Fenomena “Brave Pink, Hero Green”: Simbol Solidaritas atau Polarisasi? - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Antusiasme Warga Serbu Bazar Sembako Murah Perumda Aneka Usaha Menanjak Bahagia, Seluruh Paket Ludes Terjual Semarak HUT ke-19 Kubu Raya, Puskesmas Punggur Ajak Warga Hidup Sehat Lewat Senam GERMAS Derahman: Semangat Gotong Royong Jadi Kekuatan Hadapi Tantangan Fiskal Kubu Raya Banggar DPR RI Dorong Bank Indonesia Kalbar Perkuat Deteksi Dini Ekonomi dan Pengembangan UMKM Daerah Banggar DPR RI Dorong Penguatan Transfer ke Daerah dan Optimalisasi APBN untuk Pembangunan Kalimantan Barat Nelayan Hilang Kontak di perairan Teluk Cina Pulau Lemukutan di temukan dalam keadaan selamat oleh tim SAR Gabungan

Nasional

Fenomena “Brave Pink, Hero Green”: Simbol Solidaritas atau Polarisasi?

badge-check


Fenomena “Brave Pink, Hero Green”: Simbol Solidaritas atau Polarisasi? Perbesar

Gagasankalbar.com – Gerakan solidaritas bertajuk “Brave Pink, Hero Green” tengah menjadi tren di media sosial. Ribuan pengguna mengganti foto profil mereka dengan nuansa merah muda dan hijau sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan sipil yang mencuat pasca demonstrasi besar di depan Gedung DPR RI pada 28 Agustus 2025.

Warna pink dalam gerakan ini merujuk pada sosok Ibu Ana, seorang perempuan berjilbab merah muda yang berdiri di garis depan aksi unjuk rasa. Aksinya yang berani menghadapi aparat dengan mengibarkan bendera Merah Putih menjadi ikon visual yang viral di berbagai platform digital. Sementara itu, warna hijau diambil dari jaket yang dikenakan Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas tertabrak kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi berlangsung.

Kedua warna ini kemudian menjadi simbol keberanian sipil dan solidaritas rakyat kecil. Gerakan ini juga dikaitkan dengan kampanye “17+8 Tuntutan Rakyat” yang disusun oleh sejumlah influencer seperti Jerome Polin, Andovi da Lopez, Andhyta F. Utami, Abigail Limuria, dan Fathia Izzati dan lainnya. Tuntutan tersebut mencakup reformasi institusi, transparansi anggaran, hingga perlindungan terhadap hak-hak sipil dan pekerja.

Meski banyak dipuji sebagai simbol perlawanan, gerakan ini tidak luput dari kontroversi. Beberapa video deepfake yang beredar di media sosial menampilkan sosok Ibu Ana dengan ujaran bernada kasar dan provokatif, termasuk seruan yang dinilai rasis dan penuh kebencian. Meski belum terverifikasi secara resmi, kemunculan konten semacam ini memicu perdebatan publik mengenai otentisitas simbol dan potensi manipulasi narasi.

Fenomena “Brave Pink, Hero Green” menunjukkan bagaimana kekuatan visual dan narasi digital dapat membentuk solidaritas publik. Namun, di tengah semangat perlawanan, penting bagi masyarakat untuk tetap kritis terhadap konten yang beredar dan memastikan bahwa simbol perjuangan tidak kehilangan makna karena distorsi atau kepentingan politik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

UM Metro Kirim Empat Mahasiswa ke Akademi Sejarawan Muhammadiyah Batch 1 di Yogyakarta

16 Juli 2026 - 00:05 WIB

Inovasi Wondr by BNI: Fitur Canggih Ini Otomatis Blokir Transaksi Saat Ada Telepon Masuk

4 Juli 2026 - 06:21 WIB

Perangi Pinjol Ilegal, AFPI dan PWI Siapkan Kerja Sama Literasi Keuangan

19 Juni 2026 - 02:15 WIB

Diskusi di UGM Ricuh, Mahasiswa Geruduk Acara dan Hadang Kendaraan Pejabat

16 Juni 2026 - 12:04 WIB

Dekan Fakultas Hukum UM Pontianak Raih Predikat Wisudawan Terbaik PDIH UNISSULA

15 Juni 2026 - 13:40 WIB

Trending di Nasional