Gagasankalbar.com — Ketua Dewan Pembina Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, menghadiri puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Kalimantan Barat di Aula Asrama Haji, Jalan Letnan Jenderal Sutoyo, Kelurahan Parit Tokaya, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (11/8/2026).
Peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU tersebut dirangkai dengan agenda Sosialisasi Hasil Keputusan Kongres XVIII serta Pedoman Organisasi dan Administrasi Muslimat NU (POAM).

Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, Meneduhkan Peradaban”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum peringatan organisasi, tetapi juga menjadi wadah untuk menyuarakan sikap Muslimat NU terhadap krisis kemanusiaan dan eskalasi konflik di tingkat global.
Dalam kesempatan itu, Muslimat NU membacakan deklarasi perdamaian yang disampaikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Deklarasi tersebut disaksikan langsung oleh Khofifah Indar Parawansa dan menjadi simbol komitmen perempuan NU dalam mendukung serta mewujudkan perdamaian dunia.
Kepada awak media, Khofifah menegaskan bahwa dalam setiap peringatan Harlah, Muslimat NU secara serentak mendesak penghentian peperangan dan mengirimkan surat resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Jadi yang dilakukan di setiap Harlah Muslimat NU, antara lain kita membacakan surat. Isinya adalah seruan perdamaian, hentikan peperangan. Surat itu di semua titik kita tujukan kepada PBB,” ujar Khofifah seusai acara.
Langkah diplomasi sipil lintas negara tersebut, kata Khofifah, dilakukan melalui komunikasi dan koordinasi dengan kementerian terkait agar selaras dengan arah kebijakan luar negeri Indonesia.
“Nah, kita melalui Mbak Arifah, Menteri PPA, sudah koordinasi dengan Pak Menlu. Kalau atas nama Muslimat diizinkan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Khofifah menjelaskan bahwa surat resmi berisi desakan perdamaian tersebut telah dikirimkan kepada PBB. Namun, pihaknya masih mengupayakan kesempatan untuk menyampaikan langsung aspirasi tersebut melalui audiensi dengan perwakilan PBB.
“Ya kita sudah menyurat kepada PBB. Kita menunggu untuk mendapat kesempatan menyampaikan langsung, tapi secara email sudah kita lakukan,” terang Khofifah.
Ia menegaskan, seruan perdamaian dan penghentian perang merupakan gerakan bersama yang disampaikan kader Muslimat NU di berbagai daerah setiap kali memperingati Harlah.
“Kira-kira itu, kawan-kawan. Jadi seruan damai, seruan untuk hentikan perang, itu adalah seruan dari semua Muslimat di mana saja mereka Harlah, itu yang disampaikan. Makasih ya, kawan-kawan,” pungkasnya.

















Komentar ditutup.