Jaringan Rumah Diskusi Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi”, Puluhan Pemuda Pontianak Serukan “Papua Bukan Tanah Kosong” - GAGASAN KALBAR

Menu

Mode Gelap
IMABA KALBAR Gelar Pelatihan Kebendaharaan, Dorong Tata Kelola Keuangan Organisasi yang Transparan, Akuntabel, dan Profesional Tim SAR Gabungan Temukan Warga Hilang di Ketapang dalam Keadaan Selamat PWM Kalbar dan BPJS Ketenagakerjaan Jalin Kerja Sama Perluas Perlindungan Pekerja Amal Usaha Muhammadiyah SatuMu Jadi Instrumen Penguatan Cabang dan Ranting Muhammadiyah di Kalbar Tanamkan Nilai Pancasila, Yayasan Sepakat Hadirkan Motivasi bagi Anak Binaan LPKA Kesetiaan & Pengkhianatan : Sebuah Ulasan & Renungan Film The King, 2019.

Kalimantan Barat

Jaringan Rumah Diskusi Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi”, Puluhan Pemuda Pontianak Serukan “Papua Bukan Tanah Kosong”

badge-check


Jaringan Rumah Diskusi Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi”, Puluhan Pemuda Pontianak Serukan “Papua Bukan Tanah Kosong” Perbesar

Gagasankalbar.com – Sejumlah anak muda di Pontianak menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” pada Minggu, 19 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Giat Kopi ini diselenggarakan oleh Jaringan Rumah Diskusi dan dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai latar belakang.

Film ini disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Paju Dale, serta diproduksi melalui kolaborasi sejumlah lembaga, di antaranya Watchdoc dan Greenpeace Indonesia. Film tersebut menyoroti perjuangan masyarakat adat Papua Selatan, seperti suku Awyu, Muyu, Yei, dan Marind dalam mempertahankan hutan dan tanah leluhur mereka.

Selain menjadi ruang apresiasi film, kegiatan ini juga menjadi wadah refleksi terhadap berbagai isu sosial yang diangkat, khususnya terkait kondisi di Papua. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pandangan kritis dari peserta.

Panitia penyelenggara, Aris Ismail, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menghadirkan ruang dialog yang mendorong kesadaran kritis.

“Film bukan sekadar tontonan, tapi juga bisa menjadi bahan refleksi untuk melihat realitas sosial di sekitar kita,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tingginya antusiasme peserta menunjukkan ruang-ruang diskusi seperti ini masih sangat dibutuhkan dan akan terus diupayakan menjadi agenda rutin.

Salah satu peserta, Iqbal dari Solmadapar, mengatakan bahwa film tersebut memberikan gambaran kuat tentang ketidakadilan yang terjadi di Papua.

“Film ini sangat menarik karena memperlihatkan ketidakadilan di tanah Papua dan memantik masyarakat untuk berpikir terbuka, kritis, dan objektif terhadap kondisi di daerah masing-masing,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa Papua bukanlah wilayah kosong yang dapat diperlakukan semata sebagai objek pembangunan. Menurutnya, kebijakan pembangunan yang tidak berpihak justru berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat lokal, termasuk ekspansi lahan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak sejalan dengan narasi kemajuan.

Di akhir kegiatan, para peserta nobar secara bersama-sama menyuarakan seruan “Papua Bukan Tanah Kosong” sebagai bentuk refleksi sekaligus sikap atas isu yang diangkat dalam film.

Melalui kegiatan ini, Jaringan Rumah Diskusi berharap dapat terus menghadirkan ruang-ruang diskusi yang mendorong literasi kritis dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Baca Lainnya

BEM Untan dan Elemen Masyarakat Aksi di Kantor Gubernur Kalbar, Soroti Ketimpangan Buruh dan Pendidikan

4 Mei 2026 - 20:13 WIB

Masjid Raya Mujahidin Pontianak Gelar I’tikaf 10 Malam Terakhir Ramadan, Remaja Mujahidin Siapkan 1.000 Porsi Sahur

13 Maret 2026 - 01:19 WIB

Fenty Noverita Soroti 2.548 Anak Putus Sekolah di Kalbar, Faktor Ekonomi Jadi Penyebab Utama

12 Februari 2026 - 09:11 WIB

Opini Hukum: Akhlakul Karimah sebagai Fondasi Penegakan Hukum

7 Januari 2026 - 13:52 WIB

MW KAHMI Kalbar Canangkan Jalan Sehat Rutin, Siapkan Agenda Akbar Milad HMI

28 Desember 2025 - 10:43 WIB

Trending di Kalimantan Barat