Breaking News

Opini, Gagasan dan Analisis

Selamat! Indonesia Ranking 2 Dunia Jurnal Bodong, Kualitas Pendidikan Tinggi Mau Ditaruh di Mana?

badge-check

Ilustrasi Foto: Dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).Perbesar

Ilustrasi Foto: Dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Gagasankalbar.com – Kalau ada perlombaan menerbitkan jurnal bodong, Indonesia rupanya tidak pulang dengan tangan kosong. Bahkan, kita disebut berhasil menduduki posisi kedua dunia. Sebuah pencapaian yang rasanya tidak perlu dirayakan dengan seminar internasional.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengungkapkan bahwa Indonesia berada di posisi kedua dunia dalam publikasi jurnal predator. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Perguruan Tinggi di Universitas Indonesia, Depok, Kamis (22/10/2026).

Stella menyinggung kebijakan Beban Kerja Dosen (BKD) pada masa lalu yang mewajibkan publikasi setiap tahun. Target publikasi memang tercapai, tetapi hasilnya justru menjadi persoalan bagi dunia pendidikan tinggi.

Di sinilah kita perlu bertanya: sebenarnya apa yang sedang dikejar pendidikan tinggi kita? Ilmu pengetahuan atau sekadar angka yang bisa dimasukkan ke laporan kinerja?

Persoalan ini bukan hanya tentang jurnal bodong. Ada persoalan lebih besar mengenai budaya akademik yang terlalu sibuk mengejar kuantitas, sementara kualitas penelitian dan pembelajaran belum tentu mendapatkan perhatian yang sama.

Yang Penting Terbit, Mutu Belakangan?

Jurnal predator merupakan penerbitan ilmiah yang mengeksploitasi kebutuhan akademisi untuk memublikasikan karya dengan mengabaikan standar editorial dan proses penelaahan ilmiah yang semestinya.

Penelitian Macháček dan Srholec mengenai publikasi jurnal predator periode 2015–2017 pernah menempatkan Indonesia di posisi kedua berdasarkan persentase artikel yang terindikasi diterbitkan melalui jurnal predator. Kazakhstan berada di posisi pertama sebesar 17 persen, Indonesia 16,73 persen, Irak 12,94 persen, Albania 12,08 persen, dan Malaysia 11,60 persen.

Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Penelitian itu telah ditarik kembali (retracted) pada 2021 sehingga tidak dapat dijadikan gambaran kondisi terkini ataupun bukti final posisi Indonesia. Meski begitu, persoalan integritas publikasi ilmiah tetap layak menjadi perhatian.

Publikasi ilmiah seharusnya menjadi ruang pertukaran pengetahuan. Ada proses membaca, mengamati, menguji, berdiskusi, dan mempertanggungjawabkan hasil penelitian.

Jika semua proses itu hanya dijadikan jalan untuk memenuhi target penerbitan, apa sebenarnya yang sedang dibangun?

Kita tidak sedang meremehkan pentingnya publikasi. Dosen memang perlu meneliti dan menghasilkan karya ilmiah. Perguruan tinggi juga perlu produktif. Persoalannya muncul ketika jumlah artikel lebih dihargai daripada kedalaman penelitian dan manfaatnya.

Tridharma Jangan Hanya Jadi Urusan Laporan

Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Tridharma Perguruan Tinggi mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketiganya bukan sekadar daftar kewajiban yang harus diisi dalam laporan kinerja dosen.

Mengajar bukan hanya menyelesaikan materi perkuliahan. Meneliti bukan sekadar menerbitkan artikel. Mengabdi juga bukan sebatas mendokumentasikan kegiatan untuk melengkapi administrasi.

Ada mahasiswa yang harus dididik, ilmu pengetahuan yang perlu dikembangkan, dan persoalan masyarakat yang membutuhkan perhatian akademisi.

Bayangkan jika dosen terlalu disibukkan dengan target publikasi, laporan kinerja, dan persyaratan kenaikan jabatan akademik. Waktu untuk membaca perkembangan ilmu, memperbaiki metode pembelajaran, mendampingi mahasiswa, dan melakukan penelitian mendalam bisa semakin terbatas.

Dosen bukan mesin pencetak jurnal. Mereka juga pendidik yang memiliki tanggung jawab membangun cara berpikir generasi muda.

Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tinggi perlu dikembalikan pada keseimbangan Tridharma. Jangan sampai publikasi penelitian begitu diperhatikan, sementara kualitas pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat hanya menjadi pelengkap laporan.

Mahasiswa Jangan Hanya Pandai Mengumpulkan Tugas

Persoalan pendidikan tinggi juga terlihat dari budaya literasi mahasiswa.

