PENGARUH KONFLIK UKRAINA-RUSIA TERHADAP KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
HMI Cabang Pontianak Soroti Dugaan Kekerasan Verbal sebagai Cermin Lemahnya Manajemen SDM SPPG dan Implementasi Kebijakan MBG Sidang Meigi Alrianda: Antara Barang Bukti dan Dugaan Pelanggaran Prosedur Pemuda Muhammadiyah Kubu Raya Sesalkan Dugaan Arogansi terhadap Pegawai Disabilitas Program MBG Kohati Cabang Pontianak: Kecam Keras Kekerasan Verbal terhadap Akuntan Difabel di SPPG Arang Limbung MTQ ke-XII Kubu Raya Resmi Dibuka, Derahman Legislator PPP Soroti Peran LPTQ soal Prestasi Wagub Kalbar Dukung KKM dan Sekolah Politik Pemuda Katolik, Siap Buka Kegiatan

Nasional

PENGARUH KONFLIK UKRAINA-RUSIA TERHADAP KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA

badge-check


					PENGARUH KONFLIK UKRAINA-RUSIA TERHADAP KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA Perbesar

GAGASANKALBAR.COM – Konflik yang terjadi antara Ukraina dan Rusia sejak 2022 terus memberikan dampak yang mendalam pada ketahanan pangan global, termasuk Indonesia. Dampak dari konflik ini tidak hanya mempengaruhi harga pangan di tingkat internasional, tetapi juga berimbas pada stabilitas harga pangan domestik, distribusi pasokan, serta sektor pertanian Indonesia secara keseluruhan.

Kenaikan Harga Pangan dan Impor :

Ukraina dan Rusia adalah dua negara penghasil utama bahan pangan global, seperti gandum, jagung, serta minyak biji bunga matahari. Sejak terjadinya invasi, gangguan terhadap rantai pasokan global semakin memperburuk kestabilan harga pangan di pasar internasional. Indonesia, yang mengimpor sebagian besar gandum dan jagung dari kedua negara tersebut, turut merasakan dampaknya.

Jika mengutip ahli Ekonomi UGM DR. Rina Oktavia, “Ketergantungan Indonesia pada impor gandum dan jagung dari Ukraina dan Rusia sangat tinggi. Sebagai akibat dari konflik, harga impor bahan pangan tersebut naik signifikan, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga bahan pangan dalam negeri,”

Gangguan Pasokan Bahan Pangan dan Efeknya pada Konsumsi Domestik :

Seiring berlanjutnya perang, distribusi pasokan bahan pangan dari Ukraina dan Rusia terganggu, baik akibat blokade pelabuhan maupun ketegangan geopolitik. Hal ini menurunkan volume pasokan komoditas yang diperdagangkan, seperti gandum, yang merupakan bahan baku utama dalam pembuatan tepung terigu di Indonesia.

Menurut Dr. Bambang Suryono, pakar pangan dari IPB menyampaikan bahwa “Selain masalah harga, yang tak kalah penting adalah ketergantungan Indonesia terhadap bahan pangan impor yang mengganggu kestabilan pasokan. Kekurangan bahan baku untuk industri pangan bisa berisiko mengganggu ketersediaan produk pangan di pasar domestik.”

Kenaikan Harga Pupuk dan Dampaknya pada Produksi Pangan Lokal :

Rusia adalah produsen pupuk terbesar di dunia. Seiring dengan dampak dari konflik tersebut, pasokan pupuk yang menjadi salah satu bahan pokok dalam sektor pertanian Indonesia juga mengalami gangguan. Kenaikan harga pupuk secara langsung mempengaruhi biaya produksi petani, yang pada gilirannya meningkatkan harga hasil pertanian.

“Pupuk adalah salah satu komponen vital dalam produksi pertanian. Kenaikan harga pupuk akan meningkatkan biaya produksi pangan lokal, sehingga harga pangan di dalam negeri semakin sulit ditekan,” ungkap Dr. Indra Setiawan, peneliti agronomi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).

Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah dan Dampaknya pada Pangan :

Ketidakpastian ekonomi global yang disebabkan oleh perang ini juga berdampak pada nilai tukar mata uang, yang turut melemahkan rupiah terhadap dolar AS. Dengan kenaikan harga barang impor, termasuk bahan pangan, sektor domestik Indonesia harus menghadapi tekanan inflasi pangan yang lebih tinggi.

Menurut analis ekonomi, Dr. Rina Oktavia, “Pelemahan nilai tukar membuat biaya impor semakin mahal, yang menyebabkan inflasi pangan. Ini berisiko memperburuk daya beli masyarakat, terutama kelompok masyarakat berpendapatan rendah yang sangat bergantung pada harga pangan yang terjangkau.”

Pentingnya Diversifikasi Sumber Pangan :

Para ahli juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber pangan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan pangan. “Meningkatkan produksi pangan lokal seperti padi, jagung, dan kedelai serta memperkuat sistem ketahanan pangan yang lebih mandiri harus menjadi prioritas pemerintah,” kata Dr. Bambang Suryono.

Menanti Tindak Lanjut Pemerintah :

Beberapa kalangan meminta agar pemerintah segera mengambil langkah-langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Salah satunya adalah dengan mempercepat transformasi sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi pertanian dan peningkatan produktivitas dalam negeri. Selain itu, kebijakan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor dinilai perlu diperkuat untuk menghadapi volatilitas pasar global yang semakin tidak menentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menang Telak di Muscab II, Ratih Mutiara Pimpin PERADI SAI Mataram 2026–2030

12 April 2026 - 13:58 WIB

Negara Ambil Alih Cicilan Koperasi Merah Putih, Skema Pembiayaan Dirombak lewat PMK 15/2026

8 April 2026 - 08:51 WIB

Pernyataan Menjatuhkan Presiden Dinilai Inskonstitusional, GMKI : Jaga Stabilitas Nasional

6 April 2026 - 11:17 WIB

Komitmen Reformasi Organisasi, Ratih Mutiara Resmi Calon Ketua PERADI SAI Mataram, 10 Program Prioritas Disiapkan

30 Maret 2026 - 15:02 WIB

PP GMKI Luncurkan PBH GMKI, Dorong Pelayanan Hukum bagi Masyarakat

14 Maret 2026 - 08:18 WIB

Trending di Nasional