Breaking News

Opini, Gagasan dan Analisis

Mahasiswa Makin Menjauh dari Organisasi: Bingung Membedakan Idealisme dan Materialisme?

badge-check

Mahasiswa Makin Menjauh dari Organisasi: Bingung Membedakan Idealisme dan Materialisme?Perbesar

Namun, di tengah perubahan kehidupan mahasiswa hari ini, muncul pertanyaan yang semakin relevan: mengapa sebagian mahasiswa semakin enggan terlibat dalam organisasi?

PONTIANAK — Organisasi mahasiswa pernah menjadi salah satu ruang penting untuk menempa keberanian, kepemimpinan, kemampuan berdiskusi, membaca persoalan sosial, sekaligus membangun kesadaran kritis.

Apakah karena organisasi tidak lagi menarik? Karena beban akademik semakin berat? Karena mahasiswa harus bekerja? Atau jangan-jangan karena terjadi perubahan cara pandang terhadap masa depan—dari mengejar pengalaman dan nilai perjuangan menuju orientasi yang lebih pragmatis?

Pertanyaan tersebut tidak sederhana. Bahkan, menyebut mahasiswa saat ini “tidak idealis” juga terlalu cepat jika tidak didukung data.

Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa partisipasi pemuda dalam organisasi memang merupakan indikator yang diukur dalam statistik kepemudaan. BPS mendefinisikan pemuda sebagai penduduk berusia 16–30 tahun dan memiliki indikator mengenai persentase pemuda yang mengikuti kegiatan organisasi dalam tiga bulan terakhir.

Namun, belum tepat mengatakan berdasarkan data nasional tersebut bahwa mahasiswa Indonesia secara keseluruhan sedang mengalami penurunan partisipasi organisasi, karena indikator BPS mencakup pemuda usia 16–30 tahun secara lebih luas, bukan hanya mahasiswa dan bukan hanya organisasi kemahasiswaan.

Di sinilah persoalan perlu dilihat lebih hati-hati.

Organisasi dan Perubahan Orientasi Mahasiswa

Mahasiswa hidup dalam situasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Kuliah bukan lagi satu-satunya aktivitas. Sebagian mahasiswa juga bekerja, membangun usaha, mengikuti kegiatan profesional, membuat konten, mengikuti komunitas, mengembangkan portofolio, hingga mempersiapkan diri memasuki pasar kerja.

Akibatnya, waktu dan energi menjadi sumber daya yang semakin diperebutkan.

Teori Student Involvement dari Alexander W. Astin menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa berkaitan dengan jumlah dan kualitas energi fisik maupun psikologis yang mereka investasikan dalam pengalaman pendidikan. Mahasiswa yang sangat terlibat dapat mengalokasikan energi untuk kegiatan akademik, interaksi dengan dosen dan mahasiswa lain, maupun organisasi mahasiswa.

Dengan teori tersebut, persoalan organisasi mahasiswa tidak cukup dilihat dari pertanyaan:

“Kenapa mahasiswa tidak mau berorganisasi?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Ke mana mahasiswa menginvestasikan waktu, energi, dan perhatian mereka?”

Jika energi mahasiswa terserap oleh pekerjaan, kuliah, keluarga, bisnis, komunitas digital atau aktivitas profesional lainnya, rendahnya kehadiran di organisasi belum tentu berarti mereka kehilangan kepedulian sosial.

Bisa jadi bentuk keterlibatannya telah berubah.

Ketika Idealisme Bertemu Kebutuhan Material

Persoalan menjadi lebih menarik ketika kita berbicara mengenai idealisme dan materialisme.

Idealisme dalam kehidupan mahasiswa dapat dipahami sebagai orientasi terhadap nilai, gagasan, keadilan, kepentingan sosial, perubahan dan cita-cita yang melampaui kepentingan pribadi.

