Gagasankalbar.com – Dalam hierarki dunia kerja Indonesia, ada satu profesi yang tidak pernah masuk di pameran job fair, tidak ada jurusannya di perguruan tinggi, tapi omzetnya bisa mengalahkan gaji manajer BUMN. Profesi itu bernama: Belukar.
Bagi yang asing, belukar dalam bahasa tender dan proyek adalah sebutan untuk makelar, calo, alias perantara. Kalau belukar di hutan itu semak-semak yang bikin nyasar, belukar di dunia proyek adalah manusia-manusia yang bikin alur birokrasi yang tadinya lurus jadi berbelok-belok—tentu saja demi fee persentase.

Banyak orang bilang, belukar ini bisnis paling enak di dunia karena “modal air liur doang”.
Beli kopi sasetan di warkop, duduk manis sambil mainan HP dua kartu, tiba-tiba dapat komisi ratusan juta cuma karena berhasil mengenalkan Pak Haji pemborong dengan Mas Pejabat pembuat komitmen. Tidak perlu menyewa kantor, tidak perlu punya PT, apalagi memikirkan pesangon karyawan. Cukup lidah yang lentur dan nomor WhatsApp orang-orang penting.
Tapi, tunggu dulu. Jangan keburu resign dari pekerjaanmu yang gaji di bawah UMR itu untuk jadi belukar penuh waktu.
Mengandalkan modal air liur itu sebenarnya ujian psikologis tingkat tinggi. Air liur belukar itu bukan sembarang ludah; itu adalah perpaduan antara kemampuan negosiasi kelas dewa, hafalan peta politik lokal, dan bakat akting setara peraih Piala Citra.
Seorang belukar harus bisa bersikap seolah-olah dia teman dekatnya menteri di depan kontraktor, tapi sekaligus harus bisa bersikap santun bak menantu idaman di depan oknum pejabat. Salah sedikit mengolah kata, transaksi miliaran bisa melayang.
Lagipula, hidup sebagai belukar itu penuh dengan paranoid. Risiko terbesar pebisnis modal liur adalah ditikung. Begitu pihak penjual dan pembeli sudah saling simpan nomor WA, posisi belukar sering kali mendadak “purna tugas” alias ditinggal begitu saja. Hari ini dipuji-puji sebagai pahlawan, besok nomornya didaftarkan di Getcontact dengan nama “Mas-mas Calo Jangan Diangkat”.
Belum lagi kalau masuk ke ranah hukum. Ketika proyek lancar, yang kenyang kontraktor dan pejabatnya. Tapi begitu ada kasus yang diusut aparat, belukar sering kali jadi pihak pertama yang dicari untuk dijadikan “tumbal ekosistem”.
Jadi, apakah belukar itu potensi bisnis yang menggiurkan? Jelas. Di negara yang segala urusannya masih bisa “diatur lewat pintu belakang”, belukar akan selalu panen raya.
Namun, sebelum kamu memutuskan untuk terjun jadi pebisnis modal liur, tanyakan dulu pada dirimu sendiri: Apakah air liurmu cukup manis untuk membujuk orang, dan apakah mentalmu cukup baja saat ditikung di menit-menit akhir?
Jika tidak, ya sudah, mending tetap kerja biasa saja. Gaji pas-pasan tidak apa-apa, yang penting tidur malam tidak dikejar-kejar bayangan dosa percaloan.
Penulis : Ben Setiawan
















