Gagasankalbar.com – Upaya memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan terus dilakukan melalui peluncuran program bertajuk “Guru Sains Tanggap Bencana: Inovasi STEM Learning Kit Mitigasi Banjir untuk Edukasi Krisis Lingkungan”. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas guru dan siswa SMA di Kota Singkawang dalam menghadapi ancaman banjir melalui pembelajaran sains berbasis teknologi.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala SMA Negeri 2 Singkawang, Rianto. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi dipilihnya Kota Singkawang sebagai lokasi pelaksanaan program yang dinilai relevan dengan kondisi geografis daerah yang rawan banjir.

“Program ini menjadi langkah yang sangat baik dalam mendukung pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga memberikan pengalaman praktik kepada guru dan siswa untuk memahami mitigasi bencana,” katanya.
Sebanyak 31 guru sains dari tiga Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) se-Kota Singkawang, yakni MGMP Biologi, MGMP Fisika, dan MGMP Kimia, mengikuti kegiatan tersebut. Hadir pula Pengawas Dinas Pendidikan Kota Singkawang, Syahbani, sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan pendidikan kebencanaan di sekolah.
Program ini digagas oleh tim dosen lintas perguruan tinggi yang diketuai Hamdani dari Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Tanjungpura. Tim juga beranggotakan Hanum Mukti Rahayu dari Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Pontianak dan Reni Marlina dari Program Studi Pendidikan Profesi Guru Universitas Tanjungpura.
Pelaksanaan program turut melibatkan empat mahasiswa Universitas Tanjungpura serta bekerja sama dengan MGMP Biologi Kota Singkawang yang diinisiasi Sri Sunartinah.
Ketua Tim Pengabdi, Hamdani, mengatakan Kota Singkawang memiliki tingkat kerawanan banjir yang cukup tinggi karena berada di wilayah dataran rendah pesisir. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut adanya penguatan edukasi mitigasi bencana sejak dini di lingkungan sekolah.
“Selama ini pembelajaran mitigasi bencana di sekolah masih didominasi teori, sementara fasilitas laboratorium untuk praktik kebencanaan masih terbatas. Karena itu kami menghadirkan STEM Learning Kit sebagai media pembelajaran yang aplikatif dan mudah diterapkan oleh guru,” ujarnya.
Program pengabdian masyarakat yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut dilaksanakan melalui sembilan tahapan kegiatan di Kecamatan Singkawang Selatan. Kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) untuk menyusun kurikulum kebencanaan, kemudian dilanjutkan pelatihan perakitan STEM Learning Kit berbasis mikrokontroler Arduino, sensor ketinggian air, pompa mini, dan indikator LED.
Sebagai bagian dari penguatan pembelajaran, tim juga mendirikan Studio STEM Mitigasi Banjir di Balai Pertemuan MGMP Singkawang Selatan yang difungsikan sebagai pusat simulasi dan praktik mitigasi bencana.
Melalui pendekatan lintas disiplin ilmu, mulai dari fisika, kimia hingga biologi, para guru dibekali metode pembelajaran yang mengintegrasikan konsep sains dengan kondisi nyata di lapangan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap risiko bencana sekaligus menumbuhkan budaya siaga di sekolah.
Untuk memperluas manfaat program, tim pengabdi juga menyusun panduan praktikum dalam bentuk buku cetak, e-book, serta video pembelajaran yang dipublikasikan melalui kanal YouTube FKIP Universitas Tanjungpura.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas guru, program ini diharapkan menjadi model penguatan pendidikan mitigasi bencana berbasis STEM yang dapat diterapkan di berbagai sekolah, sehingga mampu melahirkan generasi muda yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim maupun bencana hidrometeorologi.
















