Menu

Mode Gelap
KPAD Kayong Utara dan SP3APMD Koordinasi ke Polres Kubu Raya, Bahas Perkembangan Kasus Dugaan Kekerasan Santri Grand Final Pemilihan Lanceng Praben Digelar 4 April 2026 di Qubu Resort KPAD Kayong Utara dan Dinas SP3APMD Kawal Kasus Dugaan Kekerasan Santri di Kubu Raya Komitmen Reformasi Organisasi, Ratih Mutiara Resmi Calon Ketua PERADI SAI Mataram, 10 Program Prioritas Disiapkan Kematian Santri di Kubu Raya Dinilai Janggal, MW KAHMI Kalbar Dampingi Keluarga Tempuh Jalur Hukum Reuni Akbar Alumni SMA Negeri 7/1 Sungai Raya, Ajang Silaturahmi Lintas Generasi

Opini, Gagasan dan Analisis

Remaja Masjid dan Tantangan Komunikasi di Era Digital: Menjaga Dakwah di Tengah Arus Media Sosial

badge-check


					Remaja Masjid dan Tantangan Komunikasi di Era Digital: Menjaga Dakwah di Tengah Arus Media Sosial Perbesar

Gagasankalbar.com – Di era digital seperti sekarang, remaja masjid tidak hanya menjadi jamaah yang aktif dalam kegiatan keagamaan secara fisik, tetapi juga agen komunikasi digital yang memiliki peran strategis dalam membentuk citra masjid dan menyebarkan nilai-nilai Islami kepada generasi yang lebih luas.

Digitalisasi telah mentransformasikan cara kita berinteraksi, belajar, dan berdakwah; media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi ruang komunikasi utama bagi kaum muda Muslim.

Peran remaja masjid di media sosial kini bukan sekadar ikut aktif atau mengonsumsi konten, tetapi juga menciptakan konten digital yang bermakna. Mereka memiliki peluang besar untuk memperluas jangkauan dakwah dengan membuat video pengajian singkat, pesan ayat dan hadis yang kontekstual, hingga diskusi etika dan moral yang menarik bagi generasi Z.

Hal ini sejalan dengan kesimpulan bahwa media sosial membantu memperkuat peran keagamaan dan sosial masjid, terutama dalam menarik minat generasi muda.

Namun, tantangan komunikasi di era digital juga nyata. Media sosial membuka ruang yang sangat bebas, termasuk penyebaran informasi yang tidak selalu akurat atau sesuai nilai Islam. Konten hoaks, kebencian, dan perilaku negatif dapat merusak etika komunikasi seorang muslim jika tidak berhadapan dengan literasi digital yang baik.

Riset menunjukkan bahwa tanpa pembekalan etika dan pendidikan agama yang kuat, penggunaan media sosial dapat memicu pelanggaran nilai etika komunikasi Islam.

Oleh karena itu, remaja masjid perlu dibekali dengan literasi digital Islami—kemampuan untuk menilai secara kritis konten, memahami algoritma media sosial, serta memproduksi konten yang tidak hanya menarik tetapi juga benar dan beretika. Kegiatan pelatihan, workshop, hingga diskusi kelompok di masjid bisa menjadi sarana penting dalam membangun kecakapan ini.

Singkatnya, masjid remaja berada di garis depan komunikasi dakwah digital. Mereka bukan sekedar sekedar informasi konsumen, namun juga produsen pesan dakwah yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan budaya digital masa kini.

Dengan literasi media yang kuat, etika komunikasi yang matang, dan kreativitas dalam bermedia sosial, remaja masjid bisa menjadi teladan dalam menjawab tantangan komunikasi di era digital.

Oleh : Samsul
(Kepala Bidang Kominfo Remaja Mujahidin Kalbar)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Prokrastinasi Akademik Mahasiswa: Lemahnya Self-Regulation dan Normalisasi Kebiasaan Menunda

7 Maret 2026 - 16:48 WIB

Sedikit-Sedikit Kok MBG? Saat Ruang Publik Terlalu Mudah Menyederhanakan Masalah

14 Februari 2026 - 05:07 WIB

Tantangan Komunikasi di Era Digital Informasi dan Etika

3 Februari 2026 - 16:44 WIB

Momentum Hari Santri 2025: Stop Stigma, Bubarkan Pesantren?

9 Oktober 2025 - 18:25 WIB

Suhedi Kalbar

Masa Depan Penerimaan Negara di Era Digital: Kabar dari Ujung Negeri

31 Agustus 2025 - 11:14 WIB

Trending di Opini, Gagasan dan Analisis