Breaking News

Berita Kalbar

Pro Kontra, Representasi pelaku seni Kalbar Tanyakan Urgensi Pembangunan Coworking Space di Taman Budaya

badge-check

Pro Kontra, Representasi pelaku seni Kalbar Tanyakan Urgensi Pembangunan Coworking Space di Taman BudayaPerbesar

Pontianak –Sebuah catatan dari hasil pertemuan anggota Bamusbud Kalbar, menyikapi pemberitaan dan undangan pertemuan dari Dikbud Kalbar mengenai Taman Budaya. Beberapa rilisan berita lokal Kalimantan Barat yang santer belakangan ini mengenai rencana pembangunan “coworking space” di kawasan Taman Budaya oleh pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Barat dimana hal ini memang merupakan salah satu upaya perwujudan dari salah satu janji politik mereka, yaitu: “Menghidupkan kembali Taman Budaya Provinsi Kalimantan Barat”.

Namun, alih-alih menghidupkan kembali Taman Budaya, rencana pembangunan coworking space ini menuai pro dan kontra. Di satu sisi, fasilitas ini dianggap dapat mendukung kreativitas generasi muda; di sisi lain, banyak pihak mempertanyakan urgensi pembangunannya, terutama ketika kebutuhan mendesak seperti renovasi atau pembangunan gedung pertunjukan tertutup, gedung musik, dan gedung tari justru terabaikan

Bamusbud sebagai representasi pelaku seni telah menyatakan penolakan terhadap proyek ini. Menurut mereka, pembangunan “coworking space” tidak hanya tidak sesuai dengan fungsi Taman Budaya, tetapi juga mengabaikan aspirasi seniman yang selama ini berjuang dengan fasilitas yang minim.

“Pembangunan ini harus dibatalkan dan ditinjau ulang. Pemerintah perlu berdialog dengan pelaku seni untuk benar-benar memahami kebutuhan mendesak di lapangan, bukan memaksakan proyek yang justru tidak menjadi prioritas,” tegas perwakilan Bamusbud. Sabtu, (6/4/2025)

Dialog terbuka harus segera digelar untuk memetakan kebutuhan riil, sehingga anggaran negara benar-benar digunakan untuk hal yang berdampak langsung pada kemajuan seni dan budaya.

Alih-alih membangun coworking space, lebih baik dana dialihkan untuk:

1. Renovasi gedung pertunjukan yang rusak dan tidak nyaman.

2. Pembangunan gedung musik dan tari yang memenuhi standar akustik dan kenyamanan.

3. Penyediaan ruang latihan yang layak bagi komunitas seni.

Pembangunan coworking space di Taman Budaya adalah contoh ketimpangan prioritas. Jika pemerintah serius memajukan kebudayaan, seharusnya mendengarkan suara pelaku seni dan mengalokasikan anggaran untuk infrastruktur yang benar-benar mendukung ekosistem seni. Bamusbud Kalbar sudah mengambil sikap tegas—kini saatnya pemerintah membatalkan proyek ini dan mengkaji ulang melalui dialog inklusif.

Polemik ini memunculkan pertanyaan tentang arah pengelolaan ruang kreatif ke depan: apakah tetap sebagai ruang budaya, atau bertransformasi menjadi ruang bisnis? Yang pasti, keseimbangan antara idealisme seni dan kebutuhan ekonomi menjadi tantangan tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

IMABA Kalbar Ziarah ke Makam Juang Mandor, Napak Tilas Sejarah dan Mengenang Korban Tragedi 1942

26 Agu 2026 - 02:36 WIB

IMABA Kalbar Ziarah ke Makam Juang Mandor, Napak Tilas Sejarah dan Mengenang Korban Tragedi 1942

Posbakum Aisyiyah Kalbar Berikan Layanan Bantuan Hukum Gratis bagi Masyarakat

26 Agu 2026 - 02:29 WIB

Posbakum Aisyiyah Kalbar Berikan Layanan Bantuan Hukum Gratis bagi Masyarakat

Kuasa Hukum Minta Polres Sambas Percepat Penanganan Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak

22 Agu 2026 - 11:09 WIB

Kuasa Hukum Minta Polres Sambas Percepat Penanganan Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak

HWCI Kalbar Kecam Dugaan Kejahatan Seksual terhadap Anak di Sambas

20 Agu 2026 - 06:59 WIB

HWCI Kalbar Kecam Dugaan Kejahatan Seksual terhadap Anak di Sambas

BEM Seka Kalbar dan HMI Komdak Bagikan 10.000 Masker di Hari Kemerdekaan

18 Agu 2026 - 12:09 WIB

BEM Seka Kalbar dan HMI Komdak Bagikan 10.000 Masker di Hari Kemerdekaan
Trending di Berita Kalbar