Breaking News

Pontianak

Ketua Himpunan Difabel Muhammadiyah Kecam Dugaan Arogan Oknum SPPG terhadap Pekerja Disabilitas di Arang Limbung

badge-check

Ketua Himpunan Difabel Muhammadiyah Kecam Dugaan Arogan Oknum SPPG terhadap Pekerja Disabilitas di Arang LimbungPerbesar

Gagasankalbar.com – Ketua Himpunan Difabel Muhammadiyah Kalimantan Barat, Said Alkudri, angkat suara terkait dugaan tindakan arogan dan makian yang dialami seorang pekerja disabilitas dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Arang Limbung.

Korban diketahui bernama Nafila, yang disebut kerap menerima perlakuan tidak menyenangkan dari oknum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berinisial BWF.

Ditemui pada Rabu (15/4/2026), Said menyampaikan kecaman keras atas insiden tersebut. Ia menilai tindakan tersebut sangat disayangkan, terlebih program MBG merupakan bagian dari prioritas nasional yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan inklusivitas.

“Izin, yang pertama saya sampaikan adalah saya sangat mengecam tindakan ini, dan sangat menyayangkan, di mana program prioritas nasional diisi oleh oknum yang tidak dapat mengontrol emosi dengan baik,” tegas Said.

Ia menambahkan, selama ini berbagai pihak telah berupaya membangun Kalimantan Barat yang inklusif dan bebas stigma terhadap penyandang disabilitas. Kolaborasi lintas sektor juga telah dilakukan untuk membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi kelompok difabel, termasuk dalam dunia kerja.

“Kita sudah berusaha melakukan kolaborasi dengan banyak pihak untuk mewujudkan Kalbar inklusif dan bebas stigma. Kita juga mengapresiasi SPPG yang sudah menerima disabilitas sebagai pekerja atau relawan. Namun, kemudian kita mendapatkan cerita yang tidak baik tentang ekosistem pekerjaan terhadap teman-teman disabilitas,” lanjutnya.

Menurut Said, perlakuan yang dialami korban bertentangan dengan semangat perlindungan hukum terhadap penyandang disabilitas yang telah diatur dalam perundang-undangan. Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan oleh penyandang disabilitas adalah kesempatan untuk membuktikan kemampuan mereka, bukan diskriminasi.

“Padahal sudah ada undang-undang disabilitas, sudah ada perlindungan hukum terhadap pekerja disabilitas. Yang kita butuhkan hanya kesempatan pembuktian untuk pekerja disabilitas melakukan aktivitasnya,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, pihaknya telah memberikan pendampingan kepada korban dan menempuh jalur hukum. Said menyebut, laporan resmi telah dilayangkan melalui kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Universitas Muhammadiyah Pontianak.

“Langkah konkret yang sudah kita lakukan adalah mendampingi korban melalui kuasa hukum dari LBH Universitas Muhammadiyah Pontianak, serta melaporkan dugaan tindak pidana penghinaan terhadap korban,” pungkasnya.

Kasus ini diharapkan menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak, khususnya dalam memastikan lingkungan kerja yang aman, inklusif, dan bebas dari diskriminasi bagi penyandang disabilitas.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Bedah Buku Sejarah HMI Cabang Pontianak, Momentum Milad ke-67 untuk Merawat Ingatan dan Identitas Kader

17 Okt 2026 - 21:41 WIB

Bedah Buku Sejarah HMI Cabang Pontianak, Momentum Milad ke-67 untuk Merawat Ingatan dan Identitas Kader

104 Lulusan FIKPsi UM Pontianak Siap Hadapi Dunia Kerja

16 Okt 2026 - 23:50 WIB

104 Lulusan FIKPsi UM Pontianak Siap Hadapi Dunia Kerja

72 Mahasiswa Hukum UM Pontianak Yudisium, Tiga Lulusan Raih IPK Tertinggi

16 Okt 2026 - 23:47 WIB

72 Mahasiswa Hukum UM Pontianak Yudisium, Tiga Lulusan Raih IPK Tertinggi

HMI Pontianak Desak Pemkot Bertindak Tegas, Evaluasi Dampak Pengaturan Angkutan di Jembatan Kapuas I

14 Okt 2026 - 02:56 WIB

HMI Pontianak Desak Pemkot Bertindak Tegas, Evaluasi Dampak Pengaturan Angkutan di Jembatan Kapuas I

Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, PW Fatayat NU Kalbar dan PTA Pontianak Siapkan Sinergi Program Berbasis Literasi Hukum

14 Okt 2026 - 02:30 WIB

Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, PW Fatayat NU Kalbar dan PTA Pontianak Siapkan Sinergi Program Berbasis Literasi Hukum
Trending di Pontianak