Gagasankalbar.com – Kubu Raya– Kondisi bangunan SD Negeri 52 Sungai Raya di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, memprihatinkan. Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan, mulai dari tiang penyangga yang lapuk, plafon ruang kelas yang jebol, hingga fasilitas belajar yang sudah tidak layak digunakan. Selain itu, sekolah tersebut juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hampir setiap tahun terjadi di sekitar kawasan sekolah.
Guru sekaligus Bendahara SDN 52 Sungai Raya, Siti Mahruf, mengatakan keterbatasan sarana dan prasarana masih menjadi tantangan utama dalam kegiatan belajar mengajar. Meja dan kursi yang digunakan siswa merupakan barang bekas dari sekolah lain.

“Ini kursi kami dari SD lain. Barang-barang lama SD 23. Ketika mereka mendapat meja dan kursi baru, yang lama diberikan ke sekolah ini,” katanya saat ditemui di SDN 52 Sungai Raya, Selasa (14/7).
Ia menjelaskan, keterbatasan ruang belajar membuat sekolah harus menyekat ruang kelas menggunakan triplek sederhana. Kondisi tersebut menyebabkan suara dari kelas yang bersebelahan saling terdengar sehingga mengganggu konsentrasi siswa maupun guru saat proses pembelajaran berlangsung.
“Kalau sedang menjelaskan pelajaran sering tidak terdengar karena kelas sebelah sudah selesai mengerjakan tugas dan mulai ribut. Jadi sangat mengganggu proses belajar mengajar,” ujarnya.
Menurut Siti, kondisi tersebut bermula setelah bangunan lama sekolah dirobohkan karena mengalami kerusakan berat. Hingga kini, bangunan pengganti belum terealisasi sehingga ruang kelas yang tersisa harus dimanfaatkan untuk seluruh siswa dengan sistem sekat.
Ia menambahkan, jumlah peserta didik yang relatif sedikit juga memengaruhi besaran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima. Keterbatasan anggaran membuat sekolah kesulitan melakukan perbaikan fasilitas maupun pengadaan sarana belajar.
“Pembiayaan kami dari BOS berdasarkan jumlah murid. Untuk memperbaiki fasilitas sangat terbatas, bahkan mengecat meja dan kursi pun kami patungan dari guru,” katanya.
Sementara itu, Kepala SDN 52 Sungai Raya, Dwi Mirawati, mengatakan sekolah berada di kawasan gambut yang rawan mengalami karhutla. Dalam dua tahun terakhir, api tercatat tiga kali mendekati lingkungan sekolah.
“Lahan di dekat sekolah memang daerah rawan karhutla. Yang terakhir terjadi saat 1 Syawal. Api sudah sangat dekat, hampir merambat ke ruang kepala sekolah, ruang guru, dan toilet,” katanya.
Ia menjelaskan, saat kejadian tersebut, pihak sekolah bersama komite harus membawa mesin pompa air dan berjaga selama hampir dua hari untuk mencegah api merambat ke bangunan sekolah.
Menurut Dwi, kabut asap akibat karhutla juga pernah menyebabkan kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara karena kualitas udara dinilai membahayakan kesehatan siswa dan tenaga pendidik.
Meski dihadapkan pada keterbatasan fasilitas dan ancaman karhutla, kegiatan belajar mengajar di SDN 52 Sungai Raya tetap berlangsung. Pihak sekolah berharap pemerintah dapat segera merealisasikan pembangunan ruang kelas serta perbaikan sarana dan prasarana agar para siswa dapat belajar dengan aman, nyaman, dan layak.
















