Gagasankalbar.com – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melontarkan kecaman keras terhadap aksi Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa yang mendatangi makam keluarga Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah. Tindakan tersebut dinilai tidak bermoral dan hanya bertujuan mencari sensasi.
Wakil Ketua Umum DPP PSI Andy Budiman menilai, langkah keduanya tidak memiliki kaitan apa pun dengan isu dugaan kejanggalan ijazah Jokowi yang selama ini mereka soroti.
“Tindakan mereka tidak bermoral dan cuma mengejar sensasi. Mereka kehabisan akal untuk menjelek-jelekkan dan memfitnah Pak Jokowi, akhirnya pergi ke makam yang entah apa relevansinya,” ujar Andy Budiman, dikutip dari IDN Times, Sabtu (11/10/2025).
Senada, Ketua DPW PSI Jawa Tengah Antonius Yogo Prabowo menyebut aksi tersebut sebagai tindakan “niretika” dan bahkan “biadab”. Ia menilai konten yang dibuat di area pemakaman keluarga Jokowi telah melampaui batas etika dan kesopanan.
“Dari video yang beredar, menurut kami PSI Jateng, itu adalah tindakan yang niretika, biadab lebih tepatnya,” tegas Yogo, dikutip dari Solopos.
Sementara itu, Ketua Direktorat Diseminasi Informasi dan Media Sosial DPP PSI Dian Sandi Utama mengapresiasi sikap tenang Gibran Rakabuming Raka dalam menyikapi provokasi tersebut. Menurutnya, Gibran menunjukkan kedewasaan dan kesabaran seperti yang dimiliki sang ayah.
“Banyak hal yang Mas Wapres pelajari dari Pak Jokowi, salah satunya adalah ilmu sabar,” tulis Dian di akun Instagram pribadinya, sebagaimana dilaporkan Bali Express.
Aksi Roy Suryo dan Dokter Tifa menjadi sorotan publik setelah video kunjungan mereka ke makam keluarga Jokowi viral di media sosial. Video tersebut diunggah melalui kanal YouTube milik Refly Harun. Dalam tayangan itu, Dokter Tifa menyampaikan klaim bahwa mendiang Sudjiatmi Notomihardjo bukan ibu kandung Jokowi. Klaim ini belum dapat diverifikasi dan menuai kontroversi luas.
PSI menegaskan, tindakan tersebut bukan bagian dari upaya mencari kebenaran, melainkan bentuk eksploitasi isu pribadi untuk kepentingan publikasi.
“Niat buruk ditambah gila publikasi membuat pikiran sehat mereka hilang. Tidak tersisa lagi rasa hormat untuk para orang tua yang sudah mendahului. Memalukan,” pungkas Andy Budiman, dikutip dari Viva.co.id. *(Ben)










