Breaking News

Opini, Gagasan dan Analisis

Benarkah Ulasan Shopee adalah Ruang untuk Berargumentasi?

badge-check

 Ilustrasi dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Perbesar

Ilustrasi dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Oleh: Yogi Martiana Setia Putri

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang

Gagasankalbar.com – Setiap hari, jutaan orang Indonesia melakukan hal yang tampak sepele saat membaca kolom ulasan sebelum menekan tombol beli. Kita menggulir layar, mencari foto dari pembeli lain, dan menimbang komentar mana yang layak dipercaya. Tanpa disadari, kebiasaan ini merupakan latihan berargumentasi dalam skala nasional. Kolom ulasan Shopee bukan sekadar pelengkap transaksi, melainkan ruang wacana tempat masyarakat belajar menyampaikan pendapat dengan alasan dan bukti.

Alasannya sederhana. Di toko daring, kita tidak bisa memegang kain, mencoba ukuran, atau memeriksa jahitan secara langsung. Ketidakpastian tersebut diisi oleh pengalaman pembeli sebelumnya. Oleh karena itu, ulasan menjadi sumber informasi yang sering kali lebih dipercaya daripada deskripsi penjual. Marketplace pun berubah fungsi, bukan lagi sekadar tempat jual beli, melainkan juga ruang pertukaran pengalaman.

Ketika Ulasan Menjadi Argumen

Jika dicermati, banyak ulasan memiliki struktur argumentasi yang cukup jelas. Ambil contoh, “Tasnya bagus, bahannya tebal, jahitannya rapi, dan ukurannya sesuai deskripsi.” Kata “bagus” merupakan pendapat, sedangkan bahan, jahitan, dan ukuran menjadi alasan yang mendukung pendapat tersebut. Ulasan negatif bekerja dengan cara serupa, yaitu ketika suatu produk dinyatakan mengecewakan karena warnanya berbeda dari foto dan bahannya terlalu tipis. Gorys Keraf menyebut argumentasi sebagai upaya memengaruhi sikap dan pendapat orang lain melalui alasan yang logis. Hal inilah yang dilakukan para pembeli, meskipun mereka mungkin tidak pernah mempelajari teori retorika.

Eriyanto mengingatkan bahwa wacana tidak berhenti pada rangkaian kata, tetapi juga berkaitan erat dengan praktik sosial dan konteks penggunaannya. Ulasan Shopee mencerminkan hal tersebut. Frasa seperti “worth it”, “recommended”, atau “tidak sesuai ekspektasi” lahir dari pengalaman transaksi nyata, kemudian dibaca dan digunakan orang lain untuk mengambil keputusan. Foto dan video turut memperkuat ulasan tersebut. Bukti visual membuat klaim lebih mudah diperiksa sehingga calon pembeli dapat membandingkannya secara langsung dengan deskripsi yang diberikan penjual.

Perubahan ini patut dicatat karena turut menggeser cara masyarakat memperoleh pengetahuan sehari-hari. Dahulu, kepercayaan konsumen banyak dibentuk oleh iklan dan reputasi merek. Kini, kepercayaan tersebut juga dipengaruhi oleh pengalaman sesama pembeli yang membagikan ulasan berdasarkan transaksi mereka.

Namun, tidak semua ulasan memiliki kualitas yang sama. Komentar “Bagus banget, recommended” memang bernada positif, tetapi hampir tidak memberikan informasi yang terperinci. Ulasan yang menjelaskan bahan, ukuran, warna, dan kesesuaian produk dengan deskripsi jauh lebih berguna karena hubungan antara pendapat dan alasannya terlihat jelas. Dengan kata lain, nilai sebuah ulasan tidak hanya ditentukan oleh jumlah bintang, tetapi juga oleh kualitas argumentasinya. Ulasan negatif yang disertai penjelasan dan foto bahkan dapat lebih meyakinkan daripada puluhan pujian singkat karena memberikan gambaran mengenai kekurangan produk dan menjadi bahan pertimbangan bagi konsumen lain.

Dari Kritik Menuju Akuntabilitas

Kita juga dapat mengambil pelajaran dari sisi penulis ulasan. Merasa kecewa terhadap suatu produk merupakan hal yang wajar. Namun, menyampaikan kekecewaan dengan kalimat yang jelas, sopan, dan berdasarkan fakta akan jauh lebih bermanfaat daripada sekadar meluapkan emosi. Dari sini, terlihat adanya pergeseran penting dalam peran konsumen.

