KUHP Baru Tegaskan Sanksi Pidana Nikah Siri dan Poligami Ilegal, Akademisi Tekankan Perlindungan Perempuan dan Anak - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
Antusiasme Warga Serbu Bazar Sembako Murah Perumda Aneka Usaha Menanjak Bahagia, Seluruh Paket Ludes Terjual Semarak HUT ke-19 Kubu Raya, Puskesmas Punggur Ajak Warga Hidup Sehat Lewat Senam GERMAS Derahman: Semangat Gotong Royong Jadi Kekuatan Hadapi Tantangan Fiskal Kubu Raya Banggar DPR RI Dorong Bank Indonesia Kalbar Perkuat Deteksi Dini Ekonomi dan Pengembangan UMKM Daerah Banggar DPR RI Dorong Penguatan Transfer ke Daerah dan Optimalisasi APBN untuk Pembangunan Kalimantan Barat Nelayan Hilang Kontak di perairan Teluk Cina Pulau Lemukutan di temukan dalam keadaan selamat oleh tim SAR Gabungan

Pontianak

KUHP Baru Tegaskan Sanksi Pidana Nikah Siri dan Poligami Ilegal, Akademisi Tekankan Perlindungan Perempuan dan Anak

badge-check


KUHP Baru Tegaskan Sanksi Pidana Nikah Siri dan Poligami Ilegal, Akademisi Tekankan Perlindungan Perempuan dan Anak Perbesar

Gagasankalbar.com — Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023, negara menegaskan sikap tegas terhadap praktik nikah siri dan poligami yang dilakukan tanpa prosedur hukum yang sah. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut kini dapat dikenai sanksi pidana dengan ancaman hukuman penjara maksimal hingga 6 tahun.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Pontianak, Hazilina, saat ditemui pada Selasa, 20 Januari 2026, menyampaikan pandangannya bahwa pernikahan dan poligami pada dasarnya berada dalam ranah hukum privat. Namun demikian, negara memiliki kewenangan untuk mengatur aspek legalnya demi menjamin kepastian dan perlindungan hukum.

“Sebagai pengajar hukum keluarga, saya memandang bahwa pendekatan KUHP baru terhadap poligami tidak dimaksudkan untuk melarang poligami, melainkan untuk menertibkan pelaksanaannya. Poligami tetap dimungkinkan sepanjang memenuhi syarat hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkawinan,” ujar Hazilina.

Ia menjelaskan, melalui KUHP baru, negara menegaskan bahwa praktik poligami yang dilakukan tanpa izin pengadilan, tanpa persetujuan istri, atau yang mengandung unsur penipuan merupakan pelanggaran serius yang dapat dikenai sanksi pidana. Pengaturan tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum, baik bagi istri maupun anak.

Lebih lanjut, Hazilina menyoroti urgensi pengaturan nikah siri dalam KUHP baru. Menurutnya, meskipun nikah siri dapat memenuhi syarat keagamaan, dalam praktiknya terkadang menimbulkan persoalan hukum karena tidak memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-hak keperdataan dalam perkawinan.

“Pengaturan nikah siri dalam KUHP baru bertujuan untuk menjamin kepastian dan perlindungan hukum, khususnya bagi istri dan anak. Ini bukan dimaksudkan untuk mengintervensi ranah agama, melainkan untuk mencegah praktik nikah siri dimanfaatkan sebagai sarana penghindaran kewajiban hukum,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa penerapan ketentuan pidana tersebut harus dilakukan secara proporsional agar tidak berujung pada kriminalisasi berlebihan. Dalam konteks Indonesia sebagai negara hukum, regulasi terkait perkawinan pada dasarnya diarahkan untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi perempuan dan anak.

“Penerapannya harus menekankan prinsip proporsionalitas dan ultimum remedium, sehingga hukum pidana berfungsi sebagai instrumen penunjang hukum keluarga, bukan sebagai alat kriminalisasi,” pungkas Hazilina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polda Kalbar Hadiri Pembukaan Muswil FL2MI di Polnep Ajak Pemuda Kawal Kebijakan Secara Konstruktif

12 Juli 2026 - 09:39 WIB

Jelang Temu Karya, Keterbukaan Penjaringan Calon Ketua Karang Taruna Kabupateen/Kota Jadi Harapan Kader

8 Juli 2026 - 09:11 WIB

Solmadapar Desak PLN Kalbar Berikan Kompensasi atas Pemadaman Listrik

7 Juli 2026 - 23:58 WIB

Mantan Anggota Polres Melawi Divonis 10 Tahun Penjara dalam Kasus Dugaan Narkotika, Kuasa Hukum Siapkan Banding

6 Juli 2026 - 12:26 WIB

Soroti Pemadaman Listrik di Kalbar, Solmadapar Tuntut Transparansi dan Kompensasi untuk Pelanggan

5 Juli 2026 - 23:06 WIB

Trending di Pontianak