Gagasankalbar.com – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas OSO terpilih, Irvan Surya, menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan represif aparat kepolisian dalam aksi damai yang digelar oleh mahasiswa dan masyarakat pada 27 Agustus 2025. Aksi yang berlangsung di ruas jalan utama Kota Pontianak itu berubah ricuh setelah aparat menembakkan gas air mata ke arah massa, termasuk warga sipil seperti ibu-ibu dan anak-anak yang sedang melintas.
Irvan menilai tindakan tersebut sebagai bentuk nyata kegagalan Kapolresta Pontianak dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin institusi kepolisian di wilayah tersebut.

“Kapolresta yang baru menjabat beberapa bulan lalu sudah gagal menunjukkan kepemimpinan yang demokratis dan humanis. Aparat seharusnya menjadi pelindung rakyat, bukan alat penindas. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegas Irvan dalam pernyataannya.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Irvan mendesak Kapolda Kalimantan Barat untuk segera mencopot Kapolresta Pontianak dari jabatannya.
“Kekerasan bukan solusi untuk meredam suara rakyat. Semakin ditekan, semakin kuat pula perlawanan yang akan muncul. Kapolresta Pontianak harus segera dicopot,” ujarnya.
Irvan juga menekankan pentingnya menjaga ruang demokrasi dan kebebasan berpendapat sebagai hak konstitusional yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
“Sudah 80 tahun Indonesia merdeka, tapi rakyat masih harus menghadapi represi di tanah sendiri. Kemerdekaan sejati hanya hadir ketika rakyat bisa bersuara tanpa rasa takut,” pungkasnya.
Aksi solidaritas yang digelar mahasiswa dan masyarakat tersebut merupakan bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan publik. Insiden ini memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan aktivis hak asasi manusia. *(Ben)
















