Gagasankalbar.com – Menjelang suksesi kepemimpinan IAIN Pontianak periode 2026–2030, nama Hermansyah mulai menjadi salah satu figur akademik yang menarik diperbincangkan. Sosok guru besar yang dikenal sebagai intelektual kampus itu dinilai memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan institusi, pengembangan jejaring, hingga membaca arah masa depan pendidikan tinggi Islam di Kalimantan Barat.
Rekam jejak Hermansyah di lingkungan IAIN Pontianak terbilang matang. Sejak mengabdi pada 1998, ia telah melewati berbagai fase penting perkembangan kelembagaan kampus. Sejumlah jabatan strategis pernah diembannya, mulai dari Wakil Ketua STAIN Bidang Kemahasiswaan, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, hingga Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pemahaman yang kuat terhadap dinamika kampus, baik dari sisi akademik, tata kelola kelembagaan, maupun pengembangan sumber daya manusia.
Selain pengalaman birokrasi akademik, kekuatan Hermansyah juga terletak pada fondasi keilmuan yang dimilikinya. Sebagai lulusan doktoral Universiti Kebangsaan Malaysia, ia dikenal memiliki perhatian besar terhadap kajian Islam, kebudayaan Melayu, etnisitas, masyarakat perbatasan, serta kearifan lokal Borneo.
Sejumlah karya akademiknya banyak membahas Islam pedalaman Kalimantan Barat, tasawuf, budaya Melayu, harmoni sosial, hingga kehidupan masyarakat perbatasan. Konsistensi intelektual tersebut dinilai menjadi modal penting bagi IAIN Pontianak yang tengah bergerak menuju transformasi lebih besar sebagai kampus Islam yang berakar pada identitas lokal, namun berorientasi global.
Dalam kontestasi gagasan kepemimpinan, Hermansyah mengusung visi “IAIN Pontianak Mesra, Mustika, Berjaya.” Visi tersebut dinilai memiliki daya simbolik yang kuat sekaligus menggambarkan arah pembangunan kampus ke depan.
“Mesra” dimaknai sebagai kampus yang humanis, menjunjung ukhuwah, dan saling menghormati. “Mustika” melambangkan kekuatan ilmu pengetahuan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Sedangkan “Berjaya” menjadi cita-cita menjadikan IAIN Pontianak sebagai kampus unggul, berprestasi, dan memiliki reputasi gemilang.
Visi itu dinilai relevan dengan kebutuhan IAIN Pontianak saat ini, terutama dalam menghadapi agenda transformasi menuju Universitas Islam Negeri (UIN). Dalam gagasan Hermansyah, perubahan status kelembagaan tidak boleh berhenti pada aspek administratif semata, melainkan harus menjadi momentum lompatan kualitas akademik dan kelembagaan.
Ia mendorong penguatan akademik, perluasan fakultas berbasis sains dan teknologi, peningkatan akreditasi, penambahan guru besar, serta penguatan infrastruktur akademik sebagai bagian dari transformasi tersebut.
Di sisi lain, Hermansyah juga dinilai mampu membaca tantangan global yang kini dihadapi dunia pendidikan tinggi. Perkembangan Society 5.0, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, dan kolaborasi internasional menjadi bagian penting dari arah pemikirannya.
Karena itu, ia menawarkan model pendidikan integratif yang menghubungkan ilmu keislaman dengan sains, teknologi, ekonomi hijau, literasi digital, dan keberlanjutan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kuat dalam keilmuan agama, tetapi juga siap menghadapi kebutuhan zaman.
Sebagai perguruan tinggi Islam yang berada di Kalimantan Barat, IAIN Pontianak dinilai memiliki posisi strategis karena berbatasan langsung dengan Malaysia dan dekat dengan Brunei Darussalam. Melihat posisi tersebut, Hermansyah menawarkan gagasan menjadikan IAIN/UIN Pontianak sebagai hub akademik Borneo melalui penguatan kerja sama internasional.
Konsep yang ditawarkan meliputi pengembangan twin degree, joint research, mobilitas dosen dan mahasiswa, hingga program visiting professor dengan jejaring regional ASEAN. Gagasan tersebut menunjukkan orientasi kepemimpinan yang terbuka terhadap kolaborasi internasional dan tidak hanya berfokus pada pengembangan internal kampus.
Dalam bidang riset, Hermansyah juga mendorong penguatan tema-tema khas Kalimantan Barat seperti masyarakat perbatasan, moderasi beragama, ekonomi syariah regional, pembangunan berkelanjutan, serta kearifan lokal Borneo. Tema-tema tersebut dinilai memiliki nilai strategis dalam percakapan akademik global sekaligus memperkuat identitas keilmuan kampus.
Tak hanya itu, tata kelola modern juga menjadi perhatian dalam visi kepemimpinannya. Digitalisasi layanan kampus melalui smart campus, e-office, e-learning, e-budgeting, transparansi berbasis data, hingga peningkatan kepuasan layanan menjadi bagian dari agenda transformasi yang ditawarkan.
Dengan rekam jejak akademik yang kuat, pengalaman kelembagaan yang panjang, jejaring yang luas, serta visi transformasional yang terukur, Hermansyah dinilai memiliki profil yang layak diperhitungkan dalam bursa calon Rektor IAIN Pontianak periode 2026–2030.
Ia menawarkan model kepemimpinan yang tenang, visioner, dan berbasis peta jalan yang jelas, dengan tetap berpijak pada akar lokal Kalimantan Barat namun memiliki orientasi menuju panggung akademik regional dan global.
Jika IAIN Pontianak ingin memasuki fase baru sebagai kampus Islam yang unggul, modern, ramah, dan berpengaruh di kawasan Borneo-ASEAN, maka gagasan “Mesra, Mustika, Berjaya” dapat dibaca sebagai tawaran kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan zaman: membangun kampus dengan kekuatan ilmu, kejernihan tata kelola, kebijaksanaan sosial, dan martabat akademik.










