Menu

Mode Gelap
Densus 88 Apresiasi Pemuda Muhammadiyah Kubu Raya Gelar “Refleksi Kebangsaan Ramadhan” Guna Tangkal Radikalisme Pemkab Kubu Raya Apresiasi Pemuda Muhammadiyah Kubu Raya Jadi Garda Terdepan Cegah Intoleransi dan Radikalisme Dukung Aturan Pemerintah Pusat Terkait Pembatasan Medsos Anak, Kesbangpol Kubu Raya Siap Kawal Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 Prokrastinasi Akademik Mahasiswa: Lemahnya Self-Regulation dan Normalisasi Kebiasaan Menunda Tim SAR Gabungan Temukan Korban Tenggelam di Sungai Ramah Kapuas Hulu ​Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadan, Bendahara Umum PSI Kunjungi Sejumlah Pesantren

Pontianak

KUHP Baru Tegaskan Sanksi Pidana Nikah Siri dan Poligami Ilegal, Akademisi Tekankan Perlindungan Perempuan dan Anak

badge-check


					KUHP Baru Tegaskan Sanksi Pidana Nikah Siri dan Poligami Ilegal, Akademisi Tekankan Perlindungan Perempuan dan Anak Perbesar

Gagasankalbar.com — Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023, negara menegaskan sikap tegas terhadap praktik nikah siri dan poligami yang dilakukan tanpa prosedur hukum yang sah. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut kini dapat dikenai sanksi pidana dengan ancaman hukuman penjara maksimal hingga 6 tahun.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Pontianak, Hazilina, saat ditemui pada Selasa, 20 Januari 2026, menyampaikan pandangannya bahwa pernikahan dan poligami pada dasarnya berada dalam ranah hukum privat. Namun demikian, negara memiliki kewenangan untuk mengatur aspek legalnya demi menjamin kepastian dan perlindungan hukum.

“Sebagai pengajar hukum keluarga, saya memandang bahwa pendekatan KUHP baru terhadap poligami tidak dimaksudkan untuk melarang poligami, melainkan untuk menertibkan pelaksanaannya. Poligami tetap dimungkinkan sepanjang memenuhi syarat hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkawinan,” ujar Hazilina.

Ia menjelaskan, melalui KUHP baru, negara menegaskan bahwa praktik poligami yang dilakukan tanpa izin pengadilan, tanpa persetujuan istri, atau yang mengandung unsur penipuan merupakan pelanggaran serius yang dapat dikenai sanksi pidana. Pengaturan tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum, baik bagi istri maupun anak.

Lebih lanjut, Hazilina menyoroti urgensi pengaturan nikah siri dalam KUHP baru. Menurutnya, meskipun nikah siri dapat memenuhi syarat keagamaan, dalam praktiknya terkadang menimbulkan persoalan hukum karena tidak memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-hak keperdataan dalam perkawinan.

“Pengaturan nikah siri dalam KUHP baru bertujuan untuk menjamin kepastian dan perlindungan hukum, khususnya bagi istri dan anak. Ini bukan dimaksudkan untuk mengintervensi ranah agama, melainkan untuk mencegah praktik nikah siri dimanfaatkan sebagai sarana penghindaran kewajiban hukum,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa penerapan ketentuan pidana tersebut harus dilakukan secara proporsional agar tidak berujung pada kriminalisasi berlebihan. Dalam konteks Indonesia sebagai negara hukum, regulasi terkait perkawinan pada dasarnya diarahkan untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi perempuan dan anak.

“Penerapannya harus menekankan prinsip proporsionalitas dan ultimum remedium, sehingga hukum pidana berfungsi sebagai instrumen penunjang hukum keluarga, bukan sebagai alat kriminalisasi,” pungkas Hazilina.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DPD REI Kalbar Apresiasi Kunjungan Menteri PKP ke Pontianak dan Singkawang

6 Maret 2026 - 12:40 WIB

Kuasa Hukum Sebut Penetapan Ketua Bawaslu Pontianak sebagai Tersangka Terlalu Dini

4 Maret 2026 - 16:24 WIB

Polres Kubu Raya Gelar Buka Puasa Bersama OKP, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

4 Maret 2026 - 15:54 WIB

Kantor SAR Pontianak Raih Penghargaan UPT Kelas A Terbaik Pertama

3 Maret 2026 - 16:15 WIB

Universitas Muhammadiyah Pontianak Gandeng Kanwil Pemasyarakatan Provinsi Kalimantan Barat, Wujudkan Pembinaan Produktif Berbasis Ketahanan Pangan

2 Maret 2026 - 16:14 WIB

Trending di Pontianak