Sementara orientasi material lebih berkaitan dengan kebutuhan ekonomi, pendapatan, keamanan finansial, pekerjaan, karier dan manfaat konkret yang dapat diperoleh seseorang.

Keduanya sebenarnya tidak selalu bertentangan.

Seorang mahasiswa dapat memperjuangkan isu sosial sekaligus memikirkan masa depan ekonominya.

Seorang aktivis dapat memiliki idealisme sekaligus ingin mendapatkan pekerjaan yang layak.

Seorang organisator dapat memperjuangkan kepentingan masyarakat sekaligus membangun jaringan profesional.

Persoalannya muncul ketika manfaat material menjadi satu-satunya ukuran kebermaknaan sebuah aktivitas.

Pada titik tersebut, organisasi mulai ditanya:

“Apa keuntungan saya?”

Bukan lagi:

“Apa yang bisa saya pelajari dan kontribusikan?”

Pertanyaan pertama tidak selalu salah. Mahasiswa memiliki kebutuhan nyata. Akan tetapi, jika seluruh aktivitas hanya dinilai berdasarkan keuntungan langsung, organisasi yang menawarkan proses belajar jangka panjang akan semakin sulit bersaing dengan aktivitas yang memberikan hasil instan.

Mahasiswa Bukan Tidak Idealis, Bisa Jadi Cara Menghitung Risikonya Berubah

Perubahan tersebut dapat dibaca melalui teori Self-Determination Theory (SDT) yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan.

Teori ini membedakan motivasi yang bersifat lebih otonom dengan motivasi yang dikendalikan faktor eksternal. SDT juga menempatkan tiga kebutuhan psikologis penting: autonomi, kompetensi dan keterhubungan (relatedness). Pemenuhan kebutuhan tersebut berkaitan dengan motivasi yang lebih berkualitas.

Dalam konteks organisasi mahasiswa, teori tersebut memberikan pertanyaan penting.

Apakah mahasiswa merasa memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan?

Apakah mereka merasa berkembang?

Apakah organisasi membuat mereka merasa memiliki hubungan sosial yang bermakna?

Apakah mereka melihat adanya manfaat dari proses yang dijalani?

Jika jawabannya tidak, organisasi dapat kehilangan daya tarik meskipun memiliki sejarah panjang dan idealisme besar.

Dengan demikian, persoalan bukan semata-mata mahasiswa menjadi materialistis.

Bisa jadi organisasi gagal menjelaskan bagaimana idealisme dapat diterjemahkan menjadi pengalaman, kompetensi, jaringan dan kontribusi nyata.

Organisasi Jangan Hanya Menjual Perjuangan

Ada masalah lain yang sering terjadi.

Organisasi terkadang meminta mahasiswa untuk berkorban waktu, tenaga dan pikiran, tetapi tidak selalu memberikan ruang pembelajaran yang sepadan.

Rapat berlangsung berjam-jam.

Kegiatan dilakukan berulang.

Regenerasi berjalan secara administratif.

Namun, anggota tidak memperoleh kesempatan yang cukup untuk belajar mengelola program, berbicara di depan publik, menulis, melakukan riset, membangun jejaring, mengelola keuangan, memimpin tim atau menyelesaikan konflik.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, wajar apabila mahasiswa kemudian bertanya mengenai relevansi organisasi dengan kehidupan mereka.

Padahal, organisasi sebenarnya dapat menjadi laboratorium kepemimpinan.

Mahasiswa dapat belajar hal-hal yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.

Bagaimana memimpin orang yang berbeda karakter.

Bagaimana menyusun argumentasi.

Bagaimana menghadapi kritik.

Bagaimana mengambil keputusan.

Bagaimana mempertanggungjawabkan program.

Bagaimana membangun komunikasi publik.

Dan yang paling penting, bagaimana mempertahankan nilai ketika berhadapan dengan kepentingan.

Idealisme Tanpa Kompetensi Juga Bermasalah

Idealisme tidak cukup hanya diwujudkan melalui slogan.

