Oleh : Santoso Setio
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Gagasankalbar.com – Perkembangan dunia digital terus membawa tantangan baru dalam praktik komunikasi di tengah masyarakat. Kemajuan teknologi dan dominasi media sosial membuat arus informasi bergerak semakin cepat, masif, dan sulit dibendung. Dalam kondisi ini, viralitas kerap menjadi ukuran utama perhatian publik, bahkan sering kali mengesampingkan akurasi dan verifikasi informasi.
Perubahan tersebut turut memengaruhi pola konsumsi berita masyarakat. Media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang interaksi, tetapi telah beralih fungsi sebagai sumber utama informasi. Sayangnya, tidak semua konten yang beredar disertai dengan tanggung jawab etika dan prinsip jurnalistik yang memadai, sehingga berpotensi memicu misinformasi dan disinformasi.
Ilmu Komunikasi hadir sebagai bidang keilmuan yang mengkaji fenomena ini secara kritis. Mulai dari proses produksi pesan, cara penyebaran informasi, hingga bagaimana audiens menafsirkan dan merespons pesan, semuanya menjadi bagian penting dalam memahami dinamika komunikasi di era digital. Aspek etika komunikasi, literasi media, serta peran komunikator dalam membangun kepercayaan publik menjadi fokus utama dalam menghadapi tantangan tersebut.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan berpikir kritis menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Tidak hanya sebagai konsumen informasi, publik juga berperan sebagai penyebar pesan. Oleh karena itu, tanggung jawab dalam menyampaikan informasi secara akurat, berimbang, dan etis menjadi kunci utama dalam membangun opini publik yang sehat.
Dengan komunikasi yang bertanggung jawab dan berbasis pada nilai kebenaran, ruang publik digital diharapkan dapat menjadi sarana pertukaran informasi yang edukatif, mencerahkan, serta mampu mendorong terciptanya masyarakat yang lebih kritis dan sadar media.









