Gagasankalbar.com – Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, memaparkan secara rinci bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pengembangan komoditas unggulan desa dapat menjadi stimulus kuat dalam menggerakkan perekonomian daerah melalui penguatan sektor hilir.
Hal tersebut disampaikan Zulhas dalam diskusi bertajuk “Anak Muda Maunya Apa” yang digelar di Aming Coffee, Podomoro, Pontianak, Jumat (5/6). Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah figur publik, di antaranya Eko Patrio, Pasha Ungu, Rizky Billar, dan Lesty Kejora.

Dalam paparannya, Zulhas menyoroti besarnya potensi hilirisasi produk lokal yang berasal dari kekayaan alam pedesaan, salah satunya komoditas kelapa. Menurutnya, selama ini kelapa masih banyak dijual dalam bentuk mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah, padahal setiap bagian dari kelapa memiliki nilai tambah yang tinggi apabila diolah lebih lanjut.
Ia menjelaskan bahwa hilirisasi kelapa mampu menciptakan berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari sabut yang dapat diolah menjadi bahan industri, batok yang dimanfaatkan sebagai karbon aktif, hingga santan kelapa yang kini semakin diminati pasar internasional sebagai alternatif susu dalam tren gaya hidup sehat.
“Sekarang kelapa itu luar biasa hilirisasinya. Sabutnya dijual, batoknya jadi karbon aktif. Bahkan santan kelapa sekarang dipakai di kedai kopi dunia sebagai pengganti susu karena tren healthy food. Nilai tambahnya melonjak berkali-kali lipat kalau kita olah dengan benar,” ujar Zulhas.
Lebih lanjut, Menko Pangan mengaitkan peluang hilirisasi tersebut dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas nasional pemerintah. Menurutnya, program tersebut akan menciptakan permintaan besar terhadap berbagai komoditas pangan lokal, mulai dari sayuran, buah-buahan, daging, telur, hingga produk olahan hasil pertanian dan peternakan.
Dengan kebutuhan pasokan yang besar dan berkelanjutan, MBG diyakini mampu menjadi pasar yang menjamin penyerapan hasil produksi petani, peternak, nelayan, serta pelaku UMKM di daerah. Perputaran anggaran program ini juga diharapkan dapat menggerakkan ekonomi lokal secara langsung melalui rantai pasok yang melibatkan masyarakat setempat.
“Kalau bahan bakunya dipenuhi dari daerah sendiri, maka uang yang beredar akan kembali ke masyarakat. Petani hidup, UMKM berkembang, dan lapangan kerja baru akan terbuka,” katanya.
Zulhas menegaskan bahwa sinergi antara hilirisasi komoditas lokal dan jaminan pasar melalui Program MBG merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan generasi muda. Ia mengajak para pelaku usaha muda di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak, untuk mulai melihat potensi bisnis dari sektor pangan dan pengolahan hasil pertanian.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut ditutup dengan optimisme bahwa kolaborasi antara kebijakan pemerintah dan kreativitas generasi muda mampu memperkuat kemandirian ekonomi daerah sekaligus mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional yang berkelanjutan
