Jika organisasi ingin tetap relevan, idealisme harus diterjemahkan menjadi kemampuan.

Mahasiswa yang memperjuangkan isu pendidikan, misalnya, perlu memahami data pendidikan.

Mahasiswa yang berbicara mengenai ekonomi masyarakat perlu belajar membaca indikator ekonomi.

Mahasiswa yang memperjuangkan demokrasi perlu memahami hukum, institusi dan mekanisme kebijakan.

Artinya, organisasi harus mampu mengubah idealisme menjadi kompetensi.

Di sinilah organisasi memiliki peluang besar.

Ketika dunia kerja semakin membutuhkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, pemecahan masalah dan adaptasi, pengalaman organisasi sebenarnya dapat menjadi bagian dari proses pengembangan diri mahasiswa.

Teori Astin bahkan menempatkan aktivitas organisasi mahasiswa sebagai salah satu bentuk keterlibatan yang dapat menjadi bagian dari pengalaman pendidikan mahasiswa.

Tetapi Organisasi Juga Harus Berbenah

Menurunnya minat terhadap organisasi—jika memang terjadi di lingkungan kampus tertentu—tidak seharusnya seluruh kesalahan dibebankan kepada mahasiswa.

Organisasi juga perlu melakukan evaluasi.

Apakah kaderisasi terlalu panjang?

Apakah budaya senioritas menghambat anggota baru?

Apakah rapat terlalu banyak?

Apakah kegiatan benar-benar memberikan pengalaman belajar?

Apakah organisasi mampu memberikan ruang bagi mahasiswa yang bekerja?

Apakah kepemimpinan organisasi membuka ruang kritik?

Apakah organisasi memiliki agenda yang relevan dengan persoalan mahasiswa hari ini?

Pertanyaan tersebut jauh lebih produktif daripada sekadar menyebut generasi sekarang sebagai generasi materialistis.

Metodologi: Jangan Menebak, Ukur Fenomenanya

Jika isu ini hendak dibuktikan secara akademik, diperlukan penelitian yang lebih terukur.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah mixed methods, yaitu menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif.

1. Penelitian Kuantitatif

Survei dapat dilakukan terhadap mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi.

Variabel yang dapat diukur antara lain:

  • intensitas mengikuti organisasi;
  • jumlah jam per minggu yang digunakan untuk organisasi;
  • motivasi mengikuti organisasi;
  • persepsi manfaat organisasi;
  • tekanan akademik;
  • aktivitas bekerja atau berwirausaha;
  • orientasi karier;
  • kebutuhan finansial;
  • kepercayaan terhadap organisasi;
  • kepuasan terhadap organisasi;
  • keinginan untuk melanjutkan keterlibatan.

Sampel dapat ditentukan secara proporsional berdasarkan perguruan tinggi dan semester.

2. Penelitian Kualitatif

Wawancara mendalam dapat dilakukan kepada tiga kelompok:

Pertama, mahasiswa yang aktif berorganisasi.

Kedua, mahasiswa yang pernah aktif tetapi kemudian berhenti.

Ketiga, mahasiswa yang tidak pernah bergabung dengan organisasi.

Pertanyaan dapat diarahkan pada pengalaman, alasan memilih atau meninggalkan organisasi, persepsi terhadap idealisme, kebutuhan ekonomi dan pandangan mereka terhadap masa depan.

3. Observasi Organisasi

Penelitian juga dapat mengamati:

  • pola rapat;
  • kaderisasi;
  • pembagian kerja;
  • hubungan senior-junior;
  • bentuk pengambilan keputusan;
  • kegiatan sosial;
  • ruang diskusi;
  • mekanisme evaluasi;
  • serta keterlibatan anggota dalam program.

4. Analisis

Data kuantitatif dapat dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan, jika desain penelitian memungkinkan, analisis hubungan atau regresi.

