Remaja Masjid dan Tantangan Komunikasi di Era Digital: Menjaga Dakwah di Tengah Arus Media Sosial - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Antusiasme Warga Serbu Bazar Sembako Murah Perumda Aneka Usaha Menanjak Bahagia, Seluruh Paket Ludes Terjual Semarak HUT ke-19 Kubu Raya, Puskesmas Punggur Ajak Warga Hidup Sehat Lewat Senam GERMAS Derahman: Semangat Gotong Royong Jadi Kekuatan Hadapi Tantangan Fiskal Kubu Raya Banggar DPR RI Dorong Bank Indonesia Kalbar Perkuat Deteksi Dini Ekonomi dan Pengembangan UMKM Daerah Banggar DPR RI Dorong Penguatan Transfer ke Daerah dan Optimalisasi APBN untuk Pembangunan Kalimantan Barat Nelayan Hilang Kontak di perairan Teluk Cina Pulau Lemukutan di temukan dalam keadaan selamat oleh tim SAR Gabungan

Opini, Gagasan dan Analisis

Remaja Masjid dan Tantangan Komunikasi di Era Digital: Menjaga Dakwah di Tengah Arus Media Sosial

badge-check


Remaja Masjid dan Tantangan Komunikasi di Era Digital: Menjaga Dakwah di Tengah Arus Media Sosial Perbesar

Gagasankalbar.com – Di era digital seperti sekarang, remaja masjid tidak hanya menjadi jamaah yang aktif dalam kegiatan keagamaan secara fisik, tetapi juga agen komunikasi digital yang memiliki peran strategis dalam membentuk citra masjid dan menyebarkan nilai-nilai Islami kepada generasi yang lebih luas.

Digitalisasi telah mentransformasikan cara kita berinteraksi, belajar, dan berdakwah; media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi ruang komunikasi utama bagi kaum muda Muslim.

Peran remaja masjid di media sosial kini bukan sekadar ikut aktif atau mengonsumsi konten, tetapi juga menciptakan konten digital yang bermakna. Mereka memiliki peluang besar untuk memperluas jangkauan dakwah dengan membuat video pengajian singkat, pesan ayat dan hadis yang kontekstual, hingga diskusi etika dan moral yang menarik bagi generasi Z.

Hal ini sejalan dengan kesimpulan bahwa media sosial membantu memperkuat peran keagamaan dan sosial masjid, terutama dalam menarik minat generasi muda.

Namun, tantangan komunikasi di era digital juga nyata. Media sosial membuka ruang yang sangat bebas, termasuk penyebaran informasi yang tidak selalu akurat atau sesuai nilai Islam. Konten hoaks, kebencian, dan perilaku negatif dapat merusak etika komunikasi seorang muslim jika tidak berhadapan dengan literasi digital yang baik.

Riset menunjukkan bahwa tanpa pembekalan etika dan pendidikan agama yang kuat, penggunaan media sosial dapat memicu pelanggaran nilai etika komunikasi Islam.

Oleh karena itu, remaja masjid perlu dibekali dengan literasi digital Islami—kemampuan untuk menilai secara kritis konten, memahami algoritma media sosial, serta memproduksi konten yang tidak hanya menarik tetapi juga benar dan beretika. Kegiatan pelatihan, workshop, hingga diskusi kelompok di masjid bisa menjadi sarana penting dalam membangun kecakapan ini.

Singkatnya, masjid remaja berada di garis depan komunikasi dakwah digital. Mereka bukan sekedar sekedar informasi konsumen, namun juga produsen pesan dakwah yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan budaya digital masa kini.

Dengan literasi media yang kuat, etika komunikasi yang matang, dan kreativitas dalam bermedia sosial, remaja masjid bisa menjadi teladan dalam menjawab tantangan komunikasi di era digital.

Oleh : Samsul
(Kepala Bidang Kominfo Remaja Mujahidin Kalbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Terjebak Doomscrolling: Saat Algoritma Mengendalikan Respons Stres Otak

16 Juli 2026 - 23:38 WIB

Eksodus Kreatif: Menakar Fenomena ‘Brain Drain’ Anak Muda Kalbar ke Pulau Jawa

12 Juli 2026 - 22:29 WIB

Ramai di Warkop, Sepi di Rekening: Potret Sandwich Generation di Pontianak

7 Juli 2026 - 23:11 WIB

Surplus Produksi, Defisit Kesejahteraan: Namun Petani Indonesia Tetap Kalah di Negeri Sendiri

22 Juni 2026 - 00:51 WIB

Paradoks Pertanian Indonesia: Tulang Punggung Pangan, Namun Hidup dalam Kemiskinan

19 Juni 2026 - 01:57 WIB

Trending di Opini, Gagasan dan Analisis