Opini – Kalau bicara tentang anak muda, biasanya identik dengan energi, kreativitas, dan tentu saja semangat kompetisi. Begitu juga dengan KNPI – Komite Nasional Pemuda Indonesia – yang sejak lahir tahun 1973 memang dimaksudkan sebagai wadah besar bagi pemuda dari berbagai latar belakang.
Di Pontianak, KNPI kerap digadang-gadang sebagai ruang kontribusi generasi muda untuk membuktikan diri. Bukan hanya tempat kumpul-kumpul, tapi seharusnya jadi laboratorium ide dan tindakan nyata.
Kata Bung Karno dulu, “Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia.” Kalimat ini masih relevan hari ini, terutama ketika melihat dinamika kepemimpinan KNPI di daerah.
Nah, menariknya, di Kota Pontianak muncul fenomena “adu kecepatan” dua kepemimpinan DPD KNPI. Sama-sama mengklaim sebagai representasi anak muda, sama-sama ingin menjadi motor perubahan, tapi justru memperlihatkan betapa besarnya gairah anak muda untuk membangun daerah.
Pertanyaannya: energi besar ini akan benar-benar diarahkan untuk kemajuan, atau justru habis dihabiskan untuk tarik-menarik kepentingan?
Masa bakti 2025–2028 bagi DPD KNPI Kota Pontianak bisa jadi momentum emas.
Apalagi di era ketika politik lokal dan pembangunan kota membutuhkan inovasi segar dari kalangan muda. Namun, jika adu cepat hanya jadi lomba gengsi, khawatirnya peluang emas ini berubah jadi arena ego.
KNPI mestinya bukan soal siapa paling duluan deklarasi, siapa paling ramai bikin acara, atau siapa paling kencang teriak di media. Lebih dari itu, KNPI harus kembali ke ruh awalnya: jadi rumah bersama pemuda, tempat ide-ide lahir dan diwujudkan untuk masyarakat.
Jadi, adu kecepatan boleh saja. Tapi jangan sampai lupa: yang dibutuhkan Pontianak bukan sekadar “cepat”, melainkan “tepat”. Karena sejarah selalu mencatat, perubahan besar lahir bukan dari siapa yang paling ribut, melainkan dari siapa yang paling konsisten bekerja.










