Menu ✖

Breaking News

Berita Kalbar

Densus 88: Anak Rentan Terpapar Radikalisme Melalui Media Sosial dan Komunitas Online

badge-check

Densus 88: Anak Rentan Terpapar Radikalisme Melalui Media Sosial dan Komunitas OnlinePerbesar

KUBU RAYA – Penyebaran paham radikalisme terhadap anak tidak selalu dimulai dari ajakan melakukan kekerasan. Prosesnya bisa berlangsung perlahan melalui konten digital, komunitas online, hingga terbentuknya pola pikir yang membenarkan kebencian dan tindakan ekstrem.

 

Hal tersebut disampaikan Muhammad Mursid dari Unit Pencegahan Satgaswil Kalimantan Barat Densus 88 AT Polri dalam Dialog Kebangsaan yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kubu Raya bekerja sama dengan Polres Kubu Raya, Minggu (8/11/2026), di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Kubu Raya.

 

Dialog yang menjadi bagian dari rangkaian Milad Muhammadiyah ke-114 itu mengangkat tema “Peran Masyarakat dan Organisasi Pemuda dalam Melindungi Anak dari Paham Radikalisme dan Ancaman Kejahatan Siber”.

 

Mursid menjelaskan, masyarakat perlu memahami bahwa anak yang terpapar paham radikalisme tidak bisa dinilai hanya dari penampilan, cara berpakaian, aktivitas keagamaan, ataupun perbedaan pandangan. Perubahan perilaku dan pola pikir justru menjadi hal yang perlu diperhatikan.

 

Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain anak mulai menarik diri dari lingkungan sosial, menunjukkan kebencian berlebihan terhadap kelompok berbeda, membenarkan kekerasan, hingga mengagungkan pelaku terorisme.

 

Namun, tanda-tanda tersebut tidak bisa langsung dijadikan kesimpulan bahwa seorang anak telah terpapar radikalisme. Penilaian harus mempertimbangkan kondisi keluarga, lingkungan pergaulan, psikologis, dan pengalaman sosial anak.

 

“Prosesnya sering bertahap, mulai dari konsumsi konten, ajakan bergabung ke dalam komunitas, hingga akhirnya membenarkan aksi kekerasan. Karena itu, kita perlu melihat perubahan perilaku dan pola pikir anak secara menyeluruh, bukan menilai dari penampilan atau aktivitas keagamaannya,” kata Mursid.

 

Ia menyebutkan ada tiga faktor utama yang dapat meningkatkan kerentanan anak, yakni psikologis, lingkungan sosial, dan ruang digital. Anak yang sedang mencari jati diri dan membutuhkan pengakuan bisa lebih mudah dipengaruhi, terlebih ketika mengalami perundungan, pengucilan, atau kurang mendapatkan perhatian keluarga.

 

Di ruang digital, propaganda dapat disebarkan melalui video, media sosial, dan komunitas online yang dikemas menarik secara emosional. Kondisi ini membuat pengawasan terhadap aktivitas digital anak perlu menjadi perhatian bersama.

 

Mursid juga mengingatkan mahasiswa dan Muhammadiyah agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya, terpancing provokasi, maupun menerima ajakan komunitas yang mengarah pada intoleransi dan kekerasan.

 

“Kami berharap organisasi mahasiswa dan Muhammadiyah Kubu Raya dapat menjadi mitra strategis dalam pencegahan, khususnya membangun literasi digital, memperkuat toleransi, serta menyebarkan narasi Islam yang damai dan moderat di masyarakat maupun ruang digital,” ujarnya.

 

Menurutnya, organisasi kepemudaan tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga harus mampu melahirkan pemikiran kritis dan gerakan positif untuk melindungi generasi muda.

 

Upaya melindungi anak dari radikalisme dan kejahatan siber membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, serta organisasi kepemudaan. Dengan komunikasi dan pengawasan yang baik, anak diharapkan mampu mengenali propaganda, menghindari jebakan kejahatan digital, dan menggunakan media sosial secara bijak.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

GMKI Pontianak Buka Posko Pengaduan Sekolah Rakyat, Dorong Evaluasi Pengawasan dan Perlindungan Anak

8 Nov 2026 - 06:19 WIB

GMKI Pontianak Buka Posko Pengaduan Sekolah Rakyat, Dorong Evaluasi Pengawasan dan Perlindungan Anak

Muhammadiyah Kubu Raya Dorong Peran Pemuda Lindungi Anak dari Radikalisme dan Kejahatan Siber

8 Nov 2026 - 06:15 WIB

Muhammadiyah Kubu Raya Dorong Peran Pemuda Lindungi Anak dari Radikalisme dan Kejahatan Siber

GMKI Soroti Dugaan Kekerasan Seksual di Sekolah Rakyat Pontianak, Desak Pemerintah Bertanggung Jawab

2 Nov 2026 - 00:16 WIB

GMKI Soroti Dugaan Kekerasan Seksual di Sekolah Rakyat Pontianak, Desak Pemerintah Bertanggung Jawab

Sumpah Pemuda Jadi Momentum Kritik, Cipayung Plus Kalbar Layangkan Tujuh Tuntutan kepada Pemerintah

29 Okt 2026 - 00:14 WIB

Sumpah Pemuda Jadi Momentum Kritik, Cipayung Plus Kalbar Layangkan Tujuh Tuntutan kepada Pemerintah

Lazismu Kalbar Gelar Layanan Kesehatan Gratis dan Bagikan Bingkisan kepada 150 Peserta Terdampak Karhutla

27 Okt 2026 - 01:59 WIB

Lazismu Kalbar Gelar Layanan Kesehatan Gratis dan Bagikan Bingkisan kepada 150 Peserta Terdampak Karhutla
Trending di Berita Kalbar