Gagasankalbar.com – Sejumlah anak muda di Pontianak menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” pada Minggu, 19 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Giat Kopi ini diselenggarakan oleh Jaringan Rumah Diskusi dan dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai latar belakang.
Film ini disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Paju Dale, serta diproduksi melalui kolaborasi sejumlah lembaga, di antaranya Watchdoc dan Greenpeace Indonesia. Film tersebut menyoroti perjuangan masyarakat adat Papua Selatan, seperti suku Awyu, Muyu, Yei, dan Marind dalam mempertahankan hutan dan tanah leluhur mereka.
Selain menjadi ruang apresiasi film, kegiatan ini juga menjadi wadah refleksi terhadap berbagai isu sosial yang diangkat, khususnya terkait kondisi di Papua. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pandangan kritis dari peserta.
Panitia penyelenggara, Aris Ismail, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menghadirkan ruang dialog yang mendorong kesadaran kritis.
“Film bukan sekadar tontonan, tapi juga bisa menjadi bahan refleksi untuk melihat realitas sosial di sekitar kita,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tingginya antusiasme peserta menunjukkan ruang-ruang diskusi seperti ini masih sangat dibutuhkan dan akan terus diupayakan menjadi agenda rutin.
Salah satu peserta, Iqbal dari Solmadapar, mengatakan bahwa film tersebut memberikan gambaran kuat tentang ketidakadilan yang terjadi di Papua.
“Film ini sangat menarik karena memperlihatkan ketidakadilan di tanah Papua dan memantik masyarakat untuk berpikir terbuka, kritis, dan objektif terhadap kondisi di daerah masing-masing,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa Papua bukanlah wilayah kosong yang dapat diperlakukan semata sebagai objek pembangunan. Menurutnya, kebijakan pembangunan yang tidak berpihak justru berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat lokal, termasuk ekspansi lahan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak sejalan dengan narasi kemajuan.
Di akhir kegiatan, para peserta nobar secara bersama-sama menyuarakan seruan “Papua Bukan Tanah Kosong” sebagai bentuk refleksi sekaligus sikap atas isu yang diangkat dalam film.
Melalui kegiatan ini, Jaringan Rumah Diskusi berharap dapat terus menghadirkan ruang-ruang diskusi yang mendorong literasi kritis dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.










