Merawat Gerakan Sebagai Sumber Penghidupan; Kepemimpinan Perempuan, Adaptasi Iklim dan Keadilan Akses - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Naik Dango ke-41 Dipusatkan di Desa Lingga, Momentum Pelestarian Budaya Dayak Merawat Gerakan Sebagai Sumber Penghidupan; Kepemimpinan Perempuan, Adaptasi Iklim dan Keadilan Akses Penguatan Literasi Keuangan sebagai Benteng Masyarakat dari Ancaman Investasi Bodong FH UM Pontianak Gelar Rapat Senat Terbuka Yudisium 2026 Semangat Kartini Hidup dalam Jiwa Advokat Perempuan, Perjuangan Nyata di Ruang Sidang Sidang Lanjutan Kasus Herman Alias Pak Usu Masuki Agenda Pledoi di PN Mempawah

Pontianak

Merawat Gerakan Sebagai Sumber Penghidupan; Kepemimpinan Perempuan, Adaptasi Iklim dan Keadilan Akses

badge-check


					Merawat Gerakan Sebagai Sumber Penghidupan; Kepemimpinan Perempuan, Adaptasi Iklim dan Keadilan Akses Perbesar

Gagasankalbar.com – Berada di tengah krisis iklim yang semakin nyata dirasakan hingga ke ranah tapak, serta minimnya ruang bagi perempuan dalam menentukan arah pengelolaan sumber penghidupan, Gemawan kembali menghadirkan ruang belajar reflektif melalui G-Talks (Gemawan Team Agenda Learning and Knowledge Sharing). Mengangkat tema “Perempuan dan Sumber Penghidupan; Sinergi Perempuan dalam Adaptasi Iklim, Kepemimpinan, dan Keadilan Akses”, forum ini menjadi wadah berbagi pengalaman sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai aktor utama dalam menghadapi perubahan iklim.

Diskusi ini mempertemukan berbagai elemen masyarakat sipil mulai dari organisasi masyarakat sipil (CSO), NGO, komunitas akar rumput, hingga pegiat lingkungan. Fokus utamanya adalah membangun kesadaran kolektif bahwa perempuan bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kapasitas dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam sekaligus sumber penghidupan.(25/11)

Perempuan Muda di Garis Depan Krisis Iklim

Nazela, Ketua Kelompok Perempuan Muda Generasi Hijau Muda di Punggur Kecil, membuka diskusi dengan membagikan realitas yang dihadapi wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa sebagai kawasan dengan dominasi lahan gambut, dampak perubahan iklim sangat terasa di kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Ketika musim panas, lahan gambut sangat mudah terbakar dan kabut asap bisa sampai ke kota. Saat musim hujan, banjir menggenangi rumah warga. Di situ kami mulai sadar bahwa perempuan dan anak muda punya peran penting dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.

Kelompok perempuan muda yang ia pimpin lahir dari proses pengorganisasian yang dilakukan secara perlahan, dengan membangun kesadaran tentang pentingnya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Beranggotakan mayoritas pelajar, kelompok ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi generasi muda desa.

Merangkul, Bukan Menggurui: Strategi Pendampingan di Tingkat Tapak

Ersa, pegiat Gemawan sekaligus Community Organizer di wilayah Kubu Raya, menekankan bahwa pendekatan personal menjadi kunci dalam membangun kelompok perempuan di desa. Ia menilai bahwa proses merawat kelompok jauh lebih menantang dibandingkan membentuknya.

“Kalau kita datang langsung membentuk kelompok tanpa pendekatan, itu akan sulit. Yang kami lakukan adalah merangkul terlebih dahulu, membangun kepercayaan, bahkan ikut terlibat dalam aktivitas mereka sehari-hari,” jelasnya.

Pendampingan dilakukan dengan cara yang setara, bukan dengan menggurui, melainkan belajar bersama. Melalui diskusi kecil, kunjungan ke lahan, hingga keterlibatan langsung dalam aktivitas pertanian, kepercayaan perlahan terbangun.

Ersa juga menyoroti ketimpangan struktural yang masih dialami perempuan desa, mulai dari beban ganda hingga ketidakadilan upah kerja. “Perempuan bekerja di ladang sekaligus mengurus rumah tangga, tapi upahnya seringkali lebih rendah dari laki-laki. Ini menunjukkan ketimpangan yang masih kuat,” tambahnya.

Dari Kesadaran ke Aksi Nyata

Kesadaran yang dibangun dalam kelompok tidak berhenti pada diskusi, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata. Salah satunya adalah pembuatan demplot pertanian hortikultura berbasis organik yang dikelola bersama oleh anggota kelompok.