Sementara data wawancara dapat dianalisis melalui thematic analysis untuk menemukan tema-tema seperti idealisme, karier, ekonomi, pengalaman organisasi, kejenuhan, kepemimpinan dan relevansi organisasi.

Dengan metode tersebut, kita tidak sekadar mengatakan:

“Mahasiswa sekarang materialistis.”

Tetapi dapat menguji pertanyaan yang lebih ilmiah:

“Faktor apa yang berkaitan dengan rendahnya keterlibatan mahasiswa dalam organisasi?”

Organisasi dan Masa Depan Mahasiswa

Perdebatan idealisme dan materialisme seharusnya tidak berakhir pada pilihan salah satu.

Mahasiswa membutuhkan idealisme agar pendidikan tidak kehilangan orientasi sosial.

Mahasiswa juga membutuhkan kemampuan ekonomi agar dapat hidup mandiri.

Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana keduanya ditempatkan secara proporsional.

Idealisme tanpa kemampuan mengelola realitas dapat berubah menjadi slogan.

Sebaliknya, orientasi material tanpa nilai dapat membuat pendidikan hanya dipandang sebagai jalan menuju pekerjaan.

Universitas dan organisasi mahasiswa memiliki pekerjaan rumah yang sama: membangun ruang yang memungkinkan mahasiswa memperoleh nilai sekaligus kompetensi, pengabdian sekaligus pengalaman, serta idealisme sekaligus kemandirian.

Karena itu, ketika mahasiswa mulai menjauh dari organisasi, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya:

“Mengapa mahasiswa tidak lagi idealis?”

Tetapi juga:

“Apakah organisasi masih mampu menawarkan ruang yang membuat idealisme mahasiswa relevan dengan kehidupan nyata?”

Pertanyaan tersebut penting karena organisasi mahasiswa bukan sekadar tempat berkumpul.

Ia dapat menjadi ruang untuk belajar menjadi warga negara, pemimpin, profesional sekaligus manusia yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Namun, untuk mengetahui apakah benar terjadi penurunan partisipasi organisasi mahasiswa, dibutuhkan penelitian empiris pada kampus dan wilayah tertentu. Data BPS menyediakan kerangka indikator partisipasi pemuda, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan tren penurunan khusus mahasiswa.

Maka, persoalannya bukan sekadar idealisme versus materialisme.

Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana generasi mahasiswa hari ini menentukan apa yang layak diperjuangkan, apa yang perlu dipelajari, dan untuk masa depan seperti apa energi mereka akan digunakan.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Right to the City dan Krisis Ekologis Kalimantan Barat

19 Sep 2026 - 02:11 WIB

Right to the City dan Krisis Ekologis Kalimantan Barat

Ketika Kekuasaan Berhadapan dengan Cermin!! Polemik Keluarga Bupati, Reaksi Jiwo, dan Satire tentang Etika Kekuasaan

16 Agu 2026 - 20:50 WIB

Ketika Kekuasaan Berhadapan dengan Cermin!!  Polemik Keluarga Bupati, Reaksi Jiwo, dan Satire tentang Etika Kekuasaan

Kalau Hari Ini Kamu Belum Berhasil, Bukan Berarti Perjuanganmu Sia-Sia

12 Agu 2026 - 16:01 WIB

Kalau Hari Ini Kamu Belum Berhasil, Bukan Berarti Perjuanganmu Sia-Sia

Belukar, Pebisnis Modal Liur yang Lebih Lincah dari Sales Asuransi

8 Agu 2026 - 04:28 WIB

Belukar, Pebisnis Modal Liur yang Lebih Lincah dari Sales Asuransi

Bukan Salahmu Menjadi Perempuan: Sebuah Refleksi tentang Perempuan dan Kesetaraan

8 Agu 2026 - 00:19 WIB

Bukan Salahmu Menjadi Perempuan: Sebuah Refleksi tentang Perempuan dan Kesetaraan
Trending di Opini, Gagasan dan Analisis