Terjebak Doomscrolling: Saat Algoritma Mengendalikan Respons Stres Otak - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Antusiasme Warga Serbu Bazar Sembako Murah Perumda Aneka Usaha Menanjak Bahagia, Seluruh Paket Ludes Terjual Semarak HUT ke-19 Kubu Raya, Puskesmas Punggur Ajak Warga Hidup Sehat Lewat Senam GERMAS Derahman: Semangat Gotong Royong Jadi Kekuatan Hadapi Tantangan Fiskal Kubu Raya Banggar DPR RI Dorong Bank Indonesia Kalbar Perkuat Deteksi Dini Ekonomi dan Pengembangan UMKM Daerah Banggar DPR RI Dorong Penguatan Transfer ke Daerah dan Optimalisasi APBN untuk Pembangunan Kalimantan Barat Nelayan Hilang Kontak di perairan Teluk Cina Pulau Lemukutan di temukan dalam keadaan selamat oleh tim SAR Gabungan

Opini, Gagasan dan Analisis

Terjebak Doomscrolling: Saat Algoritma Mengendalikan Respons Stres Otak

badge-check


Terjebak Doomscrolling: Saat Algoritma Mengendalikan Respons Stres Otak Perbesar

Oleh: Aris Ismail

Semakin lama kita menggulir layar, semakin besar peluang algoritma mengenal kita.

Gagasankalbar.com – Pernah berniat membuka media sosial hanya lima menit? Nyatanya, lima menit sering berubah menjadi satu jam. Awalnya sekadar ingin melihat kabar terbaru, tetapi tanpa sadar kita berpindah dari satu berita ke berita lain: perang, kriminalitas, bencana, konflik politik, hingga berbagai konten yang sengaja dirancang untuk memancing emosi. Saat layar dimatikan, informasi memang bertambah, tetapi kepala terasa lebih penuh dan hati justru lebih gelisah.

Fenomena tersebut dikenal sebagai Doomscrolling, yaitu kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara terus-menerus melalui media digital. Bukankah mengikuti berita adalah bagian dari menjadi warga yang peduli? Sayangnya, persoalannya tidak sesederhana itu. Ketika arus informasi negatif datang tanpa henti, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar waktu, melainkan juga cara otak kita bekerja.

Kesadaran itu muncul setelah saya membaca artikel “How Doomscrolling Surprisingly Changes the Way Your Brain Works” karya Julia Ries Wexler yang diterbitkan National Geographic pada 11 September 2025. Dalam artikelnya, Wexler merangkum berbagai penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa kebiasaan Doomscrolling bukan hanya membuat seseorang merasa cemas, tetapi juga memengaruhi sistem respons stres di otak. Semakin lama kita tenggelam dalam berita buruk, semakin sulit tubuh membedakan mana ancaman yang benar-benar nyata dan mana yang hanya hadir melalui layar ponsel.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Dalam artikel tersebut, Wexler mengutip penelitian Roxane Cohen Silver, profesor psikologi dari University of California, Irvine. Penelitian Silver menunjukkan bahwa orang yang terus-menerus mengikuti pemberitaan tragedi 11 September 2001 melalui media memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mental dalam jangka panjang. Temuan itu memperlihatkan bahwa trauma tidak selalu datang karena kita berada di lokasi kejadian. Kadang-kadang, trauma tumbuh karena kita terlalu lama menyaksikannya melalui layar.

Penjelasan itu diperkuat oleh E. Alison Holman, yang menjelaskan bahwa otak manusia memang dirancang untuk peka terhadap ancaman. Dahulu kemampuan tersebut membantu manusia bertahan hidup dari bahaya. Kini, mekanisme yang sama justru membuat kita sulit melepaskan perhatian dari berita yang berisi konflik, kekerasan, atau bencana. Setiap ancaman yang kita lihat memicu tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Dalam kondisi normal, respons itu akan mereda ketika ancaman berlalu. Masalahnya, di media sosial ancaman seolah tidak pernah benar-benar selesai.

Belum selesai membaca satu berita, algoritma sudah menyiapkan berita lain yang lebih mengejutkan. Belum reda rasa cemas karena konflik di satu negara, muncul lagi video bencana di tempat lain. Kita mengira sedang mencari informasi. Padahal, bisa jadi algoritma sedang mengarahkan apa yang harus kita lihat berikutnya.

Di sinilah letak persoalannya. Yang sedang diperebutkan platform digital bukan hanya klik atau jumlah tayangan, melainkan perhatian manusia. Semakin lama kita bertahan pada sebuah konten, semakin besar peluang algoritma mempelajari kebiasaan kita. Lalu, konten serupa akan terus disajikan agar kita tetap berada di dalam aplikasi. Tanpa disadari, perhatian kita berubah menjadi komoditas.