“Kami belajar mengolah tanah tanpa bahan kimia dan mulai menanam sayuran sendiri. Ini pengalaman baru bagi kami, karena walaupun orang tua kami petani, kami sebelumnya tidak punya pengetahuan itu,” kata Nazela.

Demplot ini tidak hanya menjadi media belajar, tetapi juga menjadi simbol komitmen kolektif. Menariknya, keberadaan demplot turut menarik perhatian masyarakat sekitar yang kemudian ikut menjaga dan mendukung kegiatan tersebut.

Perubahan Kecil, Dampak Besar

Perubahan yang terjadi tidak selalu bersifat besar dan instan. Ersa melihat bahwa keberanian anggota kelompok untuk berbicara di ruang publik menjadi salah satu capaian penting.

“Awalnya mereka malu dan takut berbicara. Sekarang sudah mulai berani menyampaikan pendapat. Ini penting karena perempuan sering tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.

Peningkatan pemahaman tentang perubahan iklim juga menjadi capaian signifikan. Dari yang sebelumnya tidak memahami isu tersebut, kini anggota kelompok mulai sadar akan peran mereka dalam menjaga lingkungan.

Tantangan Generasi Muda di Era Digital

Meski menunjukkan perkembangan positif, tantangan tetap ada, terutama dalam mengajak dan mempertahankan keterlibatan anak muda. Kesibukan sekolah, pekerjaan, hingga distraksi media sosial menjadi hambatan utama.

“Orang muda sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget. Jadi cukup sulit mengajak mereka berkumpul dan aktif di kelompok,” ungkap Nazela.

Sebagai strategi, kelompok mencoba membuat kegiatan yang menarik dan relevan, termasuk memanfaatkan media sosial sebagai alat kampanye dan pendekatan. “Kami buat konten seperti TikTok supaya lebih dekat dengan dunia anak muda,” tambah Ersa.

Membangun Gerakan dari Desa

Diskusi juga menyoroti pentingnya membangun gerakan dari desa sebagai fondasi utama keberlanjutan. Perempuan desa dinilai memiliki ketahanan dan pengetahuan lokal yang kuat dalam mengelola sumber daya alam.

“Perempuan desa bukan objek pembangunan, tapi subjek yang memiliki peran besar. Apa yang kita konsumsi di kota berasal dari desa, jadi perubahan harus dimulai dari sana,” tegas Ersa.

Pendekatan berbasis kepercayaan, keterlibatan langsung, serta pencarian tokoh lokal (local champion) menjadi strategi penting dalam memperluas dampak gerakan.

Harapan untuk Gerakan Kolektif yang Berkelanjutan

Menutup diskusi, para narasumber menekankan pentingnya menjaga semangat kolektif dalam memperjuangkan keadilan gender dan keberlanjutan lingkungan. Kegiatan yang konsisten dan berbasis kebutuhan lokal dinilai menjadi kunci keberlanjutan kelompok.

“Harapannya kegiatan positif seperti ini terus berjalan dan semakin banyak anak muda yang terlibat. Memang tidak mudah, tapi jika kita konsisten, dampaknya akan terasa,” ujar Nazela.

Sementara itu, Ersa menegaskan bahwa perjuangan ini membutuhkan suara bersama. “Semoga kedepan kita bisa terus bersuara agar kesetaraan gender benar-benar terwujud, terutama bagi perempuan di desa,” tutupnya.

Melalui G-Talks ini, Gemawan kembali menegaskan komitmennya untuk membuka ruang kolaborasi, memperkuat kepemimpinan perempuan, serta mendorong terciptanya keadilan akses dalam pengelolaan sumber daya alam di tengah krisis iklim yang terus berlangsung.

Penulis : Dmitri

Baca Lainnya

Penguatan Literasi Keuangan sebagai Benteng Masyarakat dari Ancaman Investasi Bodong

26 April 2026 - 15:28 WIB

FH UM Pontianak Gelar Rapat Senat Terbuka Yudisium 2026

25 April 2026 - 18:26 WIB

Semangat Kartini Hidup dalam Jiwa Advokat Perempuan, Perjuangan Nyata di Ruang Sidang

25 April 2026 - 18:24 WIB

Sidang Lanjutan Kasus Herman Alias Pak Usu Masuki Agenda Pledoi di PN Mempawah

23 April 2026 - 16:24 WIB

Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi UMP Gelar Yudisium, 94 Mahasiswa Resmi Lulus

23 April 2026 - 16:21 WIB

Trending di Pontianak