Mengapa harus ada buku yang mengatakan bahwa menjadi perempuan bukan sebuah kesalahan?
Gagasankalbar.com – Pertanyaan itu terus terlintas di pikiran saya ketika pertama kali membaca judul buku Bukan Salahmu Menjadi Perempuan karya Fajar Sulaiman. Bagi sebagian orang, judul ini mungkin terdengar sederhana. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, justru muncul pertanyaan lain: mengapa kalimat seperti ini perlu ditegaskan? Bukankah menjadi perempuan adalah sesuatu yang alami? Mengapa masih ada perempuan yang merasa perlu diyakinkan bahwa dirinya tidak bersalah hanya karena dilahirkan sebagai perempuan?

Menurut saya, judul buku ini bukan sekadar rangkaian kata yang menarik perhatian pembaca. Judul ini lahir dari kenyataan yang masih sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak perempuan yang dinilai berdasarkan penampilannya, cara berpakaian, cara berbicara, bahkan pilihan hidupnya. Tidak jarang, ketika terjadi suatu masalah, perempuan justru menjadi pihak yang pertama kali dipertanyakan. Mulai dari cara berpakaian, alasan berada di suatu tempat, hingga keputusan yang diambil dalam hidupnya. Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa perempuan masih sering menjadi objek penilaian yang tidak selalu adil.
Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca untuk melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang lebih luas. Menurut saya, buku ini tidak hanya berbicara tentang perempuan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat membentuk cara pandang terhadap perempuan. Sejak kecil, kita sering mendengar anggapan bahwa perempuan harus lembut, tidak boleh terlalu berani, harus pandai mengurus rumah, dan harus menjaga citra agar diterima oleh lingkungan. Di sisi lain, laki-laki juga dibebani dengan anggapan bahwa mereka harus kuat, tidak boleh menangis, dan harus selalu menjadi pemimpin. Semua anggapan itu sering kali diterima begitu saja tanpa dipertanyakan.
Inilah yang membuat buku ini menarik. Penulis tidak mengajak pembaca untuk saling menyalahkan antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, buku ini mengajak kita memahami bahwa tekanan sosial dapat dialami oleh siapa saja, hanya bentuknya yang berbeda. Perempuan menghadapi tekanan untuk memenuhi berbagai standar yang ditetapkan masyarakat, sedangkan laki-laki menghadapi tuntutan agar selalu terlihat kuat dan tidak menunjukkan kelemahannya. Oleh karena itu, menurut saya, solusi yang ditawarkan buku ini bukanlah membandingkan siapa yang lebih menderita, melainkan membangun rasa saling memahami dan saling menghargai.
Hal lain yang saya sukai dari buku ini adalah cara penulis menyampaikan pesan dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Pesan-pesan yang disampaikan tidak terasa menggurui, tetapi mengajak pembaca untuk merenung. Kita diajak melihat bahwa sering kali ketidakadilan bukan muncul karena niat buruk seseorang, melainkan karena pola pikir yang sudah lama tumbuh di masyarakat. Tanpa disadari, kita mungkin pernah menghakimi seseorang hanya karena ia tidak sesuai dengan harapan sosial yang melekat pada gendernya.
Menurut saya, pesan paling penting dalam buku ini adalah bahwa setiap manusia memiliki nilai yang sama. Perempuan tidak perlu membuktikan bahwa dirinya layak dihargai, karena penghargaan terhadap seseorang tidak boleh ditentukan oleh jenis kelaminnya. Begitu pula laki-laki, mereka juga tidak seharusnya dipaksa memenuhi standar tertentu hanya demi dianggap “laki-laki sejati”. Yang seharusnya menjadi ukuran adalah sikap, karakter, dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Buku ini juga mengingatkan kita bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Menghargai pendapat perempuan dalam diskusi, tidak melontarkan candaan yang merendahkan gender tertentu, tidak menyalahkan korban ketika terjadi kekerasan, serta memberikan kesempatan yang sama kepada siapa pun merupakan contoh sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan besar justru berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu.
Setelah membaca buku ini, saya menyadari bahwa persoalan perempuan bukan hanya urusan perempuan. Laki-laki juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Sebaliknya, perempuan juga memiliki peran untuk saling mendukung dan tidak menjatuhkan sesama perempuan. Ketika kedua pihak saling bekerja sama, nilai kesetaraan tidak lagi hanya menjadi teori, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, menurut saya, *Bukan Salahmu Menjadi Perempuan* bukan hanya sebuah buku motivasi untuk perempuan. Buku ini adalah ajakan untuk seluruh masyarakat agar lebih bijak dalam memandang sesama manusia. Pesan yang disampaikan tidak hanya relevan bagi perempuan, tetapi juga bagi laki-laki, karena pada dasarnya setiap orang ingin dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan adil.
Menjadi perempuan bukanlah sebuah kesalahan. Yang perlu kita ubah bukanlah siapa yang dilahirkan sebagai perempuan atau laki-laki, melainkan cara kita memandang, menghargai, dan memperlakukan satu sama lain. Itulah alasan mengapa buku ini layak dibaca dan didiskusikan, terutama di tengah masyarakat yang masih sering diwarnai oleh stereotip dan penilaian berdasarkan gender.
Oleh: Yanti (Mahasiswa UPGRI)
















