Breaking News

Opini, Gagasan dan Analisis

Strategi Bahasa dalam Iklan Makanan

badge-check

Ilustrasi dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Perbesar

Ilustrasi dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Oleh: Lisa Riyanti

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang

Gagasankalbar.com – Pernahkah kita mengingat sebuah produk makanan hanya karena slogannya yang menarik? Misalnya, slogan “Indomie, seleraku!” atau “Apa pun makanannya, minumnya Sosro.” Kedua slogan tersebut menggunakan kalimat sederhana yang mudah dikenali masyarakat. Bahkan, ketika mendengar slogan tersebut, konsumen dapat langsung menghubungkannya dengan merek tertentu. Fenomena ini menunjukkan bahwa slogan tidak hanya berfungsi untuk memperkenalkan produk, tetapi juga membantu membangun ingatan dan kesan konsumen terhadap suatu merek.

Persaingan produk makanan dan minuman membuat produsen perlu menemukan cara untuk menarik perhatian konsumen. Gambar yang menarik memang penting, tetapi kata-kata juga berperan dalam membangun daya tarik sebuah produk. Slogan biasanya dibuat singkat, unik, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari agar mudah dipahami. Jika diperhatikan lebih jauh, slogan tidak sekadar menyusun kata-kata yang menarik, tetapi juga menggunakan strategi kebahasaan. Dua aspek yang dapat membantu menjelaskan strategi tersebut adalah kohesi dan koherensi.

Bahasa yang Mudah Diingat

Kohesi merupakan keterkaitan unsur bahasa yang membuat bagian-bagian dalam teks saling terhubung. Dalam iklan, kohesi dapat ditemukan melalui pengulangan kata, penggunaan kata rujukan, konjungsi, dan susunan kalimat yang teratur. Sadzili, Adham, dan Triyadi (2021), dalam penelitian tentang gaya bahasa dan pola sintaksis slogan iklan makanan di televisi, menemukan bahwa asonansi atau pengulangan bunyi vokal menjadi salah satu gaya bahasa yang banyak digunakan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa daya tarik slogan tidak hanya bergantung pada pilihan kata, tetapi juga pada bunyi dan susunan kalimat.

Contohnya terlihat pada slogan Chitato, “Lagi-lagi dan lagi.” Pengulangan kata lagi memberikan penekanan dan menciptakan irama yang mudah dikenali. Slogan Nissin Crispy Crackers, “Bikin dekat bikin akrab,” juga menggunakan pengulangan kata bikin sehingga susunan kalimatnya terasa seimbang. Pengulangan kata dalam kedua slogan tersebut membantu memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada konsumen. Dengan kata-kata sederhana dan pola yang teratur, slogan menjadi lebih mudah diingat. Hal ini menunjukkan bahwa pilihan bahasa dapat membantu membentuk ciri khas suatu produk di tengah banyaknya iklan.

Strategi kebahasaan lainnya dapat ditemukan dalam slogan Oreo, “Diputar, dijilat, dicelupin.” Slogan ini menyajikan rangkaian tindakan yang menggambarkan cara menikmati biskuit. Susunan kata yang berirama membuat slogan memiliki ciri khas tersendiri dan mudah dikenali. Selain memperkenalkan produk, slogan ini juga menghubungkannya dengan pengalaman tertentu. Contoh tersebut menunjukkan bahwa bahasa iklan dapat digunakan untuk membangun gambaran tentang cara konsumen berinteraksi dengan produk.

Namun, slogan yang mudah diingat belum tentu menyampaikan pesan yang jelas. Konsumen perlu mengetahui hubungan antara kata-kata yang digunakan dan produk yang ditawarkan. Di sinilah koherensi berperan, yaitu memastikan bahwa hubungan makna dalam pesan iklan dapat dipahami secara logis. Kohesi membantu menghubungkan unsur-unsur bahasa, sedangkan koherensi membantu membangun keterpaduan makna. Keduanya dapat digunakan untuk memahami bagaimana sebuah slogan disusun agar menarik sekaligus mudah dipahami oleh masyarakat.

