Gagasankalbar.com – Foto itu muncul di beranda saya suatu malam. Empat orang dewasa duduk mengelilingi meja kayu. Ada piring. Ada gelas. Ada makanan yang tidak terlihat mewah. Salah satu dari mereka adalah perdana menteri. Dua yang lain juga perdana menteri. Satu lagi presiden.
Saya pikir: ini foto arisan.
Tapi ternyata ini diplomasi. Mereka sedang membicarakan Greenland, keamanan kawasan, dan ancaman dari Amerika Serikat. Hal-hal besar itu dibicarakan di atas meja yang kelihatannya beli di IKEA.
Ada teman saya yang pernah bilang, orang Indonesia itu susah percaya pada pemimpin yang tampak miskin. Maksudnya bukan miskin harta, tapi miskin gaya. Kalau pemimpinnya tidak pakai jas mahal, tidak duduk di kursi yang punggungnya tinggi seperti singgasana, tidak difoto dengan latar belakang bendera yang jumlahnya dua belas, maka pemimpin itu dianggap tidak serius.
Saya tidak tahu apakah teman saya benar. Tapi saya curiga ia tidak sepenuhnya salah.
Yang menarik dari foto itu bukan kesederhanaannya. Banyak orang yang sederhana karena tidak punya pilihan lain.
Yang menarik adalah: mereka memilih itu.
Mette Frederiksen, perempuan yang menjamu makan malam itu, adalah perdana menteri negara yang cukup kaya untuk menyewa ballroom dan memesan katering. Tapi ia mengundang tiga kepala negara tetangganya ke rumahnya sendiri. Duduk. Makan. Bicara.
Tanpa protokol yang berlebihan. Tanpa kamera yang sudah diatur sudutnya sejak pagi.
Saya pernah baca bahwa orang-orang Nordik punya konsep yang namanya hygge, kira-kira artinya: kenyamanan yang hangat, kebersamaan yang tidak perlu dirayakan secara berlebihan. Bukan kemewahan. Bukan pertunjukan. Hanya: ada, bersama, cukup.
Saya tidak tahu apakah konsep itu benar-benar hidup dalam keseharian mereka atau hanya terdeniri bagus di buku-buku terjemahan yang dijual di toko kopi. Tapi foto meja makan itu terasa seperti bukti yang sulit dibantah.
Kadang saya berpikir: betapa banyak energi yang kita habiskan untuk terlihat penting, padahal pekerjaan yang sesungguhnya tidak pernah peduli pada penampilan kita.
Masalah tidak akan selesai lebih cepat hanya karena ruang rapatnya lebih megah. Keputusan tidak otomatis lebih bijak hanya karena diambil di atas meja antik dengan ukiran di kakinya.
Tapi kita tetap saja percaya pada kemewahan itu. Atau paling tidak, kita tetap memintanya.
Foto empat pemimpin Nordik itu viral. Orang-orang berkomentar kagum, terharu, bahkan sedikit iri.
Saya rasa yang membuat kita iri bukan mejanya. Bukan makanannya. Bukan pula rumah sang perdana menteri yang sederhana itu.
Yang membuat kita iri adalah: betapa ringannya mereka tampak. Betapa mereka tidak perlu membuktikan apa-apa selain hadir dan bekerja.
Entah kapan kita bisa seperti itu. Tapi pertanyaan itu, saya rasa, sudah cukup untuk dibawa pulang malam ini.
Penulis: Muhammad Iqbal, S.M.










