Dialog Islam-Khonghucu Internasional V: Sinergi Wasathiyah dan Zhong Yong untuk Membangun Keharmonisan Dunia dari Keluarga - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Gemawan Perkuat Tata Kelola Hutan Desa melalui Lokakarya Penyusunan SOP dan Penguatan Kelembagaan LPHD Riam Piyang Tim SAR Gabungan Temukan Pemancing yang Diduga Tenggelam di Sungai Kapuas dalam Kondisi Meninggal Dunia Bawaslu Kubu Raya Awasi Pemutakhiran Data Partai Politik Semester I Tahun 2026 Kritik Dibalas Kritik: Tiga Bulan yang Terlalu Mahal untuk Demokrasi Ustadz Derry Sulaiman Kunjungi Rumah Makan Gratis Habib di Pontianak Tim SAR Gabungan Cari Pemancing Diduga Tenggelam di Sungai Kapuas, Tayan Hilir

Nasional

Dialog Islam-Khonghucu Internasional V: Sinergi Wasathiyah dan Zhong Yong untuk Membangun Keharmonisan Dunia dari Keluarga

badge-check


Dialog Islam-Khonghucu Internasional V: Sinergi Wasathiyah dan Zhong Yong untuk Membangun Keharmonisan Dunia dari Keluarga Perbesar

Gagasankalbar.com – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Nabi Agung Kongzi (Zhi Sheng Dan) ke-2576, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) bekerja sama dengan Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Kementerian Agama RI menggelar Dialog Islam Khonghucu Internasional V di Aula Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat. Mengusung tema “Membangun Keharmonisan Dunia Berpokok pada Keharmonisan Keluarga”, acara ini dihadiri para tokoh lintas agama dari Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan.

Salah satu narasumber utama dari Indonesia, Dr. Samsul Hidayat, dosen dan peneliti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, memaparkan gagasan bertajuk “Epistemologi Jalan Tengah: Sinergi Wasathiyah dan Zhong Yong dalam Membangun Teologi Kehidupan dan Keharmonisan Global dari Ruang Keluarga.” Dalam pemaparannya, Samsul menekankan pentingnya keseimbangan antara hati dan akal, iman dan kebajikan, serta logika dan kasih sebagai dasar kehidupan harmonis. “Wasathiyah dan Zhong Yong bukan sekadar kompromi, tetapi kebijaksanaan untuk hidup selaras dengan Tuhan, manusia, dan alam,” ujarnya.

Samsul menjelaskan bahwa perpaduan dua konsep tersebut menggambarkan konvergensi cara berpikir yang menolak dikotomi antara yang sakral dan profan. Ia menawarkan tiga sintesis teologi yang berpijak pada keseimbangan: Kosmoteologi Keseimbangan, yang menegaskan harmoni kosmos bermula dari keluarga; Hermeneutika Relasional, yang memaknai moral sebagai hasil dialog kasih; serta Teologi Kehidupan, yang menempatkan iman dan kasih sebagai napas eksistensi manusia.

Dalam paparannya, Samsul juga menyinggung simbolisme meja bundar (yuán zhuō) dalam budaya Tionghoa yang bermakna kesempurnaan dan kesetaraan, sejalan dengan prinsip he er bu tong—“harmoni tanpa keseragaman.” Ia menegaskan bahwa nilai-nilai ini menjadi dasar bagi terciptanya keluarga yang penuh kasih dan saling menghormati. “Dunia yang damai dimulai dari keluarga yang seimbang dan berjiwa langit. Harmony in the family is the seed of peace in the world,” tuturnya mengutip ajaran Kongzi.

Dialog lintas iman ini menegaskan peran Indonesia sebagai pusat etika global yang menjunjung tinggi nilai keluarga dan keseimbangan spiritual. Melalui semangat Wasathiyah dan Zhong Yong, Dialog Islam Khonghucu Internasional menjadi momentum penting membangun peradaban kasih dan harmoni yang berakar dari keluarga menuju dunia yang damai dan beradab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tokoh Muda dan Pengusaha Bahas Masa Depan HIPMI di Surabaya

21 Mei 2026 - 22:41 WIB

Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya Bersilaturahmi ke Kediaman Hubabah Annisa Alhaddad

14 Mei 2026 - 09:24 WIB

Dukung Krakatau Steel, GMNI Minta Pemerintah Lindungi Industri Baja Nasional

13 Mei 2026 - 11:23 WIB

DPC GMNI Pontianak Serukan Satu Komando Pasca Rekonsiliasi Bali

12 Mei 2026 - 22:08 WIB

Rifki Nizami Desak MPR RI Tindak Tegas Juri LCC 4 Pilar di Kalbar

12 Mei 2026 - 01:16 WIB

Trending di Nasional