Badko Kalbar Soroti Lemahnya Pengawasan Keamanan Bangunan Pesantren - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Dialog Multipihak Perkuat Kolaborasi Pembangunan Responsif Gender dan Adaptif Perubahan Iklim di Kayong Utara DEMA STAI Al-Haudl Ketapang Gelar Studi Tour ke YIARI, Perdalam Wawasan Konservasi Orangutan Dialog Kebangsaan di Kubu Raya, Habib Jindan Serukan Persatuan Umat dan Harmoni dalam Keberagaman Surplus Produksi, Defisit Kesejahteraan: Namun Petani Indonesia Tetap Kalah di Negeri Sendiri Sharing Time Edisi Muharram: Membangun Kesadaran Moral dan Berpikiran Kritis Distrik Muda Teguhkan Komitmen, Hadirkan Ruang Tumbuh bagi Generasi Muda

Kalimantan Barat

Badko Kalbar Soroti Lemahnya Pengawasan Keamanan Bangunan Pesantren

badge-check


Wakil Sekretaris Bidang Pendidikan, Sosial, dan Kesejahteraan Masyarakat Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Kalimantan Barat (Badko Kalbar), Wahyu Saputra Perbesar

Wakil Sekretaris Bidang Pendidikan, Sosial, dan Kesejahteraan Masyarakat Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Kalimantan Barat (Badko Kalbar), Wahyu Saputra

Gagasankalbar.com – Wakil Sekretaris Bidang Pendidikan, Sosial, dan Kesejahteraan Masyarakat Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Kalimantan Barat (Badko Kalbar), Wahyu Saputra, menilai pemerintah kurang memberikan perhatian serius terhadap standar keamanan dan kelayakan infrastruktur pondok pesantren. Sorotan ini mencuat setelah insiden ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, yang menelan korban jiwa dan menimbulkan keprihatinan luas.

Menurut Wahyu, persoalan tersebut bukan semata kecelakaan, melainkan cerminan lemahnya sistem pengawasan dan perhatian negara terhadap lembaga pendidikan keagamaan. Ia menyebut masalah ini bersifat sistemik, baik dari sisi pemerintah maupun pengelola pesantren.

“Banyak bangunan pesantren dibangun secara swadaya tanpa pendampingan teknis yang memadai. Akibatnya, kondisi bangunan sering rapuh, tidak layak huni, dan berisiko membahayakan para santri,” ujarnya.

Beberapa hal yang menurut Wahyu menjadi bukti kurangnya atensi pemerintah :

1. Implementasi regulasi yang lemah
Meskipun telah ada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, penerapannya dinilai masih jauh dari harapan. Wahyu menilai pemerintah belum menyediakan regulasi turunan, anggaran, maupun pendampingan teknis yang memadai untuk mendukung aspek keamanan bangunan pesantren.

2. Minimnya pengawasan pembangunan
Pemerintah bersama DPR dinilai lalai dalam mengawasi pembangunan infrastruktur pesantren. Banyak fasilitas dibangun secara swadaya tanpa perencanaan matang dan standar teknis yang jelas. Kondisi ini membuat bangunan rentan mengalami kerusakan dan rawan roboh.

3. Prioritas bantuan yang kurang tepat
Bantuan pemerintah selama ini dinilai lebih bersifat administratif dan seremonial. Sementara itu, aspek krusial seperti rehabilitasi bangunan, audit kelayakan struktur, dan peningkatan standar keamanan santri kerap terabaikan.

Wahyu mendorong pemerintah pusat maupun daerah untuk tidak hanya bersikap reaktif ketika bencana terjadi, tetapi mengambil langkah preventif dan nyata. Menurutnya, perlu ada kebijakan yang berorientasi pada keamanan fisik dan kesejahteraan santri, termasuk pembentukan standar nasional keamanan bangunan pesantren.

“Pesantren adalah lembaga pendidikan yang berkontribusi besar bagi bangsa. Sudah semestinya negara hadir bukan hanya dalam seremoni, tetapi dalam perlindungan nyata terhadap keselamatan para santri,” pungkas Wahyu. *(Ewok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

REI Kalbar Hadiri Forum FORMAJAKON Bahas Implementasi LBS dan LP2B

19 Juni 2026 - 02:08 WIB

Nasyiatul Aisyiyah Kubu Raya Gelar “Go To School” Edukasi Cegah Anemia Remaja Putri

17 Mei 2026 - 20:25 WIB

BEM Untan dan Elemen Masyarakat Aksi di Kantor Gubernur Kalbar, Soroti Ketimpangan Buruh dan Pendidikan

4 Mei 2026 - 20:13 WIB

Jaringan Rumah Diskusi Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi”, Puluhan Pemuda Pontianak Serukan “Papua Bukan Tanah Kosong”

20 April 2026 - 12:54 WIB

Masjid Raya Mujahidin Pontianak Gelar I’tikaf 10 Malam Terakhir Ramadan, Remaja Mujahidin Siapkan 1.000 Porsi Sahur

13 Maret 2026 - 01:19 WIB

Trending di Kalimantan Barat