KUBU RAYA, GAGASANKALBAR.COM – Janji manis proyek penyediaan air bersih PDAM Kubu Raya yang sempat menghembuskan harapan besar bagi warga Komplek Bhayangkara Permai dan Nuansa Serdam Residence, Kecamatan Sungai Raya, kini tinggal kenangan. Enam tahun sejak pemasangan pipa pada 2019, air bersih tak kunjung mengalir ke rumah-rumah warga.
Pipa-pipa yang terpasang rapi kini hanya menjadi saksi bisu janji-janji yang tak pernah ditepati. Warga mengaku kecewa dan merasa telah dibohongi. Yayan, salah satu warga yang rumahnya sudah terpasang meteran air sejak awal proyek.
“Pemasangan sampai ke dalam kompleks, sampai ke rumah-rumah. Tapi airnya? Nggak ada ujung pangkalnya. Dulu sempat senang, sekarang malah tambah kesal!” ujar Yayan, Sabtu (26/4/2025).
Menurutnya, proyek tersebut hanya berhenti di pemasangan fisik pipa tanpa kelanjutan yang jelas. “Dari 2019 sampai sekarang cuma kilometernya saja yang ada. Airnya entah kemana, hidup segan mati tak mau,” tambahnya.
Ironisnya, ketika warga menanyakan alasan air tak kunjung mengalir, mereka hanya diberi jawaban bahwa kuota minta di tambah. Penjelasan ini dianggap tak masuk akal, mengingat layanan air bersih belum pernah dirasakan warga.
“Katanya kuota harus ditambah, padahal airnya saja belum pernah dirasakan! Kuota macam apa itu? Barangnya saja belum jelas kok bisa bicara soal kuota?” ucap Yayan geram.
Hingga kini, warga masih mengandalkan air tanah berwarna hitam pekat untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi tanah gambut di kawasan tersebut membuat kualitas air sangat memprihatinkan.
“Kami terpaksa mandi, masak, bahkan minum dari air yang kualitasnya jauh dari layak,” ungkapnya.
Pipa-pipa PDAM yang terbentang sepanjang kompleks kini hanya menjadi monumen bisu atas kegagalan proyek infrastruktur. Dulu disebut-sebut sebagai proyek percontohan, kini justru menjadi contoh buruk tata kelola layanan publik.
Warga pun berharap adanya perubahan nyata seiring pergantian kepemimpinan di Kabupaten Kubu Raya.
“Kami sangat mengharapkan pemerintahan yang baru ini bisa bantu. Tolong, air bersih itu kebutuhan hidup kami,” tutupnya Yayan penuh harap. RED










