Gagasankalbar.com — Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas OSO, Irvan Surya, menyampaikan orasi ilmiah dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas OSO. Di hadapan mahasiswa baru, Irvan mengajak generasi baru kampus untuk memaknai status mahasiswa bukan sekadar sebagai peserta pendidikan tinggi, melainkan sebagai insan intelektual yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa.
Orasi tersebut menjadi bagian dari sesi pengenalan BEM Universitas OSO kepada mahasiswa baru. Melalui penyampaian yang mengangkat tema kepemudaan, sejarah gerakan mahasiswa, serta tanggung jawab sosial kaum terdidik, Irvan mengajak mahasiswa baru memahami bahwa kehidupan kampus tidak hanya berbicara mengenai ruang kuliah, tetapi juga tentang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan keberanian mengambil peran di tengah masyarakat.

Dalam orasinya, Irvan mengawali refleksi dengan mengajak mahasiswa baru melihat kembali perjalanan sejarah Indonesia. Ia menyinggung peran pemuda dalam Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, gerakan mahasiswa tahun 1966, hingga Reformasi 1998 sebagai bukti bahwa perubahan besar bangsa tidak pernah terlepas dari keberanian generasi muda untuk mengambil tanggung jawab.
“Hari ini kalian datang sebagai mahasiswa baru. Tetapi pertanyaannya bukan hanya apa yang akan kalian pelajari di kampus, melainkan untuk apa kalian menjadi mahasiswa. Sejarah bangsa selalu mencatat bahwa perubahan tidak pernah jauh dari pemudanya, dan hari ini pemuda itu adalah kalian,” ujar Irvan di hadapan peserta PKKMB.
Ia menegaskan bahwa menjadi mahasiswa tidak boleh dimaknai sebagai kenaikan status sosial yang menjauhkan diri dari masyarakat. Menurutnya, mahasiswa merupakan bagian dari rakyat yang memperoleh kesempatan belajar lebih dahulu sehingga memiliki kewajiban moral untuk mengembalikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
“Menjadi mahasiswa bukan berarti naik kasta. Kita bukan kelompok yang terpisah dari masyarakat. Kita adalah bagian dari masyarakat, bagian dari rakyat yang mendapat kesempatan untuk belajar lebih dahulu. Maka jangan sampai dinding kampus menjadi tembok yang memisahkan kita dari rakyat,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Irvan juga mengutip gagasan Tan Malaka dalam Madilog yang mengingatkan kaum muda terpelajar agar tidak merasa lebih tinggi dan lebih pintar dibanding masyarakat yang bekerja dengan tangan dan tenaga mereka. Kutipan tersebut menjadi penekanan bahwa pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang semakin rendah hati, kritis, dan berpihak pada persoalan nyata di tengah kehidupan masyarakat.
Menurut Irvan, kecerdasan akademik tanpa kepedulian sosial akan kehilangan makna. Ia mengajak mahasiswa baru agar selama menjalani pendidikan tinggi tidak hanya mengejar nilai dan gelar, tetapi juga membangun keberanian untuk mendengar suara masyarakat, memahami persoalan rakyat, serta menghadirkan solusi melalui ilmu yang dipelajari.
“Apa guna gelar jika ilmu hanya berhenti di ruang kelas? Apa guna teori jika tidak pernah menyentuh kenyataan? Kelak jangan hanya bertanya saya akan menjadi apa, tetapi tanyakan pula saya akan berguna untuk siapa,” katanya.
Suasana orasi semakin khidmat ketika seluruh mahasiswa baru diajak bersama-sama mengikrarkan Sumpah Mahasiswa Indonesia sebagai simbol komitmen moral selama menjalani kehidupan kampus. Bagi Irvan, sumpah tersebut bukan sekadar rangkaian seremonial PKKMB, melainkan janji yang harus terus diingat dalam ruang kelas, organisasi, maupun ketika kelak hadir di tengah masyarakat.
Menutup orasinya, Presiden Mahasiswa Universitas OSO itu mengajak mahasiswa baru untuk mencintai Indonesia secara aktif melalui pengabdian dan kepedulian terhadap berbagai persoalan bangsa. Ia menekankan bahwa cinta tanah air tidak hanya diwujudkan melalui simbol, melainkan melalui keberanian untuk ikut memperbaiki keadaan dengan ilmu dan tindakan nyata.
“Jadilah mahasiswa yang tidak hanya pintar di dalam kelas, tetapi juga berani berpikir, berani bertanya, berani berbeda, dan berani berdiri bersama mereka yang membutuhkan. Kita belajar di kampus, tetapi kita hidup di tengah masyarakat. Maka bawalah ilmu kalian untuk memberi arti bagi rakyat, kampus, dan Indonesia,” tutup Irvan yang disambut antusias mahasiswa baru Universitas OSO.

















Komentar ditutup.