Konsumen tidak lagi menjadi penerima informasi yang pasif. Mereka juga berperan sebagai produsen wacana. Pengalaman pribadi diubah menjadi informasi publik yang memengaruhi cara orang lain menilai suatu produk, bahkan reputasi sebuah toko. Penjual yang mengabaikan keluhan dapat merasakan dampaknya, sedangkan penjual yang tanggap dan jujur berpeluang memperoleh kepercayaan konsumen. Mekanisme akuntabilitas sederhana ini tumbuh dari partisipasi masyarakat tanpa harus menunggu perintah dari pihak lain.

Meski demikian, kita tetap perlu bersikap kritis. Pengalaman satu orang belum tentu mewakili pengalaman semua pengguna karena kebutuhan, ekspektasi, dan cara pemakaian produk dapat berbeda-beda. Ulasan juga berpotensi dimanipulasi, dibuat secara berlebihan, atau ditulis demi imbalan tertentu. Karena itu, membaca ulasan secara kritis sama pentingnya dengan menulisnya secara jujur. Kita perlu mempertanyakan apakah alasan yang disampaikan jelas, apakah pengalaman yang diceritakan konkret, dan apakah terdapat bukti yang mendukungnya.

Kemampuan menyaring informasi inilah yang membedakan konsumen cerdas dari konsumen yang sekadar terbawa arus. Platform juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan pengguna. Shopee dan marketplace lainnya perlu memastikan agar kolom ulasan terlindungi dari manipulasi. Tanpa ulasan yang dapat dipercaya, ruang argumentasi ini akan kehilangan maknanya.

Belajar Kritis dari Ruang Digital

Menariknya, kebiasaan tersebut tidak berhenti pada aktivitas belanja. Masyarakat yang terbiasa menuntut alasan dan bukti atas kualitas suatu produk berpotensi menerapkan kebiasaan serupa ketika menilai kebijakan publik. Orang yang tidak puas karena menerima barang yang tidak sesuai dengan deskripsi dapat menjadi lebih peka ketika menemukan janji pejabat yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam hal ini, budaya argumentasi di ruang digital dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan demokrasi yang sehat.

Pelajaran tersebut terutama relevan bagi generasi muda yang kelak akan memegang peran dalam kepemimpinan. Pemimpin yang baik semestinya bersikap seperti penjual yang bertanggung jawab, yaitu terbuka terhadap kritik, bersedia mendengarkan keluhan, dan mampu mempertanggungjawabkan keputusannya dengan alasan yang dapat diuji. Pemimpin yang alergi terhadap kritik ibarat toko yang menghapus semua ulasan buruk. Sekilas, toko tersebut mungkin tampak meyakinkan, tetapi lambat laun dapat kehilangan kepercayaan masyarakat.

Karena itu, kita perlu memandang kolom ulasan dengan lebih serius. Menulis ulasan yang jujur, jelas, dan disertai bukti merupakan latihan sederhana untuk menjadi warga yang bertanggung jawab. Membacanya secara kritis merupakan latihan untuk menjadi warga yang tidak mudah dikelabui. Jika kedua kebiasaan ini terus dipelihara, kolom ulasan Shopee bukan hanya membantu kita mendapatkan barang yang sesuai harapan, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar untuk membentuk masyarakat yang berani menyampaikan pendapat, menghargai kritik, serta menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan dalam kehidupan bersama.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Strategi Bahasa dalam Iklan Makanan

14 Okt 2026 - 02:40 WIB

Strategi Bahasa dalam Iklan Makanan

DAYA PERSUASI SKINCARE LOKAL

14 Okt 2026 - 02:06 WIB

DAYA PERSUASI SKINCARE LOKAL

Pergeseran Makna Bahasa Gaul

14 Okt 2026 - 02:02 WIB

Pergeseran Makna Bahasa Gaul

Ujaran Kebencian sebagai Alat Kuasa

14 Okt 2026 - 01:56 WIB

Ujaran Kebencian sebagai Alat Kuasa

Kapuas sebagai Masa Depan Logistik Kalimantan

13 Okt 2026 - 02:32 WIB

Kapuas sebagai Masa Depan Logistik Kalimantan
Trending di Opini, Gagasan dan Analisis