Siswa Nakal Dibawa ke Barak Militer, Pengamat Sosial Tawarkan Alternatif: Rumah Pemberdayaan Anak-Anak Terlantar - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Australia Taklukkan Turki 2-0 di Penyisihan Grup D Piala Dunia 2026 Skotlandia Amankan Tiga Poin Perdana, Taklukkan Haiti 1-0 di Grup C Piala Dunia 2026 Polsek Belitang Hilir Bongkar Arena Sabung Ayam di Dusun Beruduk Qatar Selamat dari Kekalahan, Tahan Imbang Swiss 1-1 di Grup B Brasil Ditahan Imbang Maroko 1-1 di Laga Perdana Grup C Piala Dunia 2026 Zuri Hotel Management Himpun 600 Kantong Darah

Nasional

Siswa Nakal Dibawa ke Barak Militer, Pengamat Sosial Tawarkan Alternatif: Rumah Pemberdayaan Anak-Anak Terlantar

badge-check


Siswa Nakal Dibawa ke Barak Militer, Pengamat Sosial Tawarkan Alternatif: Rumah Pemberdayaan Anak-Anak Terlantar Perbesar

KUBU RAYA,  GAGASANKALBAR.COM– Langkah sejumlah pemerintah daerah yang membawa siswa-siswa bermasalah ke barak militer menuai sorotan publik. Kebijakan tersebut dinilai terlalu represif dan dapat berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak. Rabu, (14/05/2025).

 

Menanggapi fenomena ini, pengamat sosial M.Tohir, S.Sos, mengusulkan pendekatan alternatif berupa pendirian Rumah Pemberdayaan Anak-Anak Terlantar.

 

Menurutnya, rumah pemberdayaan ini bisa menjadi tempat yang lebih edukatif dan manusiawi dalam membina anak-anak dengan masalah kedisiplinan atau perilaku.

 

“Alih-alih membawa mereka ke lingkungan militer yang kaku, anak-anak ini seharusnya mendapatkan pendekatan yang berbasis pemahaman psikologis dan sosial. Rumah pemberdayaan bisa berfungsi sebagai tempat rehabilitasi karakter, bukan tempat hukuman,” ujarnya.

 

Ia juga menekankan pentingnya pelibatan tenaga pendidik, psikolog anak, serta fasilitator komunitas dalam pengelolaan rumah pemberdayaan tersebut. Dengan pendekatan yang tepat, siswa yang dianggap “nakal” justru bisa diarahkan menjadi agen perubahan di lingkungannya.

 

Langkah ini dinilai sejalan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dan prinsip pendidikan inklusif. Pemerintah daerah didorong untuk lebih cermat dalam memilih metode pembinaan anak agar tidak justru memperburuk kondisi mental dan sosial mereka.

 

Pengamat Kebijakan Pendidikan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Subarsono, MSi, MA juga menanggapi kebijakan tersebut seperti lari maraton yang tampak tergesa-gesa tanpa proses persiapan lebih dahulu. Terutama berkaitan dengan perlunya diskusi dengan pemangku dari berbagai disiplin.

 

“Akan sangat ideal kalau sebelumnya, dari sisi provider atau pemerintah daerah menyelenggarakan diskusi bersama dengan para pemangku kepentingan dari berbagai disiplin, seperti birokrat dari Kemendikdasmen, para guru, para psikolog, pakar pendidikan, di samping militer untuk menentukan kurikulum yang ideal untuk terapi para siswa yang nakal,” paparnya dikutip, Rabu (14/05/2025). RED

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bigetron Melaju ke Grand Final MPL ID Season 17, Tumbangkan Geek Fam 4-1 dan Amankan Tiket MSC 2026

13 Juni 2026 - 10:41 WIB

Gugatan Polri di Bawah Kementerian Dicabut, Pemohon Percaya Tim Reformasi Polri

4 Juni 2026 - 08:39 WIB

Tokoh Muda dan Pengusaha Bahas Masa Depan HIPMI di Surabaya

21 Mei 2026 - 22:41 WIB

Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya Bersilaturahmi ke Kediaman Hubabah Annisa Alhaddad

14 Mei 2026 - 09:24 WIB

Dukung Krakatau Steel, GMNI Minta Pemerintah Lindungi Industri Baja Nasional

13 Mei 2026 - 11:23 WIB

Trending di Nasional