Makna yang Dekat

Koherensi merupakan hubungan makna antarbagiannya sehingga sebuah teks dapat dipahami sebagai satu kesatuan yang logis. Sukayana, Kasni, dan Budiarta (2022), dalam penelitian mengenai struktur wacana iklan produk makanan di televisi, menjelaskan bahwa iklan disusun dengan memperhatikan struktur pesan serta aspek semantik dan sintaksis. Penelitian tersebut juga menyoroti hubungan antargagasan yang membentuk keterpaduan wacana. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa iklan bukan sekadar kumpulan kata yang menarik, melainkan pesan yang dirancang secara teratur untuk membangun pemahaman dan menarik perhatian masyarakat.

Salah satu contohnya adalah slogan Teh Botol Sosro, “Apa pun makanannya, minumnya Sosro.” Kalimat tersebut menghubungkan kegiatan makan dengan pilihan minuman sehingga membangun kesan bahwa produk dapat menemani berbagai jenis makanan. Contoh lain terdapat pada slogan Roma Malkist, “Renyahnya bikin nagih.” Kata renyah menggambarkan tekstur produk, sedangkan ungkapan bikin nagih memberikan kesan bahwa produk tersebut menyenangkan untuk dinikmati kembali. Kedua contoh tersebut menunjukkan hubungan makna antara karakteristik produk dan pengalaman konsumen yang ingin dibangun melalui bahasa iklan.

Hubungan makna yang bersifat emosional juga terlihat dalam slogan Tango, “Wafer berlapis penuh cinta.” Ungkapan penuh cinta menghubungkan produk dengan kasih sayang dan kebersamaan. Melalui pilihan kata tersebut, iklan tidak hanya memperkenalkan wafer, tetapi juga membangun gambaran emosional yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Strategi ini memperlihatkan bahwa pesan iklan dapat dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari, seperti menikmati makanan bersama keluarga atau teman. Dengan demikian, bahasa dapat membentuk asosiasi tertentu terhadap produk melalui hubungan antara karakteristik barang dan perasaan yang ingin ditonjolkan.

Berdasarkan kajian terhadap slogan dan kalimat promosi produk makanan dan minuman, kohesi dan koherensi dapat digunakan sebagai sudut pandang untuk melihat strategi bahasa dalam iklan. Kohesi membantu menjelaskan keterkaitan unsur bahasa, seperti pengulangan kata dan susunan kalimat, sedangkan koherensi membantu menjelaskan hubungan makna antara produk dan pesan yang disampaikan. Kedua aspek tersebut menunjukkan bahwa daya tarik slogan tidak hanya terletak pada pilihan kata, tetapi juga pada cara pesan disusun dan dipahami. Meskipun demikian, kajian kebahasaan ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa slogan berhasil meningkatkan penjualan atau mengubah keputusan konsumen. Karena itu, masyarakat perlu membaca keterangan pada kemasan dan mempertimbangkan informasi yang relevan sebelum menentukan pilihan.

Pada akhirnya, bahasa dalam iklan bukan sekadar alat untuk menyusun kata-kata yang menarik. Melalui kohesi dan koherensi, slogan dapat memperkuat identitas merek, membangun kedekatan emosional, dan memengaruhi cara masyarakat memandang produk. Implikasinya, konsumen perlu meningkatkan kemampuan berpikir kritis agar tidak menjadikan slogan sebagai satu-satunya dasar keputusan membeli. Produsen juga perlu menggunakan bahasa secara kreatif, jelas, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, masyarakat dapat menjadi konsumen yang lebih bijak, sementara iklan tetap berfungsi sebagai sarana komunikasi yang menarik dan informatif.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Benarkah Ulasan Shopee adalah Ruang untuk Berargumentasi?

14 Okt 2026 - 02:11 WIB

Benarkah Ulasan Shopee adalah Ruang untuk Berargumentasi?

DAYA PERSUASI SKINCARE LOKAL

14 Okt 2026 - 02:06 WIB

DAYA PERSUASI SKINCARE LOKAL

Pergeseran Makna Bahasa Gaul

14 Okt 2026 - 02:02 WIB

Pergeseran Makna Bahasa Gaul

Ujaran Kebencian sebagai Alat Kuasa

14 Okt 2026 - 01:56 WIB

Ujaran Kebencian sebagai Alat Kuasa

Kapuas sebagai Masa Depan Logistik Kalimantan

13 Okt 2026 - 02:32 WIB

Kapuas sebagai Masa Depan Logistik Kalimantan
Trending di Opini, Gagasan dan Analisis