Breaking News

Pontianak

KUHP Baru Tegaskan Sanksi Pidana Nikah Siri dan Poligami Ilegal, Akademisi Tekankan Perlindungan Perempuan dan Anak

badge-check

KUHP Baru Tegaskan Sanksi Pidana Nikah Siri dan Poligami Ilegal, Akademisi Tekankan Perlindungan Perempuan dan Anak Perbesar

Gagasankalbar.com — Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023, negara menegaskan sikap tegas terhadap praktik nikah siri dan poligami yang dilakukan tanpa prosedur hukum yang sah. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut kini dapat dikenai sanksi pidana dengan ancaman hukuman penjara maksimal hingga 6 tahun.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Pontianak, Hazilina, saat ditemui pada Selasa, 20 Januari 2026, menyampaikan pandangannya bahwa pernikahan dan poligami pada dasarnya berada dalam ranah hukum privat. Namun demikian, negara memiliki kewenangan untuk mengatur aspek legalnya demi menjamin kepastian dan perlindungan hukum.

“Sebagai pengajar hukum keluarga, saya memandang bahwa pendekatan KUHP baru terhadap poligami tidak dimaksudkan untuk melarang poligami, melainkan untuk menertibkan pelaksanaannya. Poligami tetap dimungkinkan sepanjang memenuhi syarat hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkawinan,” ujar Hazilina.

Ia menjelaskan, melalui KUHP baru, negara menegaskan bahwa praktik poligami yang dilakukan tanpa izin pengadilan, tanpa persetujuan istri, atau yang mengandung unsur penipuan merupakan pelanggaran serius yang dapat dikenai sanksi pidana. Pengaturan tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum, baik bagi istri maupun anak.

Lebih lanjut, Hazilina menyoroti urgensi pengaturan nikah siri dalam KUHP baru. Menurutnya, meskipun nikah siri dapat memenuhi syarat keagamaan, dalam praktiknya terkadang menimbulkan persoalan hukum karena tidak memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-hak keperdataan dalam perkawinan.

“Pengaturan nikah siri dalam KUHP baru bertujuan untuk menjamin kepastian dan perlindungan hukum, khususnya bagi istri dan anak. Ini bukan dimaksudkan untuk mengintervensi ranah agama, melainkan untuk mencegah praktik nikah siri dimanfaatkan sebagai sarana penghindaran kewajiban hukum,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa penerapan ketentuan pidana tersebut harus dilakukan secara proporsional agar tidak berujung pada kriminalisasi berlebihan. Dalam konteks Indonesia sebagai negara hukum, regulasi terkait perkawinan pada dasarnya diarahkan untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi perempuan dan anak.

“Penerapannya harus menekankan prinsip proporsionalitas dan ultimum remedium, sehingga hukum pidana berfungsi sebagai instrumen penunjang hukum keluarga, bukan sebagai alat kriminalisasi,” pungkas Hazilina.

Tinggalkan Balasan

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Hazilina Kembangkan Model SIBER-PULIH untuk Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak di Ruang Digital

13 Okt 2026 - 01:58 WIB

Hazilina Kembangkan Model SIBER-PULIH untuk Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak di Ruang Digital

HMI Pontianak Soroti Dugaan Intimidasi Ketua IMM, Desak Kebebasan Berpendapat Dilindungi

11 Okt 2026 - 05:22 WIB

HMI Pontianak Soroti Dugaan Intimidasi Ketua IMM, Desak Kebebasan Berpendapat Dilindungi

Hampir Dua Bulan Ditutup, CFD Pontianak Kembali Dipadati Warga

7 Okt 2026 - 00:27 WIB

Hampir Dua Bulan Ditutup, CFD Pontianak Kembali Dipadati Warga

Parkir di Trotoar Saat CFD, Dishub Pontianak Mulai Tempel Stiker Peringatan

7 Okt 2026 - 00:24 WIB

Parkir di Trotoar Saat CFD, Dishub Pontianak Mulai Tempel Stiker Peringatan

BEM KM UM Pontianak Kabinet Katalisator Salurkan Sembako ke Warga Limbung

7 Okt 2026 - 00:15 WIB

BEM KM UM Pontianak Kabinet Katalisator Salurkan Sembako ke Warga Limbung
Trending di Pontianak