Kesetiaan & Pengkhianatan : Sebuah Ulasan & Renungan Film The King, 2019. - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Kesetiaan & Pengkhianatan : Sebuah Ulasan & Renungan Film The King, 2019. Syarif Falmu: “Jangan Sampai Kalbar Jadi Surga Investor, Tapi Neraka Bagi Pencari Kerja Lokal” Zulhas: MBG dan Hilirisasi Komoditas Desa Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah Bawaslu Kubu Raya Gandeng Tiga Perguruan Tinggi Perkuat Pengawasan Partisipatif Pemilu Gemawan Dorong Sinkronisasi Kebijakan Pembangunan Responsif Gender dan Adaptasi Perubahan Iklim di Kabupaten Mempawah Menguak Tabir Industri Rokok, AJI Jakarta dan AJI Pontianak Gelar Nobar dan Diskusi Film “Di Balik Ilusi Tembakau”

Opini, Gagasan dan Analisis

Kesetiaan & Pengkhianatan : Sebuah Ulasan & Renungan Film The King, 2019.

badge-check


Kesetiaan & Pengkhianatan : Sebuah Ulasan & Renungan Film The King, 2019. Perbesar

Oleh : Muhammad Iqbal (Inisial M)

Gagasankalbar.com – Jam 22.03 malam, di malam yang biasa saja, entah mengapa saya membuka layar laptop sembari membuka Google Chrome (bukan Chrome kasus Nadiem) untuk berselancar di internet. Dari sekian banyak opsi, saya akhirnya memilih masuk ke Netflix, bukan untuk alasan yang khusus, hanya sebuah alasan sederhana: melarikan diri sejenak dari realita dengan menonton film entah apalah.

Dalam aplikasi ini, saya memilih film secara acak yang muncul di rekomendasi: Film yang Mungkin Anda Suka, dan ya, muncul satu judul: The King. Apakah betul-betul saya suka? Entahlah, tapi yang pasti daripada berjihad mencari opsi film lain, saya memutuskan menonton apa yang direkomendasikan oleh Netflix. The King, 2019.

Ketika saya ketuk, ternyata film ini akan menyita waktu saya angka dua digit, 2 jam lebih sedikit (seperti lelucon ketika orang ditanya berapa besaran gajinya). Akhirnya saya masuk dan berselancar bersama film tersebut sambil menghisap rokok yang entah apa lagi mereknya.

Film ini bercerita tentang seorang pangeran yang agak ugal-ugalan bernama Hal, yang diperankan oleh Timothée Chalamet, yang terpaksa naik takhta setelah sang ayah meninggal. Padahal sebelumnya sudah diumumkan bahwa takhta tersebut akan jatuh kepada adiknya, namun sang adik mati dalam pertempuran, sehingga takhta pun akhirnya jatuh kepadanya.

Salah satu dialog paling melekat dari film ini adalah ketika sang Raja menemui John Falstaff di sebuah kedai minum (tempat ia suka berhutang) untuk meminta bantuannya dalam serangan militer ke Prancis. King Henry dengan gusar menyatakan betapa sepinya posisi yang ia duduki saat ini. Henry juga mengutarakan keresahannya bahwa dia harus menerima saran dari orang-orang yang kesetiaannya ia pertanyakan setiap saat. Di penghujung percakapan, Henry mengatakan “aku ke sini karena kau kawanku”, dan John menjawab “Raja tidak punya teman, dia hanya memiliki pengikut atau musuh”.

Sebuah sisi yang amat sangat menyentuh dan begitu menggambarkan posisi seorang pemuda yang diangkat menjadi raja, gusar akan hidupnya, dan tak percaya dengan orang-orang di sekitarnya, namun tetap mencurahkan isi hatinya secara jujur kepada seseorang yang memandang dirinya apa adanya, tanpa syarat. Walaupun di akhir John bersedia mengikuti pertempuran bersama Henry dengan satu syarat: lunasi hutangku di kedai minum wanita mengerikan ini.

