnya. (Soedaro, dkk, 1978: 83)

Artikel yang ditulis oleh Andang Firmansyah, Edwin Mirzacherulsyah, Reyhan Ainun Yafi dengan judul “Propaganda Jepang dalam Surat Kabar Borneo Barat Shinbun Edisi Tahun 1942”. 14 Tulisan ini menjelaskan bagaimana Jepang melakukan propaganda saat menduduki Kalimantan Barat dalam surat kabar Borneo Barat Shinbun sebagai upaya untuk mengambil simpati warga Pontianak agar mau memberi dukungan Jepang dalam Perang Pasifik. Jepang juga massif memberitakan soal perekonomian, seperti pembukaan bank, pengaturan dan penggunaan uang dan hal-hal yang berkaitan dengan perekonomian masyarakat pada masa itu. Banyaknya dampak serta perubahan dalam struktur masyarakat yang terjadi akibat peristiwa ini memberikan gambaran kepada penulis pentingnya sebuah

informasi yang disebarkan ke masyarakat umum, apalagi melihat teknologi yang semakin maju tidak menjamin orang yang memiliki kesempatan mengakses informasi dari luar dapat menyerap info tersebut dengan baik dan benar. Tulisan ini penulis anggap sebagai salah satu alasan pentingnya

meningkatkan dan melestarikan sebuah peristiwa sejarah lokal lewat media, yang menarik dan mudah diakses bagi masyarakat luas.

Generasi emas Kalimantan Barat dilenyapkan, bukan karena bersenjata, tetapi karena mereka membawa cahaya: ilmu, kebijaksanaan, dan semangat kemerdekaan.

Ironisnya, tragedi Mandor nyaris tak tercatat dalam buku-buku sejarah nasional. Tak ada bab khusus, tak ada narasi utuh. Bahkan permintaan maaf resmi dari Jepang tak pernah datang – berbeda dengan negara lain yang sudah menerima pengakuan atas luka sejarahnya.

Apakah penderitaan Mandor tak cukup dalam untuk diakui?

Apakah darah di tanah Borneo kurang merah untuk diingat?

Kami, generasi pewaris ingatan, menuntut:

1. Tragedi Mandor dimasukkan ke dalam kurikulum sejarah nasional, agar generasi muda tak buta akan luka bangsanya sendiri.

2. Mandor dijadikan pusat edukasi sejarah anti-kekerasan, agar tragedi ini menjadi pelajaran, bukan sekadar kenangan yang memudar.

3. Pemerintah Indonesia secara resmi mendorong Jepang untuk mengakui dan meminta maaf atas tragedi kemanusiaan di Mandor, sebagaimana mereka telah lakukan kepada negara lain.

Mandor bukan tentang dendam. Ini tentang keadilan sejarah.

Bukan untuk membalas, tapi untuk memberi ruang bagi yang tak sempat bicara.

Bukan untuk menghidupkan luka, tapi untuk memberi penghormatan yang pantas.

Delapan dekade sudah Indonesia merdeka. Tapi Mandor, tempat suara-suara itu dikubur hidup-hidup, masih sunyi. Sudah saatnya kita mendengarkan mereka.

Oleh: Andri Pamane

Baca Lainnya

Klarifikasi Terus, Kebijakannya Kapan Diperbaiki?

23 Juli 2026 - 10:59 WIB

Konflik Pertanahan dan Tata Kelola Agraria di Kalimantan Barat

23 Juli 2026 - 02:21 WIB

Pendidikan Indonesia dan Paradoks Angka 20 Persen

22 Juli 2026 - 01:22 WIB

Terjebak Doomscrolling: Saat Algoritma Mengendalikan Respons Stres Otak

16 Juli 2026 - 23:38 WIB

Eksodus Kreatif: Menakar Fenomena ‘Brain Drain’ Anak Muda Kalbar ke Pulau Jawa

12 Juli 2026 - 22:29 WIB

Trending di Opini, Gagasan dan Analisis