BEM STIKES Lakukan Aksi, Berikut Tuntutnya - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Belukar, Pebisnis Modal Liur yang Lebih Lincah dari Sales Asuransi IMABA Kalimantan Barat Ajak Masyarakat Bijak Bermedia Sosial dan Tolak Diskriminasi terhadap Santri serta Pesantren Bukan Salahmu Menjadi Perempuan: Sebuah Refleksi tentang Perempuan dan Kesetaraan KKM Kelompok 23 FISIP UNTAN Gelar Program “Aku Punya Mimpi” di SDN 04 Sepatah 30 Petani JARINGPEDAS Mempawah Perkuat Kapasitas Model Bisnis dan Pengelolaan Keuangan Usaha Polresta Pontianak Bongkar Perdagangan Sisik Trenggiling, Dua Tersangka Ditangkap

Berita Kalbar

BEM STIKES Lakukan Aksi, Berikut Tuntutnya

badge-check


BEM STIKES Lakukan Aksi, Berikut Tuntutnya Perbesar

Sabtu 15 Februari 2025, mahasiswa Kalimantan barat dalam nama aliansi bangsa darurat melakukan Aksi bertajuk “BANGSA INI DARURAT”. Dengan koordinator Muhammad najmi Ramadhan sekaligus sebagai presiden mahasiswa universitas tanjungpura dan tergabung juga dalam aksi ini presiden mahasiswa STIKes Yarsi Pontianak yaitu Erma Wahyu Astuti, dalam aksi kali yang dilakukan bem untan, bem STIKes beserta aliansi bangsa darurat membawa isu permasalahan bukannya isu daerah namun juga dengan isu nasional.

Sejak dilantik sebagai Presiden, Prabowo Subianto telah mengeluarkan
berbagai kebijakan yang menuai kontroversi di masyarakat. Salah satu kebijakan terbesar adalah pemotongan anggaran besar-besaran senilai Rp306,69 triliun melalui Instruksi Presiden Nomor
1 Tahun 2025. Pemangkasan ini diklaim bertujuan untuk efisiensi belanja negara dan pengalokasian ulang dana ke program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya layanan publik esensial di berbagai sektor. Press Release ini akan mengulas dampak dari kebijakan tersebut terhadap berbagai sektor, termasuk infrastruktur, pendidikan, kesehatan, BMKG dan sosial.

Selain itu, dampak pemotongan anggaran di Kalimantan Barat. Banyak hal yang terdampak dari keputusan presiden Prabowo Dampak Pemotongan Anggaran terhadap beberapa sektor.
1. Sektor Infrastruktur dan Pekerjaan Umum Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalami pemotongan anggaran sebesar Rp81 triliun dengan dalih efisiensi anggran hal ini meninmbulkan berbagai dampak. Dampaknya meliputi : Terhambatnya pembangunan jalan dan jembatan, yang berakibat pada menurunnya konektivitas antar wilayah, Pemangkasan proyek strategis, seperti pembangunan bendungan dan irigasi, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi daerah. Dan Terbatasnya perawatan infrastruktur, menyebabkan jalan rusak yang meningkatkan risiko kecelakaan dan menghambat distribusi barang.

2. Sektor Pendidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengalami pemotongan lebih dari 50%. Dampaknya antara lain: erancamnya program Kartu Indonesia Pintar (KIP), yang berpotensi menghambat akses pendidikan bagi jutaan siswa miskin. Pemutusan kontrak guru honorer hal ini semakin memperburuk krisis tenaga pengajar di berbagai daerah, terutama di pedesaan dan wilayah terpencil tanpa terkecuali Kalimantan barat. Dampak lain Berkurangnya dana operasional sekolah, yang menyebabkan terbatasnya fasilitas pembelajaran dan rendahnya kualitas pendidikan.

3. Sektor Kesehatan

Pemotongan sebesar Rp19,6 triliun di Kementerian Kesehatan berdampak pada: Pengurangan subsidi BPJS Kesehatan, yang menyebabkan biaya layanan Kesehatan meningkat. Berkurangnya stok obat-obatan dan alat medis, mengakibatkan keterlambatan dalam penanganan pasien. Terhambatnya program vaksinasi dan imunisasi, yang meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular.

4. Sektor Sosial

Kementerian Sosial mengalami pemotongan yang berimbas pada: Penundaan dan pengurangan jumlah penerima bantuan sosial* seperti BLT dan PKH. Terhambatnya operasional panti sosial, yang mengancam keberlangsungan bantuan bagi lansia, penyandang disabilitas, dan anak terlantar.

5. Sektor BMKG

Pemotongan anggaran BMKG lebih dari 50% berdampak signifikan terhadap kemampuan lembaga ini dalam memantau dan memberikan informasi terkait cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami. Penurunan anggaran menyebabkan turunnya akurasi prediksi dari 90% menjadi 60%, keterlambatan dalam penyampaian peringatan dini mengenai resiko bencana alam, serta berkurangnya jumlah sensor dan alat pemantauan. Akibatnya, risiko bencana meningkat karena masyarakat di wilayah rawan memiliki waktu yang lebih sedikit untuk bersiap dan melakukan evakuasi. Hal ini berpotensi meningkatkan jumlah korban serta kerugian akibat bencana alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

IMABA Kalimantan Barat Ajak Masyarakat Bijak Bermedia Sosial dan Tolak Diskriminasi terhadap Santri serta Pesantren

8 Agustus 2026 - 00:22 WIB

Peserta Kubu Raya Ajak Generasi Muda Dekat dengan Al-Qur’an di MTQ XXXIV Kalbar

5 Agustus 2026 - 19:06 WIB

AMPD Gelar Aksi Damai, Desak Transparansi Seleksi Jabatan di Lingkungan Kementerian Agama

5 Agustus 2026 - 19:03 WIB

Kantor SAR Pontianak Apresiasi Dukungan Gubernur Kalbar dalam Operasi Pencarian dan Pertolongan

4 Agustus 2026 - 19:08 WIB

PP Aisyiyah Tingkatkan Kompetensi Paralegal untuk Perkuat Posbakum di Kalbar

2 Agustus 2026 - 17:08 WIB

Trending di Berita Kalbar