Kampus seharusnya menjadi tempat berkembangnya kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi, dan berpikir kritis. Mahasiswa tidak cukup hanya datang ke ruang kuliah, menerima materi, mengerjakan tugas, memperoleh nilai, lalu menyelesaikan pendidikan dengan ijazah.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku. Lebih dari itu, literasi adalah kemampuan memahami informasi, membedakan fakta dan opini, menguji argumentasi, serta menghasilkan gagasan berdasarkan pengetahuan.

Mahasiswa perlu dibiasakan membaca berbagai referensi, menulis secara ilmiah, dan berani mempertanyakan sesuatu. Mereka juga membutuhkan ruang untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapat dengan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jangan sampai mahasiswa lebih sibuk mengumpulkan sertifikat kegiatan daripada memperkaya bacaan. Jangan pula sampai kemampuan menyelesaikan tugas lebih berkembang daripada kemampuan memahami persoalan.

Perpustakaan, forum diskusi, organisasi kemahasiswaan, kelompok penelitian, dan kegiatan menulis harus menjadi bagian dari kehidupan akademik.

Perguruan tinggi bukan tempat mencetak orang yang hanya pandai menjawab soal ujian. Kampus harus melahirkan manusia yang mampu berpikir, menganalisis, dan memberikan solusi.

Pendidikan Tinggi Jangan Terjebak Perlombaan Angka

Kita sering mendengar perguruan tinggi membanggakan jumlah publikasi, peringkat internasional, akreditasi, dan berbagai capaian administratif. Semua itu memang penting sebagai bagian dari pengembangan institusi.

Akan tetapi, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kualitas pembelajaran ikut meningkat? Apakah mahasiswa semakin kuat dalam berpikir kritis? Apakah penelitian yang dihasilkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat?

Apalagi perguruan tinggi di daerah memiliki banyak persoalan nyata yang bisa dijadikan ruang penelitian. Kemiskinan, pendidikan, lingkungan, kebudayaan, ekonomi masyarakat, hingga pelayanan publik membutuhkan perhatian akademisi.

Hasil penelitian semestinya tidak berhenti di rak perpustakaan atau menjadi lampiran laporan kenaikan jabatan. Ilmu pengetahuan harus bisa keluar dari lingkungan kampus dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Pemerintah perlu memastikan sistem penilaian akademik tidak semata-mata mendorong kuantitas. Pimpinan perguruan tinggi juga harus memberikan ruang bagi dosen untuk mengembangkan penelitian berkualitas. Mahasiswa perlu mendapatkan lingkungan yang menghidupkan budaya literasi.

Kita tentu ingin publikasi ilmiah Indonesia semakin meningkat dan diakui dunia. Akan tetapi, peningkatan tersebut harus berjalan bersama integritas, mutu penelitian, kualitas pengajaran, dan pelaksanaan Tridharma.

Pendidikan tinggi bukan pabrik jurnal dan ijazah. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar, yaitu mencerdaskan manusia, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menjawab persoalan bangsa.

Kritik terhadap budaya mengejar kuantitas publikasi ini juga disampaikan langsung oleh Stella Christie. Ia menggambarkan bagaimana target publikasi dapat tercapai, tetapi hasilnya justru menjadi persoalan bagi reputasi akademik Indonesia.

“Tercapai (targetnya)? Tercapai. Apa hasilnya? Kita menjadi nomor dua yang paling banyak publikasi di jurnal bodong di seluruh dunia,” ujar Stella.

Kalimat tersebut seharusnya menjadi bahan renungan bagi seluruh penyelenggara pendidikan tinggi. Jangan sampai kita berhasil mencetak banyak publikasi, tetapi gagal membangun budaya membaca. Berhasil mengejar angka, tetapi lupa meningkatkan mutu. Berhasil menghasilkan gelar, tetapi belum tentu berhasil menumbuhkan cara berpikir.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Strategi Bahasa dalam Iklan Makanan

14 Okt 2026 - 02:40 WIB

Strategi Bahasa dalam Iklan Makanan

Benarkah Ulasan Shopee adalah Ruang untuk Berargumentasi?

14 Okt 2026 - 02:11 WIB

Benarkah Ulasan Shopee adalah Ruang untuk Berargumentasi?

DAYA PERSUASI SKINCARE LOKAL

14 Okt 2026 - 02:06 WIB

DAYA PERSUASI SKINCARE LOKAL

Pergeseran Makna Bahasa Gaul

14 Okt 2026 - 02:02 WIB

Pergeseran Makna Bahasa Gaul

Ujaran Kebencian sebagai Alat Kuasa

14 Okt 2026 - 01:56 WIB

Ujaran Kebencian sebagai Alat Kuasa
Trending di Opini, Gagasan dan Analisis