Lalu, mengapa kita sulit berhenti?

Jawabannya menarik jika dikaitkan dengan gagasan Nir Eyal dalam bukunya Indistractable: How to Control Your Attention and Choose Your Life. Menurut Eyal, hampir semua distraksi berawal dari dua hal, yaitu pemicu internal (internal triggers) dan pemicu eksternal (external triggers).

Pemicu internal berasal dari dalam diri, seperti rasa bosan, cemas, kesepian, atau gelisah. Ketika perasaan itu muncul, kita cenderung mencari pelarian dengan membuka media sosial. Sementara itu, pemicu eksternal datang dari luar diri kita, seperti notifikasi, judul berita yang sensasional, video yang direkomendasikan, hingga algoritma yang terus menyajikan konten serupa.

Ketika kedua pemicu itu bertemu, lahirlah Doomscrolling. Kita membuka media sosial karena merasa cemas, tetapi justru menemukan lebih banyak informasi yang membuat kita semakin cemas. Akhirnya kita terus menggulir layar, berharap menemukan jawaban yang menenangkan. Ironisnya, yang muncul justru berita lain yang kembali memicu kecemasan. Siklus ini terus berulang tanpa kita sadari.

Tidak mengherankan jika Sara Jo Nixon, profesor psikiatri dan psikologi dari University of Florida, menjelaskan bahwa paparan stres yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu sistem penghargaan (reward system) di otak. Akibatnya, seseorang lebih mudah merasa lelah, kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, bahkan tidak lagi menikmati aktivitas yang sebelumnya menyenangkan.

Bukankah kondisi itu terasa akrab?

Lihat saja lini masa media sosial hari ini. Berita kriminal, perang, bencana, konflik politik, hingga konten rage bait datang silih berganti. Belum selesai satu isu, muncul isu lain yang lebih sensasional. Kita merasa harus selalu mengikuti semuanya agar tidak tertinggal. Padahal, semakin banyak informasi yang dikonsumsi, belum tentu semakin baik pula pemahaman kita.

Barangkali, yang sedang kita alami bukan sekadar kelebihan informasi, melainkan kelelahan perhatian.

Karena itu, literasi digital hari ini tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan mencari informasi. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan mengelola perhatian. Mengetahui kapan harus membaca berita, kapan harus berhenti, dan kapan memberi ruang bagi otak untuk beristirahat adalah bagian dari menjaga kesehatan mental.

Pada akhirnya, Doomscrolling bukan sekadar persoalan lemahnya kontrol diri. Ia merupakan pertemuan antara naluri alami manusia yang selalu waspada terhadap ancaman dengan algoritma digital yang dirancang untuk mempertahankan perhatian selama mungkin. Penelitian yang dirangkum Julia Ries Wexler membantu kita memahami bagaimana paparan berita negatif dapat memengaruhi respons stres di otak. Sementara itu, Nir Eyal mengingatkan bahwa perhatian adalah sesuatu yang harus kita kelola, bukan kita serahkan begitu saja kepada teknologi.

Mungkin, yang sedang diperebutkan hari ini bukan lagi data pribadi, melainkan perhatian kita. Dan ketika perhatian itu perlahan dikuasai algoritma, yang hilang bukan hanya waktu, tetapi juga ketenangan berpikir, kejernihan mengambil keputusan, dan kesehatan mental.

Sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita masih mengendalikan media sosial, atau justru media sosial yang sedang mengendalikan kita?

Referensi:

Eyal, N. (2019). Indistractable: How to Control Your Attention and Choose Your Life. BenBella Books.

Wexler, J. R. (2025, September 11). How Doomscrolling Surprisingly Changes the Way Your Brain Works. National Geographic.

Baca Lainnya

Eksodus Kreatif: Menakar Fenomena ‘Brain Drain’ Anak Muda Kalbar ke Pulau Jawa

12 Juli 2026 - 22:29 WIB

Ramai di Warkop, Sepi di Rekening: Potret Sandwich Generation di Pontianak

7 Juli 2026 - 23:11 WIB

Surplus Produksi, Defisit Kesejahteraan: Namun Petani Indonesia Tetap Kalah di Negeri Sendiri

22 Juni 2026 - 00:51 WIB

Paradoks Pertanian Indonesia: Tulang Punggung Pangan, Namun Hidup dalam Kemiskinan

19 Juni 2026 - 01:57 WIB

Healthy Lifestyle: Momentum Emas bagi Produk Pertanian Lokal

18 Juni 2026 - 01:17 WIB

Trending di Opini, Gagasan dan Analisis