Breaking News

Kalimantan Barat

Badko Kalbar Soroti Lemahnya Pengawasan Keamanan Bangunan Pesantren

badge-check

Wakil Sekretaris Bidang Pendidikan, Sosial, dan Kesejahteraan Masyarakat Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Kalimantan Barat (Badko Kalbar), Wahyu SaputraPerbesar

Wakil Sekretaris Bidang Pendidikan, Sosial, dan Kesejahteraan Masyarakat Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Kalimantan Barat (Badko Kalbar), Wahyu Saputra

Gagasankalbar.com – Wakil Sekretaris Bidang Pendidikan, Sosial, dan Kesejahteraan Masyarakat Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Kalimantan Barat (Badko Kalbar), Wahyu Saputra, menilai pemerintah kurang memberikan perhatian serius terhadap standar keamanan dan kelayakan infrastruktur pondok pesantren. Sorotan ini mencuat setelah insiden ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, yang menelan korban jiwa dan menimbulkan keprihatinan luas.

Menurut Wahyu, persoalan tersebut bukan semata kecelakaan, melainkan cerminan lemahnya sistem pengawasan dan perhatian negara terhadap lembaga pendidikan keagamaan. Ia menyebut masalah ini bersifat sistemik, baik dari sisi pemerintah maupun pengelola pesantren.

“Banyak bangunan pesantren dibangun secara swadaya tanpa pendampingan teknis yang memadai. Akibatnya, kondisi bangunan sering rapuh, tidak layak huni, dan berisiko membahayakan para santri,” ujarnya.

Beberapa hal yang menurut Wahyu menjadi bukti kurangnya atensi pemerintah :

1. Implementasi regulasi yang lemah
Meskipun telah ada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, penerapannya dinilai masih jauh dari harapan. Wahyu menilai pemerintah belum menyediakan regulasi turunan, anggaran, maupun pendampingan teknis yang memadai untuk mendukung aspek keamanan bangunan pesantren.

2. Minimnya pengawasan pembangunan
Pemerintah bersama DPR dinilai lalai dalam mengawasi pembangunan infrastruktur pesantren. Banyak fasilitas dibangun secara swadaya tanpa perencanaan matang dan standar teknis yang jelas. Kondisi ini membuat bangunan rentan mengalami kerusakan dan rawan roboh.

3. Prioritas bantuan yang kurang tepat
Bantuan pemerintah selama ini dinilai lebih bersifat administratif dan seremonial. Sementara itu, aspek krusial seperti rehabilitasi bangunan, audit kelayakan struktur, dan peningkatan standar keamanan santri kerap terabaikan.

Wahyu mendorong pemerintah pusat maupun daerah untuk tidak hanya bersikap reaktif ketika bencana terjadi, tetapi mengambil langkah preventif dan nyata. Menurutnya, perlu ada kebijakan yang berorientasi pada keamanan fisik dan kesejahteraan santri, termasuk pembentukan standar nasional keamanan bangunan pesantren.

“Pesantren adalah lembaga pendidikan yang berkontribusi besar bagi bangsa. Sudah semestinya negara hadir bukan hanya dalam seremoni, tetapi dalam perlindungan nyata terhadap keselamatan para santri,” pungkas Wahyu. *(Ewok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Antrean BBM di SPBU Pontianak dan Kubu Raya Ganggu Layanan Ojol, Driver Ojol Minta Pasokan Segera Stabil

27 Jul 2026 - 22:02 WIB

Antrean BBM di SPBU Pontianak dan Kubu Raya Ganggu Layanan Ojol, Driver Ojol Minta Pasokan Segera Stabil

Problematika Layanan Pertanahan Kalbar: Ekspektasi Publik vs Kinerja BPN

23 Jul 2026 - 01:11 WIB

Problematika Layanan Pertanahan Kalbar: Ekspektasi Publik vs Kinerja BPN

Posbakum ‘Aisyiyah Kalbar Siap Berikan Bantuan Hukum Gratis bagi Perempuan, Anak, dan Kelompok Rentan

3 Jul 2026 - 22:28 WIB

Posbakum ‘Aisyiyah Kalbar Siap Berikan Bantuan Hukum Gratis bagi Perempuan, Anak, dan Kelompok Rentan

Polda Kalbar Selesaikan 816 Perkara dalam Enam Bulan, Kasus Pencurian Masih Mendominasi

29 Jun 2026 - 23:39 WIB

Polda Kalbar Selesaikan 816 Perkara dalam Enam Bulan, Kasus Pencurian Masih Mendominasi

REI Kalbar Hadiri Forum FORMAJAKON Bahas Implementasi LBS dan LP2B

19 Jun 2026 - 02:08 WIB

REI Kalbar Hadiri Forum FORMAJAKON Bahas Implementasi LBS dan LP2B
Trending di Kalimantan Barat