GAGASANKALBAD.COM – Indonesia telah merdeka selama 80 tahun. Namun di Mandor, Kalimantan Barat, suara-suara yang hilang masih tertimbun sunyi. Di tanah itu, antara 1942 hingga 1944, lebih dari 21.037 jiwa – guru, ulama, dokter, bangsawan, hingga pemuka adat – dibantai oleh tentara Jepang. Mereka dihabisi tanpa pengadilan, tanpa nisan, tanpa suara.
Sebagaimana dampak pertama yang telah dituliskan di atas, kaum cerdik pandai yang dihilangkan Jepang sepanjang tahun 1943-1944 telah membuat daerah ini kehilangan generasi orang-orang terpelajar dan berpengaruh. Dari kalangan tenaga kesehatan antara lain: dr. Roebini dan dr. R.M Agoesdjam (Kepala dan Pegawai RS Umum Pontianak), dr. Soenarjo Martowardjojo (Kepala RS Jiwa Pontianak), dr. Luhulima (RS Umum Singkawang), dr. Raden Mas Achmad Diponegoro dan dr. R. Sunarjo Martowardoyo (Kepala dan Pegawai RS Umum Putussibau). Selain tenaga kesehatan, Jepang juga membunuh beberapa tokoh yang dikenal sebagai ahli/pekerja professional seperti Raden Sukrisno dan Sawon Wongso Oetomo (Jaksa), Raden Mas Soedijono (Operator Radio), Oeray Abdul Hamid (Pengawas Sekolah), dan Lim Bak Hwat (Kepala Sekolah Tionghoa). Sebenarnya masih banyak lagi orang-orang terpelajar seperti di atas yang dibunuh Jepang, terutama dari kalangan guru, tokoh-tokoh politik seperti Notosoedjono, Panangian Harahap, J.E Pattiasina, tokoh-tokoh Tionghoa, dan pemuka masyarakat lainnya. (Soedaro, dkk, 1978: 83)
Artikel yang ditulis oleh Andang Firmansyah, Edwin Mirzacherulsyah, Reyhan Ainun Yafi dengan judul “Propaganda Jepang dalam Surat Kabar Borneo Barat Shinbun Edisi Tahun 1942”. 14 Tulisan ini menjelaskan bagaimana Jepang melakukan propaganda saat menduduki Kalimantan Barat dalam surat kabar Borneo Barat Shinbun sebagai upaya untuk mengambil simpati warga Pontianak agar mau memberi dukungan Jepang dalam Perang Pasifik. Jepang juga massif memberitakan soal perekonomian, seperti pembukaan bank, pengaturan dan penggunaan uang dan hal-hal yang berkaitan dengan perekonomian masyarakat pada masa itu. Banyaknya dampak serta perubahan dalam struktur masyarakat yang terjadi akibat peristiwa ini memberikan gambaran kepada penulis pentingnya sebuah
informasi yang disebarkan ke masyarakat umum, apalagi melihat teknologi yang semakin maju tidak menjamin orang yang memiliki kesempatan mengakses informasi dari luar dapat menyerap info tersebut dengan baik dan benar. Tulisan ini penulis anggap sebagai salah satu alasan pentingnya
meningkatkan dan melestarikan sebuah peristiwa sejarah lokal lewat media, yang menarik dan mudah diakses bagi masyarakat luas.
Generasi emas Kalimantan Barat dilenyapkan, bukan karena bersenjata, tetapi karena mereka membawa cahaya: ilmu, kebijaksanaan, dan semangat kemerdekaan.
Ironisnya, tragedi Mandor nyaris tak tercatat dalam buku-buku sejarah nasional. Tak ada bab khusus, tak ada narasi utuh. Bahkan permintaan maaf resmi dari Jepang tak pernah datang – berbeda dengan negara lain yang sudah menerima pengakuan atas luka sejarahnya.
Apakah penderitaan Mandor tak cukup dalam untuk diakui?
Apakah darah di tanah Borneo kurang merah untuk diingat?
Kami, generasi pewaris ingatan, menuntut:
1. Tragedi Mandor dimasukkan ke dalam kurikulum sejarah nasional, agar generasi muda tak buta akan luka bangsanya sendiri.
2. Mandor dijadikan pusat edukasi sejarah anti-kekerasan, agar tragedi ini menjadi pelajaran, bukan sekadar kenangan yang memudar.
3. Pemerintah Indonesia secara resmi mendorong Jepang untuk mengakui dan meminta maaf atas tragedi kemanusiaan di Mandor, sebagaimana mereka telah lakukan kepada negara lain.
Mandor bukan tentang dendam. Ini tentang keadilan sejarah.
Bukan untuk membalas, tapi untuk memberi ruang bagi yang tak sempat bicara.
Bukan untuk menghidupkan luka, tapi untuk memberi penghormatan yang pantas.
Delapan dekade sudah Indonesia merdeka. Tapi Mandor, tempat suara-suara itu dikubur hidup-hidup, masih sunyi. Sudah saatnya kita mendengarkan mereka.
Oleh: Andri Pamane