Film ini epik dari segi visual dan akting yang menurut saya memukau. Adegan pertempuran yang “apa adanya”, karakter yang nampak “humanis”, bukan pertempuran heroik ala-ala dunia fantasi, semuanya dihadirkan dengan jujur dan mengagumkan.

Film ini kembali menyadarkan saya satu hal pula, bahwa pengkhianatan ada di mana-mana. Seperti dalam buku Laut Bercerita: “kita tidak pernah tahu motivasi apa yang membuat orang berkhianat, bisa karena uang, kekuasaan, atau tekanan”—dan kutipan yang melintas di kepala saya itu tergambar jelas dalam film ini. Mulai dari pengkhianatan seorang sepupu yang bahkan Henry katakan lebih ia kenal daripada adik perempuannya sendiri, namun tetap mampu melakukan satu hal kepada sang Raja: berkhianat.

Sang Hakim Agung, yang kerap menjadi penasihat sang Raja, ternyata adalah yang memanipulasi Henry agar melancarkan penyerangan ke Prancis. Dialah dalang dari semua carut marut yang ada, dan semua itu dilakukan dengan satu tujuan: ambisi. Walaupun di akhir nasibnya ditusuk Henry hingga mati.

Tapi di sisi lain itu semua, film ini secara jujur menunjukkan wajah asli dari watak kekuasaan, bahwa kekuasaan cenderung pada penyelewengan, kekuasaan mengubah watak dan sifat, bahkan rela menginjak kepala orang terdekat demi hal yang terkadang sulit diterima dan dicerna oleh rasionalitas kita. Atau jangan-jangan kekuasaan bukan mengubah, tapi lebih jujur lagi: dia hanya membuka siapa diri orang tersebut sebenarnya.

Sedikit bergeser dari film, kita lemparkan jaring ini ke dalam kolam realitas politik hari ini: tidak ada yang benar-benar abadi. Yang ada hanya kepentingan yang sementara waktu berjalan searah. Sejarah berulang dan mencatat, sekutu hari ini bisa jadi lawan esok hari, dan tidak selalu karena salah satu pihak jahat, kadang memang kepentingan berubah, dan kesetiaan tidak cukup menahan itu. Tapi justru karena itu kesetiaan menjadi mahal, bukan karena ia bisa dijamin, melainkan karena ketika seseorang memilih untuk tetap setia di saat semua kalkulasi mengatakan sebaliknya, itu adalah keputusan yang hampir tidak masuk akal, dan hal yang tidak masuk akal itulah yang kita ingat, yang kita ceritakan, dan yang akan kita tuliskan di batu nisan seseorang. Karena “nilai sesuatu bukan ditentukan oleh seberapa sering ia ada, melainkan oleh seberapa sering ia tetap ada ketika semua tekanan memintanya pergi”. Karena kesetiaan tidak diuji di saat segalanya baik-baik saja; ia muncul atau tidak muncul di saat taruhannya nyata.

Di ujung cerita, saya teringat ucapan seorang politikus senior, ia mengatakan bahwa “Waktu adalah penguji paling setia untuk tiap kita”. Dari film ini, saya kembali merefleksikan, apakah saya mampu setia atau tidak ketika tidak ada hal yang mampu ditawarkan lagi selain kemalangan? Entahlah, saya tutup langsung tulisan ini karena kembali melanjutkan menonton Netflix

Baca Lainnya

Kritik Dibalas Kritik: Tiga Bulan yang Terlalu Mahal untuk Demokrasi

2 Juni 2026 - 20:56 WIB

Negara yang Paling Tahu Cara Memeras Orang yang Sudah Kering

1 Juni 2026 - 07:07 WIB

Meja Makan

24 Mei 2026 - 11:44 WIB

Lulusan Pendidikan Delema Memilih Dirikan Lembaga Baru, Kualitas Guru Terabaikan?

3 Mei 2026 - 19:51 WIB

Penjaga Arah Pengkaderan dan Karakter Kader

1 Mei 2026 - 09:00 WIB

Trending di Opini, Gagasan dan Analisis