Warkop Pontianak dan Alarm Gula: Ketika Ngopi Tak Lagi Sekadar Budaya - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Jelang Temu Karya, Keterbukaan Penjaringan Calon Ketua Karang Taruna Kabupateen/Kota Jadi Harapan Kader Caketum PBNU Gus Salam Silaturahim dengan PWNU dan PCNU se-Kalbar, Tegaskan Pentingnya Persatuan dan Penguatan Organisasi NU Amerika Serikat Gagal ke Perempat Final, Belgia Menang Telak 4-1 di Piala Dunia 2026 Portugal Tersingkir Dramatis, Spanyol Menang 1-0 di Menit Akhir Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 Solmadapar Desak PLN Kalbar Berikan Kompensasi atas Pemadaman Listrik Bawaslu Kalbar Pastikan Rekapitulasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan Semester I 2026 Berjalan Sesuai Prosedur

Opini, Gagasan dan Analisis

Warkop Pontianak dan Alarm Gula: Ketika Ngopi Tak Lagi Sekadar Budaya

badge-check


Warkop Pontianak dan Alarm Gula: Ketika Ngopi Tak Lagi Sekadar Budaya Perbesar

Gagasankalbar.com – Orang Pontianak lahir dengan kopi di tangan. Atau setidaknya begitulah kesannya, kalau anda berjalan di kota ini pada pukul enam pagi (bahkan sehabis shubuh pun) dan mendapati warkop sudah penuh, asap rokok sudah mengepul, dan percakapan sudah riuh sebelum matahari sempat benar-benar naik. Di kota dengan 682 ribu jiwa ini, siapa pun yang berjalan di pusat kota akan menjumpai setidaknya dua kedai kopi dalam setiap 500 meter.

Bukan berlebihan. Ini aritmetika kota. Per Agustus 2025, Bapenda Kota Pontianak mencatat 1.035 usaha warung kopi dan coffee shop yang tersebar di enam kecamatan. Angka itu bukan puncak, ia tampak seperti titik awal dari sesuatu yang belum selesai tumbuh. Tapi kita perlu jujur soal satu hal: kopi yang diminum hari ini bukan lagi kopi yang diminum kakek kita. Kopi kakek kita hitam, pahit, dan kalau beruntung ada sedikit gula batu di pinggir cangkir.

Kopi kita hari ini datang dalam gelas plastik ukuran jumbo, berlapis susu kental manis, gula aren, sirup karamel, dan terkadang topping yang kalau dihitung satu per satu kandungan gulanya bisa membuat dokter menghela napas panjang. Kita menyebutnya kopi susu. Tapi mungkin lebih jujur kalau kita menyebutnya minuman manis yang sesekali melewatkan biji kopi dalam prosesnya.

Tidak ada yang benar-benar salah dengan itu, kecuali kalau kamu meminumnya dua kali sehari, tujuh hari seminggu, di kota yang punya lebih dari seribu alasan untuk melakukannya. Di sinilah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin masuk ke dalam cerita. April lalu, pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 yang mewajibkan pelaku usaha pangan skala besar mencantumkan label Nutri Level pada produk mereka, termasuk boba, teh tarik, kopi susu aren, hingga jus.

Sistemnya sederhana: huruf dan warna. A hijau tua berarti aman, D merah berarti kamu sedang mempertaruhkan sesuatu. Menkes bahkan ingin ini jadi gerakan FOMO. “Jadikan bahwa hidup sehat itu keren,” katanya. Kalimat itu terdengar optimis dengan cara yang agak menyentuh, seperti orang tua yang masih percaya anaknya bisa diajak bicara soal sayuran. Optimisme itu, bagaimanapun, punya fondasi yang tidak bisa diabaikan.

Biaya penanganan gagal ginjal yang ditanggung BPJS melonjak lebih dari 400 persen dari Rp 2,32 triliun pada 2019 menjadi Rp 13,38 triliun di 2025. Itu bukan statistik abstrak. Itu uang, dan di balik uang itu ada orang-orang yang ginjalnya menyerah lebih cepat dari yang seharusnya. Program Cek Kesehatan Gratis bahkan menemukan kasus diabetes yang tinggi pada anak-anak. Sekali lagi, anak-anak.Kita hidup di kota yang menganggap ngopi sebagai bentuk keakraban. Tidak datang ke warkop bisa terasa seperti menghindar dari pertemanan.

Menolak traktiran kopi susu bisa dibaca sebagai sikap sombong. Budaya punya cara halusnya sendiri untuk membuat pilihan terasa bukan pilihan. Dan di situlah letak kerumitan yang tidak akan selesai hanya dengan label berwarna di kemasan. Kebijakan Nutri Level pun baru menyasar usaha skala besar UMKM masih dikecualikan. Sementara sebagian besar dari 1.035 kedai kopi di Pontianak adalah warung kecil, gerobak dorong, kedai tanpa nama yang hanya terkenal di kalangan warga sekitar gang. Mereka yang paling banyak dikunjungi, paling dekat dengan keseharian, dan paling jauh dari jangkauan regulasi.

Kopi susu seharga dua belas ribu di pojok jalan itu tidak akan punya label apa pun dalam waktu dekat. Dan orang yang membelinya dua kali sehari juga kemungkinan tidak sedang memikirkan kadar gulanya. Bukan karena bodoh. Tapi karena tidak ada yang pernah benar-benar memberitahu mereka bahwa tegukan demi tegukan itu bisa menjadi sesuatu yang harus dicicil bukan dengan uang, tapi dengan kesehatan. Pontianak adalah kota yang tumbuh bersama kopi. Mungkin sudah waktunya percakapan di warkop itu mulai menyentuh satu topik yang selama ini kita hindari sambil menyeruput gelas ketiga: apa sebenarnya yang sedang kita minum, dan berapa lama tubuh kita sanggup diam saja.

Penulis : Muhammad Iqbal, SM

Baca Lainnya

Ramai di Warkop, Sepi di Rekening: Potret Sandwich Generation di Pontianak

7 Juli 2026 - 23:11 WIB

Surplus Produksi, Defisit Kesejahteraan: Namun Petani Indonesia Tetap Kalah di Negeri Sendiri

22 Juni 2026 - 00:51 WIB

Paradoks Pertanian Indonesia: Tulang Punggung Pangan, Namun Hidup dalam Kemiskinan

19 Juni 2026 - 01:57 WIB

Healthy Lifestyle: Momentum Emas bagi Produk Pertanian Lokal

18 Juni 2026 - 01:17 WIB

Tahun Baru Islam dan Kalimantan Barat: Merawat Harmoni di Tengah Arus Zaman

17 Juni 2026 - 13:01 WIB

Trending di Opini, Gagasan dan Analisis