Gagasankalbar.com – Arus bawah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menyuarakan desakan kuat agar seluruh elemen organisasi segera mengimplementasikan poin-poin kesepakatan persatuan secara total, khususnya di Kalimantan Barat. Desakan ini muncul pasca momentum Rekonsiliasi DPP GMNI yang berlangsung di Bali pada akhir tahun 2025 lalu.
Dorongan tersebut dimotori berbagai Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI dari seluruh Indonesia yang menginginkan kepemimpinan tunggal di bawah Muhammad Risyad Fahlefi sebagai Ketua Umum dan Patra Dewa sebagai Sekretaris Jenderal, sesuai hasil konsensus rekonsiliasi nasional.

Arus bawah GMNI juga menuntut diakhirinya segala bentuk dualisme kepengurusan di tingkat daerah maupun cabang. Sinkronisasi administrasi organisasi dinilai penting agar GMNI kembali memiliki satu komando yang solid dalam mengawal isu-isu kerakyatan dan perjuangan kaum Marhaen.
Fokus utama desakan tersebut merujuk pada hasil kesepakatan yang ditandatangani di Hotel Inna Bali Heritage, Denpasar. Gaung persatuan itu kini terus menyebar melalui konsolidasi komisariat dan cabang di berbagai daerah sepanjang kuartal pertama tahun 2026.
Kader GMNI menilai fragmentasi internal selama ini telah menghambat daya dobrak organisasi dalam merespons berbagai kebijakan nasional. Energi kader di tingkat bawah dianggap terlalu banyak terkuras akibat konflik internal, sementara tantangan ideologis dan ancaman terhadap kaum Marhaen semakin nyata.
Ketua DPC GMNI Pontianak, Dhika, menegaskan bahwa persatuan yang digagas dalam rekonsiliasi Bali bukan sekadar formalitas organisasi.
“Persatuan yang digagas di Bali tahun 2025 bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan sebuah mandat moral bagi seluruh kader. Keberhasilan rekonsiliasi ini akan menjadi tolok ukur apakah GMNI mampu bertransformasi menjadi organisasi mahasiswa yang modern tanpa kehilangan jati diri nasionalisnya,” ungkap Dhika saat ditemui, Rabu (13/5/2026).
Ia juga menyampaikan harapan besar agar seluruh kader GMNI segera bersatu demi memperkuat perjuangan organisasi ke depan.
“Para Marhaenis harus kembali bersatu sesuai semangat dalam Mars GMNI, ‘Bersatulah segera, Marhaen pasti menang’. Ini menjadi momentum penting untuk mengakhiri perpecahan dan kembali fokus pada perjuangan rakyat,” tutupnya. *(Ewok)
















