Gagasankalbar.com – Media sosial hari ini bukan lagi sekadar ruang berbagi informasi. Ia telah berubah menjadi ruang sidang yang berjalan tanpa jeda, tempat setiap orang dapat menjadi hakim hanya dengan bermodal potongan video, tangkapan layar, atau narasi yang belum tentu utuh.
Dalam hitungan menit, seseorang bisa dipuji sebagai pahlawan atau dicap sebagai pihak yang bersalah, bahkan sebelum seluruh fakta berhasil dihimpun.

Cepat memang. Namun, belum tentu tepat.
Fenomena ini sesungguhnya bukan hanya tentang media sosial, melainkan juga tentang cara kita menyikapi sesama. Kemudahan mengakses informasi ternyata tidak selalu diiringi dengan kedewasaan dalam meresponsnya. Kita lebih cepat bereaksi daripada memahami, lebih mudah menghakimi daripada mencari tahu, dan lebih sibuk mempertahankan pendapat daripada membuka ruang dialog.
Kegelisahan itulah yang saya rasakan ketika membaca buku Control Your Attitude karya Katla Malatika. Buku ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa attitude bukan sekadar persoalan sopan santun, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengendalikan diri, mengelola emosi, menghargai orang lain, dan bersikap dalam berbagai keadaan.
Salah satu gagasan yang menarik perhatian saya adalah pembahasan mengenai kecenderungan manusia untuk merasa paling benar, mudah menghakimi, dan berprasangka buruk. Tanpa disadari, sikap-sikap tersebut begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama ketika kita berinteraksi di media sosial. Ruang yang seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan kerap berubah menjadi arena saling membenarkan.
Dari sinilah refleksi saya bermula. Barangkali, persoalan yang kita hadapi hari ini bukan semata-mata karena perbedaan pendapat, melainkan karena cara kita merespons perbedaan itu. Ketika ego lebih diutamakan daripada empati, ruang dialog perlahan menyempit. Keinginan untuk memahami tergantikan oleh keinginan untuk menang.
Melalui buku ini, saya juga diingatkan bahwa attitude tidak hanya terlihat ketika seseorang berada dalam situasi yang nyaman, tetapi juga ketika menghadapi perbedaan, kritik, atau tekanan. Cara seseorang merespons keadaan sering kali lebih mencerminkan karakternya daripada sekadar apa yang ia ucapkan.
Bagi saya, gagasan tersebut menjadi sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Kita mungkin tidak mampu mengendalikan apa yang dilakukan orang lain, tetapi kita selalu memiliki pilihan untuk mengendalikan diri sendiri. Di tengah derasnya arus informasi dan budaya yang serba cepat dalam memberi penilaian, kemampuan untuk menahan diri, mendengar lebih dahulu, dan menghargai sudut pandang orang lain justru menjadi semakin penting.
Pada akhirnya, membaca Control Your Attitude bukan hanya mengajak saya memahami pentingnya memiliki sikap yang baik, tetapi juga mengingatkan bahwa perubahan sering kali dimulai dari diri sendiri. Di era ketika semua orang merasa paling benar, barangkali yang paling dibutuhkan bukan sekadar kepandaian berpendapat, melainkan kerendahan hati untuk mendengar dan keberanian untuk mengendalikan ego sebelum menilai orang lain.
Oleh: Widia (Mahasiswa UPGRI)
















