Gelombang Mogok Nakes di Daerah Jadi Sorotan, Mahasiswa Poltekkes Pontianak Desak Reformasi Kesejahteraan - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Kubu Raya Gelar Dialog Kebhinekaan, Habib Abdurahman Hafis Almuthahar: Persatuan Harus Dirawat dengan Saling Menghormati Kepala Kantor SAR Pontianak Serahkan Piagam Penghargaan kepada Bupati Kubu Raya Polresta Pontianak Gelar Lomba Hafalan Surah Al-Qur’an, Juara Pertama Berhadiah Umrah Kepala Puskesmas Punggur Bantah Tudingan Pemotongan 30 Persen Dana BOK Perempuan Petani Jadi Garda Depan Hadapi Perubahan Iklim, Gemawan Dorong Kolaborasi di Kubu Raya Polda Kalbar Selesaikan 816 Perkara dalam Enam Bulan, Kasus Pencurian Masih Mendominasi

Pontianak

Gelombang Mogok Nakes di Daerah Jadi Sorotan, Mahasiswa Poltekkes Pontianak Desak Reformasi Kesejahteraan

badge-check


Presiden Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Pontianak, Fadil Maulana Perbesar

Presiden Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Pontianak, Fadil Maulana

Gagasankalbar.com – Gelombang mogok kerja tenaga kesehatan (nakes) di sejumlah daerah kembali menyoroti persoalan kesejahteraan tenaga kesehatan di Indonesia. Rendahnya gaji dan ketimpangan jasa medis dinilai menjadi ancaman serius bagi pelayanan kesehatan masyarakat.

Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, sebanyak 104 tenaga kesehatan PPPK paruh waktu menghentikan pelayanan karena hanya menerima gaji sekitar Rp400 ribu per bulan. Sementara di Lombok Tengah, 1.530 tenaga kesehatan PPPK paruh waktu mengancam mogok kerja lantaran honor yang diterima hanya sekitar Rp200 ribu per bulan.

Presiden Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Pontianak, Fadil Maulana, yang ditemui pada Senin (11/5/2026), menilai kondisi tersebut menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk segera membenahi sistem kesejahteraan tenaga kesehatan.

“Kesejahteraan tenaga kesehatan adalah fondasi pelayanan publik. Jika fondasi ini rapuh, maka seluruh bangunan sistem kesehatan akan runtuh. Kalimantan Barat tidak boleh menjadi panggung tragedi mogok kerja seperti di daerah lain,” ujar Fadil.

Ia menegaskan pemerintah harus memastikan gaji dan insentif tenaga kesehatan dibayarkan secara layak dan tepat waktu agar pelayanan masyarakat tidak terganggu.

“Jangan biarkan tenaga kesehatan diperlakukan seperti buruh murah. Bangsa yang menyepelekan tenaga kesehatan sejatinya sedang menggali kuburnya sendiri,” tegasnya.

Menurutnya, tanpa reformasi kesejahteraan yang serius, krisis tenaga kesehatan berpotensi berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan publik di berbagai daerah.

Baca Lainnya

Polresta Pontianak Gelar Lomba Hafalan Surah Al-Qur’an, Juara Pertama Berhadiah Umrah

30 Juni 2026 - 07:41 WIB

Satukata Podcast dan Sekber Satukata Resmi Beroperasi, Jadi Wadah Kolaborasi Jurnalis dan Pegiat Media Sosial

29 Juni 2026 - 07:17 WIB

HWCI Kalbar dan Posbakum ‘Aisyiyah Kalbar Teken MoU untuk Penguatan Kemanusiaan, Advokasi, dan Perlindungan Masyarakat

29 Juni 2026 - 07:14 WIB

Pencarian ABK Terjun dari Kapal di Pontianak Barat Berakhir, Korban Ditemukan Meninggal Dunia

29 Juni 2026 - 07:04 WIB

Distrik Muda Teguhkan Komitmen, Hadirkan Ruang Tumbuh bagi Generasi Muda

21 Juni 2026 - 09:18 WIB

Trending di Pontianak